Usaha Kuliner Sambel Layah Kini Tidak Antri Lagi
Sumber gambar: lifestyle.okezone.com
in

Usaha Kuliner Sambel Layah Kini Tidak Antri Lagi

UGET UGET – Beberapa tahun yang lalu di Yogyakarta hadir salah satu usaha kuliner yang menggemparkan, itu ditandai dengan antrian yang panjang dan warungnya selalu penuh setiap saat. Bayangkan saja berapa keuntungannya. Dalam promonya dituliskan : ayam goreng 8 ribu tanpa syarat, lele goreng 7,5 ribu tanpa syarat.

Baca juga : rekomendasi wisata di jogja

Pasti sudah bisa menebak, benar usaha kuliner Sambel Layah. Perlu diketahui, sambel layah adalah usaha kuliner jejaring yang sudah membuka cabang bukan hanya di kota Yogyakarta saja, tapi sudah sampai Kebumen. Tentu saja ini usaha kuliner kelas kakap. Di Yogyakarta kuliner semacam ini sudah ada, tapi sambel layah berani bersaing dengan slogan itu tadi, tanpa syarat.

Melihat antrian yang menggunung, tentu saja saya penasaran seenak apa Sambel Layah dan akhirnya saya memutuskan untuk membeli seporsi sambel layah. Ayam goreng adalah pilihan saya. Rasanya cukup enak, tapi sayang terlalu kecil ukuran ayamnya. Lebih besar ukuran potongan ayam Olive Chicken. Harganya selisih 2 ribu.

Sambel Layah Mulai Turun Popularitasnya

Saya yakin inilah saat-saat yang tidak diinginkan oleh pengusaha. Sedih, kecewa dan ribuan pertanyaan bermunculan di pikiran pengusaha, kenapa bisa seperti ini? Apa yang salah? Siapa yang salah?

Ya, setelah beberapa tahun merajai kuliner di Yogyakarta, akhirnya sambel layah tidak sepopuler dulu. Jika dulu setiap hari selalu dibanjiri pengunjung, sekarang sambel layah terpuruk dan sepi sekali. Saya menyaksikan sendiri sambel layah di Giwangan Kotagede sepi pengunjung. Di sinilah saya dulu membeli ayam gorengnya.

Saya Sedikit Beranalisa tentang Sambel Layah

Bolehlah saya sedikit beranalisa, toh saya adalah seorang konsumen yang merasakan sendiri pelayanan Sambel Layah. Waktu itu saya bersama istri membeli paket ayam. Saya terkejut kenapa pelayanannya berbeda dari biasanya.

Kalau dulu kita sebagai pembeli cukup membayar ke kasir kemudian duduk manis. Makanan dan minuman datang ke meja dalam beberapa menit saja. Tidak lama.

Nah sekarang alur pelayanannya berbeda. Saya harus antri membayar ke kasir, kemudian setelah giliran saya membayar sejumlah uang sesuai pesanan, kemudian menunggu di depan kasir sampai makanan selesai disiapkan. Istri saya menunggu di meja tempat kami akan makan.

Waktu menunggu di depan kasir ini bisa saya sebut sebagai biang keladi awal dari menurunnya performa Sambel Layah.

Bayangkan saja kita harus menunggu lama hanya untuk membayar di kasir, kemudian setelah menyerahkan uang masih harus menunggu lama untuk mendapatkan makanannya. Selain itu, kita sendiri pula yang membawa makanannya. Di atas nampan itu ada es teh jumbo sebanyak 2 gelas lho. Kalau yang membawa cowok tidak masalah, hitung-hitung latihan beban. Lah kalau yang bawa cewek?

Sungguh pelayanan tidak mengenakkan.

Dan saya perhatikan, setelah manajemen menerapkan alur pelayanan semacam ini orang-orang yang antri di sambel layah menurun drastis. Bikin malas. Termasuk saya. Lebih baik makan nasi padang, tinggal ambil nasi, makan, bayar. Selesai. Perut kenyang.

Kesimpulan

Pelayanan ke konsumen itu penting sekali, bahkan ujung tombak suatu bisnis adalah pelayanan kepada konsumen. Jika ingin menerapkan suatu alur pelayanan yang baru harus melalui riset dan pemikiran yang matang. Tidak mudah untuk membangun kepercayaan pelanggan, apalagi di usaha kuliner yang persaingannya kejam.

Sumber gambar: lifestyle.okezone.com

Written by Bimo

Web developer, menggunakan CakePHP sebagai inti pengembangan situs dan wordpress untuk bermain blog. Kadang-kadang menulis, coding. Suka bersepeda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

PRESS RELEASE Festival Sedina Dadi Wayang 2017

PRESS RELEASE: Festival Sedina Dadi Wayang 2017

Ternyata, Mengecilkan Perut Bukan Hanya Dengan Sit up, Nih List-nya

Ternyata, Mengecilkan Perut Bukan Hanya Dengan Sit up, Nih List-nya