Update

(Imajiner) Wawancara Eksklusif dengan Kim Jong-un tentang Situasi Terkini

UGETUGETWawancara eksklusif dengan Kim Jong-un ini hanya imajiner. Jangan dianggap serius. Tapi, mungkin memang ada beberapa kebenaran yang mencerahkan. Dan, kalau Anda terhibur membaca hasil wawancara eksklusif dengan Kim Jong-un ini, alhamdulillah.

Walaupun secara resmi bukan negara monarki, tetapi Kim Jong Un mewarisi kepemimpinan Korea Utara dari ayahnya, Kim Jong Il yang meninggal pada 2011. Karena Korut sangat tertutup, tidak banyak yang bisa diketahui tentang pemimpin muda berpipi nggemesin ini.

Bahkan, orang luar pun cuma bisa memperkirakan hari lahirnya, antara 8 Januari 1982/83 atau 5 Juli 1984. Tapi, dia diketahui memiliki seorang istri yang cantik dan gemar tas mewah.

Sebagaimana para pendahulunya, Un juga kontroversial. Barat menuduh dia mengonsolidasi kekuasaan dengan kejam, termasuk tega mengeksekusi orang-orang yang dulu pernah membantu ayah dan kakeknya, membunuh saudara tirinya sendiri, dan yang terbaru adalah memerintahkan diteruskannya uji coba nuklir.

Untuk yang terakhir ini, Un merebut perhatian dunia setelah mengadakan pesta besar dan mengumumkan bahwa Korut sudah berhasil meledakkan bom hidrogen yang menghasilkan gempa dengan skala lebih besar dari gempa Jogja 2006, yang bikin panik Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya.

Ugetuget.com berhasil mengadakan wawancara eksklusif dengan Kim Jong-unKetua Partai Pekerja Korea Utara dan Pemimpin Tertinggi Republik Demokratik Korea Utara ini. Wawancara dilakukan dengan video conference menggunakan jaringan Telk****l 4G (Un menolak koneksi LAN kabel karena menurutnya rawan disadap).

Ugetuget.com: Selamat malam, Ketua Kim. Apa kabar?

Kim Jong Un: Baik-baik, Kawan Ugetuget.com. Panggil saja saya “Un”. Saya tahu kok kalau orang luar Korea cukup bingung dengan bahasa dan nama kami. Misalnya, kalau Anda memanggil saya “Kim”, bisa-bisa separuh bangsa Korea Utara yang menjawab. Lalu, bisa juga dikira Anda sedang memanggil bapak atau kakek saya, karena nama-nama beliau juga diawali “Kim”. Kalau Anda memanggil dengan nama lengkap, yaitu “Kim Jong Un”, kepanjangan. Jadi, panggil saja saya dengan nama “Un” selama wawancara eksklusif dengan Kim Jong-un ini (saya tahu kok Anda mengejar SEO hehehe).

Ugetuget.com: Terima kasih, Memang kata kuncinya nanti wawancara eksklusif dengan Kim Jong-un. Ketua Un. Langsung saja ke pokok persoalan. Seluruh dunia ingin tahu, kenapa Anda tetap ngotot melakukan uji coba nuklir?

Un: Sebelum ke situ, pertama-tama saya ingin menjernihkan beberapa hal dulu. Orang luar, terutama Amerika Serikat dan negara-negara kapitalis lain, selalu membingkai Korut (saya tahu orang-orang di negeri Anda suka menyingkat-nyingkat, jadi kita pakai “Korut” untuk merujuk negara saya. Tidak masalah) sebagai negara yang otoriter, kejam, tertutup, komunis, dan semua kata sifat yang negatif.

Sekarang saya tanya. Apa salahnya mengatur negara dengan otoriter? Bandingkan dengan Amerika atau Inggris. Mereka membiarkan orang bebas berbicara, termasuk yang jelek-jelek, mulai dari gosip artis nggak penting sampai yang menghina pemimpin dan tokoh-tokoh yang seharusnya dihormati karena sudah banyak berjasa bagi bangsa. Suasananya jadi gaduh, ‘kan?

