in

Untuk Apa Jadi Tuan Rumah Asian Games 2018?

ugetuget - Untuk Apa Jadi Tuan Rumah Asian Games 2018?
Captured image from YouTube.

UGETUGET – Berbicara Asian Games 2018, pasti ingat dua puluh satu emas dalam Asian Games 1962 Jakarta. Prestasi itu merupakan capaian terbaik kontingen Indonesia sepanjang gelaran pesta olahraga se-Asia itu. Pencapaian itu didapat bukan dengan cara instan, melainkan melewati proses berat dan panjang. Pada zaman Orla, itu berarti cucuran keringat dan perut rakyat yang dikorbankan.

Presiden Soekarno begitu berambisi menyukseskan pesta olahraga terbesar se-Asia yang digelar di Jakarta. Rakyat pun rela jadi tumbal, demi kesuksesan itu, yang menurut Bung Karno dapat didefinisikan sebagai usaha untuk mengenalkan bangsa Indonesia sebagai bangsa yang besar di mata dunia.

Selain untuk memajukan olahraga Indonesia, Bung Karno menyelipkan pesan bahwa telah lahir sebuah bangsa yang akan menjadi bagian penting dari dunia. Ini adalah peringatan dini yang disampaikan lewat olahraga untuk bangsa-bangsa adikuasa kala itu.

Begitulah yang tergambar dari impian Bung Karno dalam dokumenter Asian Games 1962 Jakarta dalam video ini: sebuah deklarasi lantang untuk lahirnya kekuatan baru yang tidak pernah diperhitungkan sebelumnya.

Video ini merupakan penggambaran yang begitu heroik untuk Indonesia masa itu. Negeri yang bahkan tak punya gedung olahraga, tapi berani memegang mandat menjadi tuan rumah pesta olahraga Asia. Dalam sekejap gelanggang olahraga berdiri, yang menegaskan hebatnya kemampuan bangsa Indonesia.

Klasemen akhir perolehan medali juga mengatakan demikian. Bangsa yang baru berusia seumur jagung itu telah mampu menjadi kekuatan besar di Asia. Bung Karno telah berhasil mendongkrak derajat bangsa Indonesia.

Lima puluh tahun lalu, ribuan rakyat Indonesia bersorak di Senayan bersama Bung Karno. Dalam hitungan bulan ke depan, akan terdengar kembali sorak yang sama. Akan tetapi, akan mengandung makna yang bagaimanakah sorak di Senayan nanti?

Sedikit kritis: persiapan kita ini kali seolah tidak punya visi dan gairah. Pemerintah hanya sibuk mempersiapkan penyelenggaraan, tetapi mengabaikan persiapan atlet. Padahal, yang paling penting dalam event olahraga tentu adalah atletnya.

Kejuaraan dapat diselenggarakan tanpa stadion, tetapi tidak mungkin diselenggarakan tanpa peserta. Dan kalau kita dapat menyiapkan sarana, tetapi tidak memiliki atlet, siapa yang akan turun ke gelanggang? Presiden? Menteri? Atau kuli bangunan yang sudah membangun sarana itu?

Pilihannya kemudian adalah apakah kita akan gagal sebagai penyelenggara atau gagal meraih prestasi. Kalau dihadapkan pada soal yang seperti itu, akan memilih yang mana pemerintah negeri ini, nama baik atau harga diri? Kalau zaman Bung Karno sudah jelas harga diri yang paling utama. Tetapi saya menyadari, ini sudah bukan zaman Bung Karno.

Tuan rumah tidak memiliki ambisi selain menyukseskan penyelenggaraan. Prestasi diabaikan, harga diri bangsa ini juga dipertaruhkan.

Akankah sejarah terburuk yang sudah diukir pada Sea Games 2017 menular pada Asian Games 2018? Semoga tidak akan demikian.

Jangan-jangan memang: kalau Asian Games 1962 adalah untuk membangun harga diri bangsa, Asian Games 2018 diselenggarakan bukan untuk apa-apa. Sekadar untuk pamer kebodohan dan bersorak untuk kemenangan tamu undangan.

Sumber gambar: www.rappler.com

Permadi Suntama

Written by Permadi Suntama

Pengamat sepakbola Jepang. Sering nonton bola lewat live score.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Comments

comments

uget uget - Strategi (rambut kriwil) Milla untuk Timnas Indonesia

Strategi (rambut kriwil) Milla untuk Timnas Indonesia

uget uget - Mau Investasi VIP Bitcoin Indonesia? Lihat Dulu Tambang Ini

Mau Investasi VIP Bitcoin Indonesia? Lihat Dulu Tambang Ini