Tidsoptimist Mereka yang Kerap Terlambat Karena Merasa Masih Punya Cukup Banyak Waktu
Sumber gambar: www.dagensperspektiv.no
in

Tidsoptimist: Mereka yang Kerap Terlambat Karena Merasa Masih Punya Cukup Banyak Waktu

UGET UGET – Terlambat adalah ketika kamu datang melebihi waktu yang telah ditentukan. Terlambat ini bukanlah suatu kebiasaan yang baik. Karenanya dalam institusi pendidikan, kerja, transportasi, atau hubungan nonformal lainnya, keterlambatan adalah hal yang memalukan dan menyebalkan. Ada banyak hal yang bisa menyebabkan orang terlambat, salah satunya si tidsoptimist, yakni mereka yang selalu terlambat karena meyakini bahwa dirinya masih memiliki banyak waktu luang.

Karena merasa masih punya banyak waktu akhirnya si tidsoptimist menunda kedatangan atau pekerjaannya. Dia lebih memilih melakukan hal lain seperti bersenang-senang, atau sekadar bermalas-malasan dahulu. Padahal kenyataannya dia membutuhkan cukup banyak waktu untuk mengerjakan pekerjaan yang tak mudah itu. Atau waktu yang dia punya sebenarnya tak seluang itu.

Dilansir dari akun instagram @wowfakta, orang yang sering terlambat mempunyai persepsi passage of time (skala ukuran untuk berlalunya waktu) yang berbeda. Dengan kata lain, persepsi lamanya waktu setiap orang bisa berbeda-beda. Kesimpulan itu berangkat dari penelitian yang dilakukan oleh Diana DeLonzor, yang juga adalah seorang penulis buku Never Be Late Again.

Penelitian tersebut melibatkan ratusan responden. DeLonzor meminta para responden membaca 3-4 lembar buku. Treatmentnya, mereka juga diminta berhenti membaca setelah 90 detik. Di sini memang ada ambiguitas dari perkataan DeLonzor: yakni dari kata “setelah 90 detik”. Di satu sisi itu bisa berarti tepat 90 detik, atau lebih dari 90 detik tak masalah.

Hasil penelitian tersebut, menyimpulkan dua tipe responden. Mereka yang tepat waktu akan berhenti membaca dalam waktu 90 detik atau kurang. Sedangkan, mereka yang kerap terlambat, berhenti membaca setelah 90 detik. Di sini mereka yang terlambat biasanya tidak terlalu peduli apakah mereka akan terlambat. Bagi mereka, terlambat sebentar pun tak masalah. Toh, tidak ada hukuman yang berarti.

Mereka yang sering terlambat juga kurang mempertimbangkan segala risiko yang mungkin muncul. Misalnya, apakah nanti di jalan akan macet, atau apakah kemungkinan ban motormu bocor, atau kemungkinan kehabisan bensin, dan berbagai kemungkinan lain di luar dugaan.

“Kayaknya masih cukup waktunya… aku kan naik motornya cepat, cukup sih waktu segitu.”

“Lagian kalau telat kan masih bisa masuk kelas. Malah enak duduknya di belakang, jadi nggak diperhatikan dosen…”

Nah begitulah si tidsoptimist. Apa kamu juga termasuk golongan ini?

Sumber gambar: www.dagensperspektiv.no

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Ketika Batik dan Agama Saling Menopang

Ketika Batik dan Agama Saling Menopang

Kisah Jolene Dawson yang Miliki Tiga Kecenderungan Seksual

Kisah Jolene Dawson yang Miliki Tiga Kecenderungan Seksual