Sport

Tim Kaya La Liga 450 Juta Euro: Kalah dari Tim Kecil

UGETUGET — Tim kaya La Liga ditaklukkan tim proletar. Apa hikmah yang bisa ditarik dari sini?

Kata pak ustaz, di dunia ini tidak semuanya dapat dibeli dengan uang. Bahkan, “nasi kucing” yang sekarang banyak dijual di angkringan nanti akan sulit dicari lagi. So, dari sekarang mulailah belajar membuat “nasi kucing” sendiri.

Bukan apa-apa, kata pak ustaz, pada suatu hari nanti uang tidak dapat digunakan untuk membeli makanan. Sebab, tidak ada lagi orang yang membuat makanan. Semua sibuk mencari uang.

Kiranya kata pak ustaz itu dapat dipercaya. Sekarang ini uang perlahan mulai hilang kekuatannya.

Banyak orang atau perusahaan yang menganggap memiliki banyak uang dapat melakukan apa saja. Tidak terkecuali sebuah klub sepak bola. Banyak klub yang coba mencapai prestasi secara instan dengan uang. Misalnya, Manchester City, Paris Saint Germain, dan klub-klub dari Liga Super Tiongkok. Bahkan, AC Milan dan Manchester United (MU) mulai ketularan untuk membeli pemain mahal.

Padahal, dua klub tersebut memiliki tradisi dan sejarah panjang dalam melahirkan pemain hebat. Dari akademi MU, misalnya, pernah lahir pemain bintang sekaliber David Beckham, Ryan Giggs, Neville bersaudara dan masih banyak lainnya.

Keberhasilan tim kaya La Liga Real Madrid menjuarai tiga edisi Liga Champions dalam lima musim terakhir jadi salah satu sebab. Madrid berhasil membeli prestasi dengan menggunakan banyak uang. Bahkan, sebelas pemain Madrid yang kita saksikan di televisi, tidak ada yang berasal dari akademi Real Madrid.

Itulah yang coba dicontoh banyak klub di era sekarang. Semua ingin seperti tim kaya La Liga itu. Semua ingin membeli pemain yang mahal. Tidak peduli pemain tersebut milik klub mana, kalau harganya mahal akan dibeli (sebut saja Romelu Lukaku yang sempat dirumorkan dibeli kembali Chelsea, setelah sebelumnya dijual ke Everton).

Tapi, yang seperti itu tidak berlaku untuk AS Roma, idolaku. Kalau Roma jadi juara, itu sepenuhnya dari hasil jerih payah klub. Roma sudah pernah mengalami masa yang sulit karena keputusannya. Roma telah merelakan jadi klub papan tengah Serie A untuk membangun prestasi di masa depan.

Dalam beberapa tahun belakangan ini, semua jerih payah itu mulai terlihat. AS Roma telah berhasil kembali berkompetisi di Eropa. Tinggal menunggu waktu saja kiranya untuk melihat AS Roma memenangkan sebuah gelar.

Dan kalau AS Roma berhasil meraih gelar, maka perjalanan mereka dalam meraih gelar itu harus dicontoh. AS Roma harus dijadikan patron semua tim sepak bola di seluruh dunia. Semua harus merubah kiblat sepak bola ke Roma, bukan Madrid, tim kaya La Liga itu.

Real Madrid bukan contoh klub yang baik. Cara mereka meraih prestasi tidak patut dicontoh. Dan yang diperlihatkan Madrid saat melawan Real Betis merupakan suatu pukulan KO. Tim seharga lebih dari 450 juta Euro ditaklukkan kesebelasan yang sekadar recehan jika dibadingkan dengan Madrid.

https://www.youtube.com/watch?v=2NmSG5N8zdE

Sumber gambar: www.mirror.co.uk

Bagikan artikel ini:

Leave a Comment

Pingin konten seru tiap hari?

Dapetin konten menarik di emailmu

Makasih bro, tunggu konten dari kami ya

Ada kesalahan, coba ulangi lagi