Timnas U-19, Indra Sjafri dan Ambisi PSSI yang Tergesa
Sumber gambar: www.skanaa.com
in

Timnas U-19, Indra Sjafri dan Ambisi PSSI yang Tergesa

UGET UGET – Semua orang memprediksi Timnas U-19 akan kalah melawan Timnas Jepang U-19 Stadion Utama Gelora Bung Karno. Namun tak ada yang memprediksi permainan Garuda Muda sangat melempem sepanjang laga tadi malam (25 Maret). Timnas bahkan sampai kebobolan empat gol yang hanya mampu dibalas satu gol hiburan oleh Aji Kusuma pada menit akhir.

Malam itu adalah pentas perdana Bima Sakti sebagai pelatih Timnas U-19 menggantikan Indra Sjafri yang diberhentikan pada bulan November tahun lalu. Dan semua orang yang melihat pertandingan semalam tentu tahu bahwa taktik Bima Sakti tak mempan sama sekali. Para punggawa timnas yang sebelumnya bak artis, semalam bermain layaknya tak memiliki tenaga untuk berlari.

Seisi stadion GUBK meneriakkan nama Indra Sjafri, sang arsitek yang telah memegang dua generasi U-19. Dalam teriakan itu, mereka seakan merindukan permainan Timnas yang atraktif dan bertahan dengan pressing tinggi, yang sama sekali tak kita lihat dalam pertandingan semalam.

Penggantian pelatih dari Indra Sjafri menjadi Bima Sakti sebenarnya adalah proyek besar PSSI. Sejak awal kedatangan Luis MIlla ke Indonesia, Bima Sakti lah yang menemaninya hampir dalam setiap pertandingan. Diharapkan, Bima Sakti dapat mengambil banyak pelajaran dari Luis Milla, untuk kemudian diterapkan sebagai formasi dan gaya bermain dasar dari seluruh Timnas Indonesia.

Mengganti Indra Sjafri dengan Bima Sakti tentu merupakan salah satu bagian dari proyek itu. Belum tentu tidak berjalan sepenuhnya, dengan hanya melihat satu pertandingan. Apalagi lawan pertama mereka adalah Jepang, salah satu raksasa sepak bola Asia.

Namun pertanyaannya adalah mengapa semua harus diseragamkan. Memang gaya permainan Luis Milla dan Indra Sjafri berbeda. Toh Indra Sjafri mampu memenangkan bermacam pertandingan, terutama kemampuannya untuk mencari bakat-bakat muda di berbagai daerah.

Mengapa Indra Sjafri harus dikeluarkan dari proyek besar itu? Tidakkah lebih bagus jika ia, yang memiliki pengalaman di tengah persepak bolaan Nusantara juga ikut andil. Setidaknya berdiskusi dengan Luis Milla, saling bertukar strategi.

Sepakbola yang baik lahir dari rahim Negara. Dibanding Luis Milla, apalagi Bima Sakti, tentu Indra Sjafri lebih paham dengan segala kondisi yang melingkupi sepak bola kita.

Sumber gambar: www.skanaa.com

https://www.youtube.com/watch?v=oBg8Qy7l9vw

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Tas Kantong Belanja Balenciaga, Model Simpel dengan Harga Fantastis

Tas Kantong Belanja Balenciaga, Model Simpel dengan Harga Fantastis

Tips Hubungan LDR Jangan Cari-Cari, Melainkan Sediakanlah Waktu

Tips Hubungan LDR: Jangan Cari-Cari, Melainkan Sediakanlah Waktu