Screen Shoot Google Map
in

Update Terbaru Google Map Menepis Teori Bumi Datar. Berikut Penjelasannya…

UGET-UGET | Tentu kamu masih ingat teori bumi datar, kan? Teori ini menyatakan, tidak seperti ilmu pengetahuan yang sudah kita pahami selama ini, bahwa Bumi ini bentuknya bukan bulat, melainkan datar. Kok bisa? Nah itu urusan mereka, karena saya tidak mau berpanjang lebar membahasnya.

Namun yang unik dari para penganut paham ini adalah keyakinan mereka atas teori tersebut meskipun banyak bukti, baik yang bersifat ilmiah maupun yang berasal dari logika pemahaman manusia saja, malah menunjukkan sebaliknya. Salut dan patut ditiru.

Salah satu pihak yang getol menolak kebenaran teori Bumi Datar adalah Google. Dan baru-baru ini, salah satu perusahaan teknologi terbesar ini meluncurkan satu fitur baru yang benar-benar memukul telak para penganut teori Bumi Datar. Fitur itu dimasukkan dalam salah satu layanan mereka, Google Map.

Hari Jumat (3/8) lalu, perusahaan ini meluncurkan fitur baru dalam update aplikasi Google Map. Jika kamu memperkecil ukuran pada peta yang ada di Google Map, Bumi tidak akan lagi berbentuk datar seperti yang selama ini bisa kita lihat, melainkan berbentuk seperti bola dunia Globe. Pengubahan ini tentunya meningkatkan akurasi Google Map dalam melayani kebutuhan pengguna.

Update Terbaru Google Map Menepis Teori Bumi Datar. Berikut Penjelasannya…
Screen Shoot Google Map

Dalam pernyataan yang disampaikan pengelola di akun Twitter resmi, @googlemaps, disampaikan bahwa proyeksi Greenland tidak lagi sebesar Afrika. Sebelum update terbaru, jika kita perkecil ukuran peta Greenland, ukurannya bisa sebesar benua Afrika. Padahal luas Greenland hanyalah 2,166 juta km2, sedangkan Benua Afrika mencapai 30,37 km2.

Namun, kamu belum bisa melihat update terbaru ini di telepon pintar. Saat ini, update Google Maps terbaru hanya tersedia di tampilan komputer atau laptop.

Metode Terbaru Google Maps

Dalam pembuatan peta selama ini, Google Maps menggunakan Proyeksi Merkator, yaitu proyeksi peta silinder yang dipopulerkan oleh kartografer Flandria Gerardus Mercator pada tahun 1569. Proyeksi ini menghasilkan bentuk peta dengan permukaan datar. Meskipun metode ini mempermudah peta untuk dicetak dan dijadikan standar internasional, ternyata juga bisa menghasilkan gambar yang menyimpang dari keadaan Bumi yang sebenarnya.

Biasanya, objek-objek yang terletak di sekitar ekuator skalanya hampir sama antara satu dengan yang lain. Sementara itu, objek yang terletak dekat dengan kutub malah terlihat lebih besar dari yang sebenarnya. Contoh yang baik untuk kondisi ini adalah perbandingan antara Afrika dan Amerika yang bisa kamu lihat sendiri di peta-peta yang tersebar di Google Image.

Di peta Merkator, Greenland terlihat lebih besar dari Afrika, padahal dalam kenyataannya, Afrika berukuran 14 kali lebih besar dari Greenland.

Dalam hal ini, pegawai Google menjelaskan pihaknya menggunakan peta Merkator pada tahun 2009 karena mampu menjaga sudut-sudut jalan raya.

“Metode pertama yang digunakan sebenarnya bukanlah Merkator, hasilnya jalan-jalan yang terletak di latitude bagian atas, seperti yang terletak di Stockholm, tidak terlihat jelas atau mirip dengan yang ada di kenyataan sebenarnya,” jelasnya seperti dilansir dari The Verge, Minggu (5/8).

Biru Samudra

Written by Biru Samudra

Penikmat film, sastra, musik dan penyuka bola musiman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Comments

comments

Ringo Burger, Perpaduan Roti, Daging, dan Apel yang Sehat Dikonsumsi

Ringo Burger: Perpaduan Roti, Daging, dan Apel yang Sehat Dikonsumsi

Tips Meluruskan Rambut Tanpa Rebonding, Cukup Gunakan Bahan Alami Ini

Tips Meluruskan Rambut Tanpa Rebonding, Cukup Gunakan Bahan Alami Ini