Tinggal Di Bilik Warnet, Yuk Intip Gaya Hidup Manusia Urban di Tokyo
Sumber gambar: www.theguardian.com
in

Tinggal Di Bilik Warnet, Yuk Intip Gaya Hidup Manusia Urban di Tokyo

UGET UGET – Tempat tinggal (papan) menjadi salah satu kebutuhan dasar manusia, di samping pangan dan sandang. Tempat tinggal menjadi tempat berlindung dari terik panas, dingin, debu, dan sebagainya. Namun, tak semua orang memunyai kesempatan memiliki rumah. Ada yang bernasib malang karena harus hidup menggelandang tak punya rumah, atau yang sering disebut tuna wisma. Ada banyak tempat yang biasa mereka jadikan rumah, baik itu kolong jembatan, jalan, emperan toko, mobil, hingga bilik warnet (warung internet).

Dari semua tempat yang menjadi pilihan para tunawisma tersebut, warnet menjadi salah satu tempat yang paling kekinian. Tempat yang nyaman, fasilitas yang lengkap, serta harga sewa yang terjangkau membuat warnet menjadi salah satu pilihan. Bahkan dapat dikatakan menjadi gaya hidup kaum urban masa kini.

Tunawisma ada yang benar-benar tidak punya rumah dan penghasilan. Namun ada pula yang punya penghasilan namun tidak punya rumah. Dan biasanya, mereka yang berpenghasilan ini butuh tempat tinggal untuk bisa hidup layak. Dan bilik warnet menjadi pilihan. Kasus seperti ini banyak terjadi pada para pekerja di Tokyo.

Tokyo memang memiliki standar hidup di atas rata-rata. Di sana semua serba mahal, sehingga hidup hanya difokuskan untuk bekerja. Dan tak heran, banyak pekerja di sana tidak memiliki tempat tinggal. Banyak dari pekerja lepas memilih untuk menyewa bilik warnet sebagai tempat tinggal.

Lagi pula bilik warnet di sana menyediakan fasilitas yang lengkap, mulai dari komputer, akses internet, buku-buku komik, kamar mandi, bahkan kabarnya ada microwavenya juga lho. Meskipun ruangannya kecil berkisar 1,5 x 2 meter, namun setidaknya nyaman untuk tempat beristirahat.

Di sana mereka dijuluki para freeter, yang merupakan kependekan dari kata free (gratis) dan arbeiter (pekerja). Mereka bekerja tetapi tetap mencari tempat tinggal murah untuk menghemat biaya hidup. Sehingga, hasil jerih payah mereka bekerja tidak akan habis hanya untuk sewa rumah maupun hotel. Sebab di sana sewa rumah itu mahal banget. Lagi pula tinggal di warnet itu hanya untuk sementara waktu saja.

Biasanya para freeter itu berusia 20-an tahun guys. Ya bisa dikatakan generasi milenial gitu. Di sana mereka yang baru lulus sekolah memang sudah diwajibkan untuk hidup mandiri. Sehingga tak jarang mereka memilih untuk meninggalkan rumah. Benar-benar para pejuang ya.

Sumber gambar: www.theguardian.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Arsenal vs Manchester City Misi Balas Dendam yang Gagal Total

Arsenal vs Manchester City: Misi Balas Dendam yang Gagal Total

Tingkatkan Kepedulian Terhadap Sesama untuk Hidup yang Lebih Bermakna

Tingkatkan Kepedulian Terhadap Sesama untuk Hidup yang Lebih Bermakna