Skrin

The Incredibles 2: Baru, Segar dan Lebih Banyak Kritik Sosial

UGETUGET – 14 tahun sudah lewat sejak kemunculan film produksi Pixar, The Incredibles. Sejak itu pula, muncul gelombang film-film bergenre superhero yang banyak didominasi dari Marvel Cinematic Universe dan DC Movies. Anehnya, menjamurnya film bertema superhero tidak membuat produsen Pixar Studi bersigegas berebut penonton dengan meluncurkan The Incredibles 2. Entah ini disengaja atau tidak, saya pun tidak mau banyak berasumsi tanpa pernyataan yang tepat. Takut dibilang hoax.

Bagi kamu yang terkesan lalu kemudian jatuh cinta dengan film pertama The Incredibles, penantianmu selama 14 tahun terbayar lunas. Bulan Juni ini, menjadi bulan peluncuran film ini di bioskop. Untuk di Indonesia, film ini akan mulai tayang pada tanggal 14 Juni besok.

Masih digarap oleh sutradara dan penulis skrip yang sama, Brad Bird, The Incredibles 2 banyak mengalami perubahan, di antaranya adalah mitos superhero yang semakin digelapkan. Seperti kata musuh dalam seri pertama, Syndrome, “Ketika semua orang menjadi super, tidak aka nada superhero”.

Isi The Incredibles 2?

The Incredibles 2 menyajikan alur waktu yang tersambung dari seri pertamanya, dan menurut saya, itu adalah keputusan tepat dari sang sutradara. Hal ini menjadikan film The Incredibles tidak perlu risau menentukan pijakan, haruskah mengidentikkan diri dengan MCU atau DC.

The Incredibles 2: Baru, Segar dan Lebih Banyak Kritik Sosial

Sumber gambar: MovieWeb

Tidak semua gagasan adalah hal yang baik. Dan tidak ada gagasan yang lebih berat daripada tentang masyarakat yang menolak keberadaan superhero, yang dianggap terlalu banyak membuat kerusakan daripada menjaga ketertiban. Namun, The Incredibles 2 mampu membuka dunianya dengan premis sederhana, bahwa mereka yang special tidak akan selalu dihargai.

Maka dari itu, para pahlawan super masih dianggap sebagai sosok illegal, menjadikan Mr Incredible (Craig T Nelson), Elastigirl (Holly Hunter) dan ketiga anaknya yang masing-masing memiliki kekuatan super, hidup dalam kemiskinan dan tinggal di motel kecil.

Meski secara permukaan film ini masih mengusung premis yang sama dari film sebelumnya, kamu akan menemukan kesegaran yang ditawarkan oleh Bird. Peristiwa seperti perdebatan antara Mr Incredible dengan istrinya tentang kebenaran moral untuk merusak tatanan hukum yang rusak atau keinginan mengubah kecanduan masyarakat terhadap layar yang mana hanya menumpulkan kemampuan sosial. Meski terkesan sederhana, tapi ada kekuatan dan hentakan dalam setiap dialog yang disajikan, hal yang tidak kita temui di film pertama.

Lalu, alasan apa yang membuat Anda enggan beranjak dari tempat duduk ruang keluarga, dan memindahkan seluruh anggota di layar bioskop? Setidaknya, untuk mengatasi rasa kangen dari kelucuan dan aksi keluarga Incredibles.

Bagikan artikel ini:

Leave a Comment

Pingin konten seru tiap hari?

Dapetin konten menarik di emailmu

Makasih bro, tunggu konten dari kami ya

Ada kesalahan, coba ulangi lagi