Wadjda Dunia di Balik Cadar
Sumber gambar: lecourrier.ch
in

Wadjda: Dunia di Balik Cadar

UGET UGET – Wadjda adalah seorang gadis berusia sepuluh tahun yang tinggal di pinggiran kota Riyadh, Arab Saudi. Meski ia hidup di dunia konservatif dan penuh aturan bagi perempuan, watak bawaannya yang sedikit tomboi membuatnya menjadi anak yang lebih nyaman bergaul dengan lelaki daripada perempuan. Di samping keterbukaannya, kecakapannya membuat orang tertawa, dan keberanian untuk melakukan segala yang ia ingin lakukan.

Setelah bertengkar dengan Abdullah, tetangga sekaligus teman laki-laki yang seharusnya tidak boleh ia ajak bermain, Wadjda melihat sebuah sepeda hijau yang dipajang di sebuah toko. Ia sangat menginginkan sepeda itu agar bisa bertanding sepeda dengan Abdullah. Namun ibunya melarang lantaran tak ada anak perempuan Saudi yang boleh memainkan segala permainan di luar rumah.

Wadjda berinisiatif sendiri untuk menabung dari hasil menjual gelang bikinan sendiri. Ibunya yang lebih disibukkan oleh rencana poligami suaminya, tak memperhatikan keadaan putrinya sama sekali. Hingga suatu ketika ia dipanggil oleh dewan sekolah karena Wadjda melakukan beberapa pelanggaran. Usaha Wadjda akhirnya diketahui ibunya dan mendapatkan penentangan yang keras.

Ketika kehilangan harapan, Wadjda mendapatkan informasi tentang lomba menghapal Al-Qur’an. Hadiahnya seribu real, sangat cukup untuk membeli sepeda hijau impiannya. Dengan usaha yang gigih, Wadjda pun memenangkan kompetisi tersebut. Sayang, panitia perlombaan membuat peraturan sendiri, dan uang itu akan disumbangkan untuk korban perang di Palestina.

Ia pulang ke rumah dengan penuh penyesalan. Perasaannya lebih menyesal ketimbang mengetahui bahwa bapaknya telah menikah lagi. Ibunya yang kesal, ternyata telah lebih dahulu membelikan sepeda untuk Wadjda. Ia kemudian mengajak Abdullah untuk balapan, dan memenangkannya.

Secara alur, film Wadjda yang ditulis dan disutradarai oleh Haifaa al-Mansour terasa biasa. Tak ada lonjakan peristiwa, tak ada kesan dramatis layaknya film-film Timur Tengah. Namun fakta-fakta yang diangkat ternyata menjadi suatu bentuk protes bagi kehidupan beragama di Arab Saudi.

Dunia Wadjda, tempat tinggalnya, bukanlah tempat yang kita kenal dalam kehidupan sehari-hari. Di lingkungannya, wanita adalah warga negara kelas dua. Banyak peraturan yang dibuat untuk membatasi gerak wanita. Mereka dilarang tertawa keras-keras, dilarang untuk menemui dan berjalan dengan lelaki berdua saja, serta kewajiban untuk menggunakan Burqa (pakaian yang menutup pakaian sehari-hari) dan cadar. Apalagi sepeda, sungguh tidak terhormat bagi seorang wanita untuk mengendarai sepeda.

Wadjda adalah film pertama yang seluruh adegannya dilakukan di Arab Saudi serta film Arab pertama yang disutradarai oleh perempuan. Mengangkat sisi perempuan yang selama ini ditutupi oleh masyarakat Saudi.

Kita akan menemukan dunia yang selama ini ditutupi cadar dan burqa. Di luar terlihat diam dan dingin, namun akan jauh berbeda ketika cadar dan burqa dibuka. Film ini lebih banyak menyoroti kehidupan di dalam sekolah yang khusus perempuan. Konflik pertemanan, kenakalan-kenalakan manusiawi dari anak perempuan.

Begitu pula dengan kehidupan sang ibu yang banyak dihabiskan di dalam rumah. Lagu-lagu yang sering ia dengarkan, film yang ia tonton, tak jauh berbeda dengan perempuan yang tak bercadar. Bahkan dalam beberapa adegan, ibu Wadjda juga merokok.

Menonton film Wadjda seakan mendapatkan pengetahuan yang berharga. Tak ada adegan yang berlebihan, semuanya hanyalah keseharian yang terjadi dalam kehidupan perempuan masyarakat Saudi. Namun keberanian untuk mengangkat kehidupan yang tertutup itulah yang menjadikan film ini berharga.
Dengan satu kesimpulan, baju hanyalah baju, tak mencerminkan apapun di balik itu. Kesalehan seseorang tidak mungkin dinilai hanya dengan burqa dan cadar.

Sumber gambar: lecourrier.ch

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Suara-Suara Kejujuran Silampukau

Suara-Suara Kejujuran Silampukau

The Daredevil Tipe Orang yang Cenderung Suka Mengerjakan Tugas Mepet Deadline

The Daredevil: Tipe Orang yang Cenderung Suka Mengerjakan Tugas Mepet Deadline