Wasit Sepak Bola Indonesia Diserang Cerita Lama yang Terulang Lagi (dan Lagi)
Sumber gambar: gobekasi.pojoksatu.id
in

Wasit Sepak Bola Indonesia Diserang: Cerita Lama yang Terulang Lagi (dan Lagi)

UGET UGET – Menjadi wasit sepak bola adalah profesi yang tidak main-main. Bahkan saya bisa bilang bahwa profesi ini sangatlah riskan.

Menjadi seorang pengadil di dalam lapangan memiliki tanggung jawab yang besar demi tercapainya pertandingan yang kondusif. Tentu kata profesional adalah harga mati yang harus dimiliki setiap pengadil. Apalagi kalau pertandingan yang sedang dimainkan adalah pertandingan besar penuh gengsi atau laga hidup mati. Tentu peran wasit yang super adil sangat diperlukan.

Tapi bagaimana lagi, wasit kadang juga tidak luput dari kesalahan. Kalau harus selalu memberikan apa yang dimau oleh kedua tim tentu akan sangat sulit. Apalagi keadilan itu masalah yang sangat sensitif.

Di Indonesia, cerita tentang wasit yang diserang atau diprotes secara berlebihan sudah sering sekali kita dengar. Di tahun 2017 ini saja kerap sekali saya membaca berita sepak bola yang isinya tidak sepakat dengan keputusan wasit. Bahkan bukan hanya di Indonesia, kasus klasik ini sudah menjamur di mana-mana.

Kita ambil contoh saja apa yang terjadi di bulan Mei lalu. Protes keras dilakukan oleh Marcel Sacramento kepada wasit di laga Semen Padang versus Bayangkara FC yang berujung hukuman enam laga untuk sang pemain.

Hal yang sama juga dilakukan oleh Arema Malang dan PSM Makassar pada Agustus lalu, yang dengan kompak menyerang keputusan wasit saat kedua tim bertanding. PSM memprotes keputusan wasit karena memberikan Arema hadiah pinalti yang tidak seharusnya, hingga merenggut kemenangan mereka.

Dari kubu Arema yang sudah mendapatkan dua pinalti juga memprotes karena merasa bahwa seharusnya mereka mendapatkan pinalti sekali lagi. Mereka beranggapan bahwa dalam sebuah pertandingan jika memang ada sepuluh pelanggaran di kotak pinalti ya memang harus mendapatkan sepuluh pinalti juga. Asalkan sesuai aturan.

Belum lagi baru-baru ini pemain dan official PSPS menyerang wasit karena tidak memberikan mereka pinalti dalam laga hidup mati melawan PSIS Semarang. Keputusan wasit yang berdampak besar pada PSPS itu dinilai sangat merugikan karena membuat tim asal Riau tersebut tidak lolos ke semi final Liga 2. Itu berarti harapan mereka untuk berlaga di kasta tertinggi sepak bola Indonesia harus pupus saat itu juga.

Padahal mengenai pelanggaran itu, ada pula yang beranggapan bahwa wasit sudah benar karena tackle yang dilakukan pemain PSIS Semarang di kotak pinalti itu mengenai bola dan dianggap bukan pelanggaran.

Kadang saya merasa bahwa wasit yang katanya “pemberi keputusan” di lapangan itu hanya sekadar julukan semata. Bagaimana tidak, justru malah pemain dan official yang memutuskan dan ingin keputusan mereka yang digunakan.

Kita tidak bisa memungkiri bahwa terkadang wasit salah dalam menentukan keputusannya. Bahkan sayapun mungkin juga akan marah ketika wasit merugikan klub kesayangan saya. Kalau sudah berbicara tentang kerugian, disitulah kita baru merasa wasit tidak adil.

Lain lagi jika tim kita yang diuntungkan, meskipun wasit tidak adil dan merugikan tim lain, kita tidak mungkin protes dengan ketidakadilan itu ‘kan? Jadi, yang kita cari sebenarnya apa? Keadilan atau keuntungan?

Sumber gambar: gobekasi.pojoksatu.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Bola Sepak Terkuat di Dunia, The One World Futbol uget uget

Bola Sepak Terkuat di Dunia, The One World Futbol

Film Hantu Keluarga Tak Kasat Mata Akan Segera Tayang di Bioskop Indonesia

Film Hantu Keluarga Tak Kasat Mata Tayang di Bioskop Indonesia