Skrin

Video Klip Payung Teduh: Genre Baru Musik Posmodern

UGETUGET — Video klip Payung Teduh ini menunjukkan adanya tren baru dalam perkembangan musik Indonesia.

Mengikuti perkembangan musik masa kini jadi semakin menarik. Beragam genre musik, dari indie sampai mayor, terus muncul di jagat permusikan nasional. Dari yang musiknya sangat pelan, sampai lagu yang tidak punya lirik.

Pun demikian, genre musik dengan segudang keanehannya ternyata masih belum puas. Baru-baru ini, sebuah musik yang lahir lewat teori sastra muncul di Youtube. Saya katakan musik ini lahir lewat teori sastra karena ia memiliki kemiripan dengan kaum strukturalis dalam memandang karya sastra.

Untuk membuat pendengar memahami maksud dari lagu yang dimainkan, bunyi yang sama terus-menerus diulang untuk memengaruhi pendengar. Selanjutnya, bunyi yang sama diulang lagi sampai selesai. Sampai bunyi yang dimainkan terus-menerus terngiang di kepala pendengarnya.

Kalau dalam sastra, hal semacam itu termasuk aliran strukturalis, sedangkan di musik, bunyi yang diulang-ulang baru ada di era posmodern. Akan tetapi, bukan berarti musik tertinggal dari sastra atau sastra lebih maju dari musik. Konteksnya sudah berbeda.

Musik berkembang dan melahirkan banyak genre. Dan genre musik yang paling baru menurut saya (secara subjektif), adalah musik yang mirip dengan sastra aliran strukturalis. Misalnya, genre musik yang muncul setelah Payung Teduh menghitskan single terbaru mereka, Akad, yang dipromosikan dengan video klip Payung Teduh yang juga unik.

Singel mereka mendadak jadi lagu wajib anak-anak SD yang belum akil baliq, dan para remaja Indonesia yang suka latah pun meniru lagu wajib bocah SD yang seharusnya mereka ajari. Semua jadi bermimpi melakukan Akad, gara-gara keseringan dengerin lagu karya Payung Teduh.

Untungnya, dari sekian banyak remaja yang latah itu, masih ada remaja yang kreatif. Dia tidak ikut-ikutan menyanyi bersama teman-temannya. Dia memilih untuk berbeda, dan membuat sebuah penemuan baru. Genre musik posmodern.

Dibuatnya sebuah cover musik instrumental yang belum pernah ada sebelumnya, yang dihasilkan dari gubahan lagu Akad yang lagi hits di kalangan remaja. Gubahan yang sederhana, tapi juga mendobrak keilmuan musik Tanah Air yang mandek.

Penemuan ini justru tidak lahir dari penelitian akademisi yang menghabiskan banyak anggaran. Hanya dari seorang remaja yang mau berbeda dari remaja pada umumnya. Lebih dari sekadar menemukan, sebenarnya, tetapi juga menggagas video klip Payung Tedung yang unik ini.

Kalau saja para remaja Indonesia memiliki keberanian untuk berbeda dari yang lain, bukan tidak mungkin, gagasan-gagasan baru akan muncul. Tidak hanya penemuan di bidang musik, tetapi juga penemuan di bidang lain.

Negeri ini punya banyak otak dan pemikiran yang kreatif. Kalau hal semacam ini benar-benar diperhatikan, kualitas sumber daya Indonesia akan dapat menguasai dunia. Dan itu harus dimulai dari remaja. Sebab masa depan bangsa ini ada di tangan mereka.

Seperti kata Bung Karno, “Beri aku sepuluh orang tua, akan kucongkel Semeru dari akarnya, beri aku sepuluh pemuda, akan kugoncang dunia.”

Bagikan artikel ini:

Leave a Comment

Pingin konten seru tiap hari?

Dapetin konten menarik di emailmu

Makasih bro, tunggu konten dari kami ya

Ada kesalahan, coba ulangi lagi