Timbuktu, Kota Sejarah di Mali
Sumber gambar: www.bambara.com
in

Timbuktu, Kota Sejarah di Mali

UGET UGET – Terletak di antara Sungai Niger dan gurun Sahara, Timbuktu merupakan kota perniagaan pertemuan suku Songhai, Wangara, Fulani, Tuareg dan Arab. Emas didatangkan dari selatan, garam dari utara. Juga mempertemukan jalur padang pasir dan dermaga.

Sejak abad ke-11 M, Timbuktu mulai menjadi pelabuhan penting – tempat beragam barang dari Afrika Barat dan Afrika Utara diperdagangkan. Pada era itu, garam merupakan produk yang amat bernilai. Kemakmuran kota itu menarik perhatian para sarjana kulit hitam, pedagang kulit hitam dan saudagar Arab dari Afrika Utara.

Garam, buku dan emas menjadi tiga komoditas unggulan yang begitu tinggi angka permintaanya pada era itu. Proses pembangunan pertama kali berlangsung di Timbuktu pada awal abad ke-12 M. Para arsitek Afrika dari Djenne dan arsitek muslim dari Afrika Utara mulai membangun kota itu.

Pembangunan di Timbuktu berlangsung menandai berkembang pesatnya perdagangan dan ilmu pengetahuan. Saat itu raja Soso diserbu kerjaan Ghana, sehingga para ilmuwan dari Walata eksodus ke Timbuktu.

Timbuktu pun mulai menjelma menjadi pusat pembelajaran Islam serta sentra perdagangan. Di abad ke-12 M, Timbuktu telah memiliki 3 universitas serta 180 sekolah Al-Quran. Ketiga universitas Islam yang sudah berdiri di wilayah itu antara lain; Sankore University, Jingaray Ber University dan Sidi Yahya University. Inilah masa keemasan peradaban Islam di Afrika.

Buku-buku didatangkan dari berbagai negara, lalu dicetak ulang untuk dibagikan kepada para rakyat. Timbuktu telah mengenal berbagai pengetahuan ketika orang-orang Afrika lainnya masih hidup dalam kemiskinan.

Dikisahkan, seorang raja di Arab yang terkesan atas kemajuan pengetahuan di sana, mengirim seorang ilmuan yang paling pintar untuk menguji seberapa besar pengetahuan masyarakat Timbuktu. Abdurrahman Atimmi, salah satu dari utusan tersebut, mengatakan bahwa ia merasa tertekan dengan kemajuan pengetahuan Timbuktu yang belum ia temui di mana pun.

Pada tahun 1325 M, Timbuktu mulai dikuasai Kaisar Mali, Masa Mussa (1307-1332). Raja Mali yang terkenal dengan sebutan Kan Kan Mussa itu begitu terkesan dengan warisan Islam di Timbuktu.

Sepulang menunaikan haji, sultan Mussa membawa seorang arsitek terkemuka asal Mesir bernama Abu Es Haq Es Saheli. Sang sultan menggaji arsitek itu dengan 200 kg emas untuk membangun Masjid Jingaray Ber – Masjid untuk sholat jumat. Sultan Musa juga membangun istana kerajaanya atau Madugu di Timbuktu. Pada masa kekuasaannya, Musa juga membangun masjid di Djenne dan masjid agung di Gao (1324-1325) M yang kini hanya tersisa fondasinya saja.

Kerajaan Mali mulai terkenal di seluruh dunia. Sebagai penguasa yang besar dia membawa 60 ribu pegawai dalam perjalanan menuju Makkah. Hebatnya setiap pegawai membawa tiga kg emas. Hal ini menjadikan Timbuktu dan Mali mulai masuk peta pada abad ke-14 M.

Kini Timbuktu menjadi salah satu peninggalan dunia yang dikukuhkan oleh UNESCO. Namun begitu, Timbuktu mulai redup setelah masa penjajahan yang telah dimulai awal abad 19 sampai pertengahan abad 20. Seakan unta yang kehilangan pelana, Timbuktu tinggal sebagai bukti pertemuan antara perdagangan dan pengetahuan.

Sumber gambar: www.bambara.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Cewek Lebih Berisiko Gendut Karena Hormon Estrogennya

Cewek Lebih Berisiko Gendut Karena Hormon Estrogennya

Mariana Mendes, Seorang Model dengan Tanda Lahir di Wajahnya

Mariana Mendes, Seorang Model dengan Tanda Lahir di Wajahnya