Korut adalah negara bekas jajahan China dan Jepang. Kami sangat banyak ketinggalan dalam berbagai bidang. Karena itu, kami harus kompak untuk mengejar ketertinggalan itu. Kalau waktu, tenaga, dan uang dihabiskan hanya untuk bergaduh saja, mana sempat kami melakukan pembangunan? Makanya kami harus satu pikiran, satu tujuan. Semua orang harus percaya kepada negara, kepada pemimpin tertinggi.

Karena itulah kami terkesan kejam karena kami berusaha meminimalkan atau menghilangkan kegaduhan itu. Tapi kami memang harus seperti itu. Kami harus menegakkan disiplin. Saya, bapak saya, dan kakek saya sering mengeksekusi orang-orang yang tak sepaham dengan negara karena mereka itu hanya menghambat pembangunan menuju masyarakat sosialis sepenuhnya.

Lalu soal menutup diri. Kami harus menutup diri agar bisa berkosentrasi dengan kerja, tidak seperti di beberapa negara lain yang terbuka sehingga pihak asing bisa turut campur urusan dalam negeri kami. Itulah beberapa hal dasar yang saya ingin agar diketahui oleh masyarakat dunia.

Ugetuget.com: Tetapi dengan sikap seperti itu, bukankah Korut memperoleh stigma negatif dan memburukkan nama Anda sendiri?

Un: Ugliness is in the eyes of the beholder. Keburukan itu ada di mata orang yang melihatnya. Rakyat saya tidak memandang saya buruk. Negara-negara yang bersahabat dengan Korut, seperti negara Anda, mungkin termakan propaganda Barat, tapi tidak mau turut campur, apalagi sampai memutuskan hubungan. Jadi, tidak masalah.

Ugetuget.com: Lalu tentang uji coba bom hidrogen terbaru kemarin?

Un: Aha, topik favorit saya. Begini, pertama-tama saya ingin berbagi kegembiraan karena uji coba itu berhasil. Sensor di China, Jepang, dan provinsi kami di selatan, yang Anda sebut sebagai Korea Selatan, merekam gempa akibat uji coba itu sekitar 6 skala richter. Sebenarnya jauh lebih besar dari itu. Sensor gempa di pesisir Korut mencatat 8 skala richter.

Nah, saya gembira sekali karena hulu ledak bom hidrogen ini, kalau dipasang di rudal balistik antarbenua yang diuji coba bulan lalu, bisa menjangkau dan melumat kota-kota besar di Jepang dan bahkan pesisir timur Amerika, misalnya New York. Banyak pihak meragukan jangkauan sejauh itu, tapi saya punya data dan kajian tepercaya. Nah, dengan begitu, kaum kapitalis tak akan berani melintasi Garis Lintang 38 derajat. Selangkah saja mereka lewat, Tokyo dan New York akan luluh lantak.

Ugetuget.com: Tapi ‘kan Amerika punya rudal Patriot untuk menyergap rudal musuh saat masih di udara.

Un: Itu masalah kecil. Kuncinya adalah intelijen dan uang. Begini, kami paham betul dengan rudal penangkal semacam itu. Kami tahu kok di mana saja rudal Patriot disimpan, kapal perang mana saja yang membawanya, dan yang terpenting kami tahu cara untuk menjinakkannya.

Saddam Hussein dulu bodoh sekali karena tidak memanfaatkan informasi intelijen seperti itu. Informasi sensitif ini digabung dengan bujukan uang. Banyak tentara dan ilmuwan Amerika yang matanya ijo lihat uang jutaan dolar. Percayalah. Saya punya banyak pengalaman dan catatan soal ini. Kalau perang benar-benar pecah, kami tinggal bayar mereka, suruh mereka tekan tombol yang salah, dan Patriot tidak akan meluncur.

Ugetuget.com: Kembali ke uji coba bom hidrogen. Berapa sih sebenarnya kekuatannya? Ada yang bilang lima kali bom atom Hiroshima dan Nagasaki. Ada yang bilang lima belas kali. Ada juga yang bilang….

