VR Menjadi Salah Satu Teknik Mengobati Pasien Narkoba. Bagaimana Bisa?
Sumber gambar: www.affinityvr.com
in

VR Menjadi Salah Satu Teknik Mengobati Pasien Narkoba. Bagaimana Bisa?

UGET-UGET | Virtual Reality (VR) di Indonesia barangkali sedikit dikembangkan. Penjualan jenis-jenis gawai yang mendukung teknologi ini pun belum tersebar luas. Masyarakat masih asik dengan keberadaan YouTube atau berbagai media sosial lainnya.

Tapi Anda jangan terburu-buru mengamini, ya. Ini hanya asumsi saya saja, hanya dugaan. Asumsi saya pun diperoleh hanya hasil dari melihat perkembangan berita tentang VR di Indonesia.

Beda negara, beda kondisinya. Di Indonesia VR belum jadi juara, di Tiongkok sana, teknologi ini sudah dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan kehidupan. Selain itu, banyak pula peneliti yang melakukan uji coba terkait pengaplikasian teknologi VR sebagai salah satu media terapi. Namun, terapi apa?

Dilansir dari South China Morning Post (SCMP), VR sedang dikembangkan untuk mengetahui kecenderungan pasien yang berbohong tentang kecanduan narkoba. Dalam operasinya, VR akan memberikan adegan realistis kepada pasien yang diminta untuk menggunakannya. Setelah itu, melalui adegan tersebut, para pasien akan diuji apakah merasa gembira atau sedih saat mengonsumsi narkoba.

VR Menjadi Salah Satu Teknik Mengobati Pasien Narkoba. Bagaimana Bisa?
Sumber gambar: South China Morning Post

Contohnya, bila ada adegan para pecandu sedang memperagakan sekelompok orang tengah pesta narkoba, artinya, pasien itu belum bisa lepas dari kecanduan narkoba. Bagaimana bisa?

Penelitian ini tengah dikembangkan oleh Pusat Kesehatan Mental Shanghai, Sekolah Psikologi dan Ilmu Kognitif Universitas Tiongkok, Shanghai Qing Tech dan Otoritas Rehabilitasi Narkoba Shanghai. Dalam penelitian tersebut, para peneliti menambahkan sebuah alat lain yang dipasang di headset VR. Alat ini nantinya mampu mendeteksi, kapan pengguna narkoba untuk melihat gambar dan video yang diusulkan oleh VR.

Instrumen pelacak gerak bola mata ini juga membantu staf pusat rehabilitasi dalam memberikan penilaian terkait evaluasi diri pada tingkat ketergantungan obat. Yah, mau bagaimana lagi, pengguna narkoba yang berpartisipasi dalam program tersebut seringkali berbohong untuk mempercepat masa pembebasan.

“Shanghai adalah negara pertama di dunia yang memperkenalkan mesin pelacak gerak bola mata untuk rehabilitasi narkoba,” jelas Xu Ding, veteran rehabilitasi narkoba dari Biro Manajemen Narkoba yang menjadi pemimpin dalam program penelitian ini.

Memang, Shanghai bukanlah pusat rehabilitasi pertama yang menggunakan teknologi VR untuk membantu proses  penyembuhan pengguna narkoba. Tercatat sebelumnya, beberapa lembaga rehabilitasi di provinsi timur Zhejian juga telah menggunakan teknologi ini. Namun yang membedakan dengan metode penggunaan dari pusat rehabilitasi lain, adalah kelengkapan alat pelacak gerak bola mata.

Selain itu, ada juga alat yang bisa memantau peningkatan suhu tubuh dan reaksi listrik dari kulit seseorang. Reaksi itu didapat dari respon terhadap sekresi keringat serta denyut jantung yang bisa memberikan informasi kepada petugas perihal keadaan serta keinginan pasien dalam menggunakan obat terlarang.

Barangkali, jika penelitian ini berhasil di Tiongkok, hasilnya bisa disebarluaskan, khususnya di negara kita yang tercinta ini. Metode dan alat yang sama bisa digunakan lintas bidang pula, untuk mengidentifikasi keinginan pengguna narkoba terhadap narkoba dan keinginan seorang koruptor atau pejabat negara terhadap uang dan tindak korupsi. Multi fungsi, bukan?

Written by Biru Samudra

Penikmat film, sastra, musik dan penyuka bola musiman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

3 Alasan Mengapa Freelancer Lebih Disukai Para Bos Besar

3 Alasan Mengapa Freelancer Lebih Disukai Para Bos Besar

Mencegah Penuaan Dini dengan Bahan Alami, Cewek Wajib Tahu

Mencegah Penuaan Dini dengan Bahan Alami, Cewek Wajib Tahu