Usia 22 Tahun Menjadi Momen yang Penuh dengan Tantangan
Sumber gambar: sedanghangat.com
in

Usia 22 Tahun Menjadi Momen yang Penuh dengan Tantangan

UGET UGET – Generasi kelahiran ’96 telah, sedang, atau akan menginjak usia 22 tahun di tahun 2018 ini. Usia 22 tahun menjadi peralihan dari remaja menuju usia dewasa. Pertambahan usia membuat tantangan, beban, sekaligus tanggung jawabmu semakin besar. Karenanya, kamu juga harus bersikap layaknya orang dewasa. Maka tak jarang, banyak orang menganggap usia 22 tahun menjadi momentum berat dalam hidupnya. Begini alasannya.

Usia 22 tahun menjadi masa peralihan banyak hal. Mulai dari yang tadinya serba dibiayai menjadi harus membiayai hidupnya sendiri; dari yang mendapat uang saku, sekarang harus mulai bekerja mencari pendapatan; dari yang main terus, sekarang sudah harus mulai menata hidup; dan lain sebagainya. Intinya, kamu sudah tidak pantas lagi sepenuhnya mengandalkan orang tua. Mungkin lebih tepatnya, memang sudah seharusnya orang tua menunaikan tugasnya.

Di Indonesia, usia 22 tahun menjadi usia mayoritas mahasiswa lulus dari studinya. Sedangkan bagi mereka yang tidak berkuliah, mungkin menjadi titik kebosanan bekerja hingga ingin melakukan perubahan pada hidupnya; entah pindah kerja atau melanjutkan kuliah.

Pada usia ini, kamu harus mulai berpikir mengenai masa depanmu. Selesai kuliah, kamu sudah harus mulai mencari pekerjaan. Idealnya, pengalaman dan pengetahuan selama kuliah digunakan untuk bekal mencari kerja. Mungkin di antara kalian, ada yang berpikir: untuk apa sih bekerja cepat-cepat, santai dulu lah, toh masih ada orang tua.

Pemikiran itu sebaiknya kamu buang jauh-jauh. Bekerja itu bukan perkara untuk mencari uang saja. Untuk mengetahui pentingnya langsung bekerja setelah selesai kuliah dan memutuskan untuk tidak menundanya, saya sempat bertanya pada seorang mahasiswi jurusan Sosiologi UAJY, Birgita Olimphia Nelsye.

Ada banyak alasan yang menurutnya, penting seorang lulusan mahasiswa untuk segera mencari kerja. Menurut Nelsye, menunda bekerja sama saja menambah angka pengangguran. “Pengangguran itu bisa menambah angka kemiskinan. Dan itu artinya juga menambah beban demografis dan masalah sosial,” ujarnya.

Usia 22 tahun tergolong ke dalam usia produktif. Kalau dalam ilmu ekonomi, lulusan sarjana dapat dikatakan masuk dalam kategori angkatan kerja, yakni mereka yang berusia produktif dan siap untuk bekerja. Kembali menurut Nelsye, mereka yang usianya masih produktif seharusnya tidak menjadi tanggungan.

“Usia produktif harusnya nggak lagi membebani orang tua dan negara. Melainkan usia produktif harusnya digunakan untuk bekerja. Lagipula fresh graduate banyak dicari,” begitu katanya menambah seru obrolan kala itu.

Menurut mahasiswa semester akhir ini, kesempatan sebagai fresh graduate sebaiknya jangan dilewatkan di usia muda. “Justru fresh graduate banyak dicari. Kalau nggak punya pengalaman ya nanti susah juga naik jabatan,” tuturnya. Nasihatnya cukup menginspirasi bukan?

Tuntutan untuk bekerja memang sudah harus kamu terima dengan lapang dada. Mungkin saja kamu mengalami masa-masa sulit mencari kerja, atau bingung mau kerja apa dan di mana, ketidaksesuaian lowongan kerja dengan minatmu, dan lain sebagainya. Meskipun berat, namun tetap harus diusahakan dan dijalani.

Kalau kata lagunya Mbak Taylor Swift yang berjudul 22 (Twenty Two) sih begini; “We’re happy, free, confused, and lonely at the same time…” Mungkin itu menggambarkan situasimu di usia 22 tahun; antara bebas dan tidak. Namun sebagai orang dewasa, kamu juga harus bersikap layaknya orang dewasa. Kamu harus tetap maju menghadapi itu semua. Semangat generasi 96!

Sumber gambar: sedanghangat.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Comments

comments

Sindrom Erotomania Bikin Penderitanya Merasa Punya Pengagum Imajiner dan Alami Delusi Jatuh Cinta

Sindrom Erotomania Bikin Penderitanya Merasa Punya Pengagum Imajiner dan Alami Delusi Jatuh Cinta

Sepakbola dan Kenanganku Pada Sandiwara Radio

Sepakbola dan Kenanganku Pada Sandiwara Radio