Un: Sungguh penghinaan besar untuk prestasi bangsa Korea kalau hanya segitu kekuatannya! Bom hidrogen kami jauh lebih kuat! Ilmuwan kami menghitung bahwa kekuatannya adalah 150 kali bom Nagasaki. Jadi, kalau bom atom Nagasaki bisa membunuh 75.000 orang dengan sekali ledakan, bom kami bisa membunuh lebih dari 7,5 juta orang . Kalau kami jatuhkan bom itu di Singapura, seluruh penduduk negara kapitalis ini akan lenyap dalam sekejap. Penduduknya hanya 3,5 juta.

Ugetuget.com: Wow.

Un: Hahaha. Korut adalah negara yang kuat, bro.

(Wawancara eksklusif dengan Kim Jong-un terhenti sejenak karena seorang pelayan mengantar Joshua yang dipesan Ketua Un.)

Ugetuget.com: Kalau misalnya, ini hanya seandainya ya, kalau misalnya perang benar-benar pecah, dan Amerika lebih dulu meluncurkan rudal nuklir ke Korut?

Un: Kecil sekali kemungkinannya hal itu bisa terjadi. Begini, seperti Anda lihat di film-film, proses meluncurkan sebuah rudal itu rumit. Secara teknis, semua sudah disiapkan. Tapi, masalahnya ada di birokrasi (birokrasi memang selalu masalah, ‘kan?).

Untuk meluncurkan rudal nuklir, komandan perlu izin dari atasan, atasan perlu izin dari atasannya lagi, dan seterusnya, sampai presiden. Presiden Amerika pun perlu persetujuan dari Kongres dan Senat. Prosesnya sangat panjang. Demokrasi ala Amerika memang bertele-tele, tidak cak-cek. Korut sudah meluncurkan rudal nuklir ke California saat mereka masih sibuk berdebat.

Ugetuget.com: Kembali ke topik. Kenapa Anda berambisi sekali mengembangkan bom nuklir?

Un: Begini, sebenarnya, saya tidak seambisius kakek dan bapak saya. Saya siap menghentikan program nuklir setelah menjadi pemimpin tertinggi Korut. Saya ‘kan generasi milenial juga, yang lebih menghargai kemanusiaan. Saya kasihan juga melihat rakyat saya sekian lama hidup miskin dan susah makan gara-gara banyak embargo ekonomi.

Saya sudah konsultasi dengan politbiro dan semua komite terkait, juga dengan para jendral dan ilmuwan. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional sudah menyiapkan lapangan pekerjaan untuk para ilmuwan nuklir. Kami siap membuka diri dan bergaul dengan seluruh dunia. Sudah ada rencana untuk mengembangkan pariwisata di Korut, juga berbagai industri.

Termasuk industri hiburan. Kami bahkan sudah bikin skenario untuk bikin film mengharukan seperti drama Korea yang bikin termehek-mehek kaum remaja di negeri Anda. Rencananya, akan dibikin serial dan ditayangkan di stasiun televisi nasional kami. Dan kami siap menghentikan program nuklir kami, tentu dengan harapan agar semua embargo dicabut.

Ugetuget.com: Kok masih tetap jalan?

Un: Nah, itu begini ceritanya. Semua rencana sudah matang, tinggal menunggu perintah saya. Tapi, pada tahun 2014, ada film The Interview. Film itu mengolok-olok saya habis-habisan. Saya adalah Pemimpin Tertinggi Republik Demokratik Korea Utara dan Ketua Partai Pekerja Korea Utara. Jadi, l’etat c’est moa. Je suis l’etat. Negara adalah saya. Saya adalah negara. Mengolok-olok saya berarti mengolok-olok negara. Seluruh bangsa Korut sakit hati saat mengetahui film keparat itu.

Saya memang tidak mengizinkan rakyat menontonnya, tapi saya suruh orang untuk mengulas dan rakyat saya membaca ulasan itu. Mereka marah dan mendesak agar saya segera menyatakan perang karena negara telah dihina begitu rupa. Film itu adalah persekongkolan antara Sony dan Obama untuk mempropagandakan pergantian kepemimpinan di Korut. Padahal, saya adalah pemimpin yang sah. Bukankah ini penghinaan?

