Daripada Perbanyak PR, Lebih Baik Tingkatkan Kualitas Ekstrakurikuler
Sumber gambar: gurusmp.com
in

Daripada Perbanyak PR, Lebih Baik Tingkatkan Kualitas Ekstrakurikuler

UGET UGET – Rasanya tak afdol seorang guru atau dosen tak memberikan pekerjaan rumah (PR) bagi murid atau mahasiswanya. PR dianggap menjadi satu cara mudah untuk memastikan anak didikannya memahami materi atau tidak. PR juga dianggap sebagai nilai tambahan toh apabila nilai ujian siswanya tak memuaskan. Namun, di lain sisi justru sebuah sekolah bernama Rising School menganggap sebaliknya.

Di samping melihat banyaknya manfaat PR yang selama ini dipercaya oleh banyak institusi pendidikan, Rising School justru mempercayai penerapan aturan baru ini pada sebuah penelitian yang dilakukan oleh Stanford University. Rising School memenerapkan aturan baru sebagai sekolah tanpa PR. Wah sekolah impian!

Saya rasa semua siswa maupun mahasiswa pasti akan sangat senang kala guru maupun dosen mereka tak memberikan tugas. Rasanya bahagia menyadari punya lebih banyak waktu yang bisa mereka habiskan untuk bermain, melakoni hobi, atau sekadar bersantai bersama teman dan keluarga.

Nah lalu bagaimana sih pernyataan Stanford University tersebut? Dilansir liputan6.com (11/4), mereka percaya bahwa PR hanya akan memberi dampak buruk bagi anak. Jika siswa diberikan terlalu banyak PR, maka akan menimbulkan stress bagi anak-anak. Jika hal ini sudah terjadi, efeknya akan merambat pada kondisi tubuh seseorang.

Lagi pula, sesuai dengan penelitian tersebut, tak semua orang tua bisa seluruhnya mencurahkan perhatiannya pada anak. Ada saja orang tua yang lempar tanggung jawab, sehingga sepenuhnya mempercayai institusi pendidikan. Tak semua orang tua punya waktu dan kemampuan untuk mengajari anak menyelesaikan pekerjaan rumahnya. Akibatnya anak hanya akan terbebani dengan tugas tersebut. Parahnya, bisa saja anak semakin tak bersemangat bersekolah.

Di sisi lain, kondisi itu membuat hubungan anak dengan orang tua menjadi semakin berjarak. Sebab anak kehilangan waktunya untuk bersenang-senang bersama keluarganya. PR juga dirasa merupakan pekerjaan monoton yang diberikan sekolah. Pun, cara ini dianggap Stanford University tak terlalu efektif untuk merangsang otak anak.

PR menjadi pekerjaan tambahan yang mungkin membosankan bagi anak-anak. Padahal biasanya mereka belum bisa menerapkan manfaat suatu pelajaran pada kehidupan nyata. Sehingga daripada memperbanyak PR, lebih baik mengembangkan skill dan bakat anak. Dengan kata lain, lebih baik sekolah lebih menekankan pada peningkatan kualitas ekstrakurikuler.

Sumber gambar: gurusmp.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

The Bride With White Hair

The Bride With White Hair

Sejarah Zodiak dalam Serial The Legend of The Chinese Zodiac

Sejarah Zodiak dalam Serial The Legend of The Chinese Zodiac