Ugetuget.com: Tapi tidak ada perang pada tahun 2014. Apakah karena Korut belum punya bom nuklir?

Un: Sudah. Kami sudah punya belasan rudal nuklir pada tahun itu. Tapi jangkauannya memang belum jauh, dan kekuatannya paling-paling cuma lima kali bom Nagasaki. Saya tidak segera memulai perang karena punya perhitungan sendiri. Jadi, saya hanya memerintahkan hacker-hacker Korut untuk ngehack server Sony sebagai pembalasan kecil. Tapi kami tetap akan melakukan pembalasan besar-besaran suatu saat nanti. Korut sudah terlalu sering dianggap sebelah mata.

Ugetuget.com: Kalau perang benar-benar pecah, Anda akan menghadapi sekutu dan pasukan internasional. Amerika, Jepang, Inggris, dan mungkin juga Dewan Keamanan PBB akan membentuk pasukan koalisi internasional seperti di Irak dan Afghanistan.

Un: Tidak masalah. Setelah Perang Dunia II dulu, pasukan koalisi pimpinan McArthur tidak mampu melewati Garis Lintang 38 derajat. Sekarang atau sampai kapan pun mereka tidak akan pernah bisa melintasi garis batas itu. Boleh dicoba, kok.

(Wawancara eksklusif dengan Kim Jong-un terhenti sebentar untuk memeriksa jumlah kata.)

Ugetuget.com: Bagaimana kalau Indonesia ikut koalisi?

Un: Ah, Indonesia (tersenyum). Soekarno. Kami yakin Indonesia tidak akan ikut koalisi pengecut untuk mengeroyok Korut. Banyak sebabnya. Pertama, Indonesia dan Korut berhubungan erat dengan prinsip tidak saling mencampuri urusan dalam negeri masing-masing. Indonesia adalah satu dari sedikit negara yang masih bersahabat dengan Korut. Korut punya kedutaan besar di Jakarta, dan Indonesia punya kedutaan besar di Pyongyang, dan sama-sama anggota GNB. Anak-anak Korut bahkan belajar bahasa Indonesia, dan bisa menyanyikan lagu-lagu nasional Indonesia.

Semua itu karena Soekarno (menggeleng-gelengkan kepala). Sosok yang luar biasa. Anda sudah lihat pidatonya di Majelis Umum PBB? Sungguh singa podium sesungguhnya. Kakek dan bapak saya pun tidak bisa berpidato sebaik itu. Dan lima sila yang diungkapkannya itu mencerminkan inti sosialisme dan komunisme — kecuali sila pertama, tentu saja. Bapak saya selalu berpesan bahwa apa pun yang terjadi, Korut harus selalu menghormati dan menjaga hubungan baik dengan Indonesia, demi untuk mengenang dan menghormati Soekarno.

Bahkan kalau Indonesia ikut pasukan koalisi itu, saya akan memerintahkan dengan tegas kepada pasukan saya untuk tidak menembak satu pun tentara Indonesia.

(Wawancara eksklusif dengan Kim Jong-un terhenti karena seorang ajudan membisiki Un.)

Un: Maaf, Kawan Ugetuget.com, rupanya ada yang mencoba menyadap pembicaraan ini. Baru saja saya diberi tahu ajudan. Sungguh menyesal pembicaraan ini harus segera diakhiri. Kapan-kapan kita sambung lagi. Oya, jangan lupa untuk yang off the record jangan dipublikasikan ya.

Ugetuget.com: Siap, Ketua Un. Terima kasih untuk waktunya. Semoga sukses.

Penafian: Wawancara eksklusif dengan Kim Jong-un ini hanya imajiner. Jadi, jika ada yang ingin mengutip, risiko ditanggung pengutip sendiri.

 

Leave a Comment

Pingin konten seru tiap hari?

Dapetin konten menarik di emailmu

Makasih bro, tunggu konten dari kami ya

Ada kesalahan, coba ulangi lagi