Suaka Perempuan Iran Di The Day I Became a Woman
Sumber gambar: sausanreads.com
in

Suaka Perempuan Iran Di The Day I Became a Woman

UGET UGETThe Day I Became a Woman merupakan film besutan Marieh Meshkini yang tak lain adalah istri dari sutradara kenamaan Iran, Mohsen Mahkmalbaf. Dalam film ini, Mohsen juga andil sebagai scripwriter untuk film pertama istrinya ini. Dua penghargaan sukses diraih film ini di tahun yang sama. Silver Hugo, Chicago International Film Festival (2000) dan Venice Film Festival (2000) untuk best cinematografi.

The Day I Became a Woman (Persian: Roozike Zan Shodam) berkisah dengan tiga cerita berbeda yang pada akhirnya membentuk sebuah narasi besar tentang wanita yang memperjuangkan identitasnya di Iran.

Episode pertama berkisah tentang Hava (Fatemeh Cherag), seorang gadis yang pada ulang tahunnya yang kesembilan, diberitahu oleh ibu dan neneknya bahwa ia telah menjadi seorang wanita. Oleh karena itu, Hava tidak lagi diperbolehkan bermain dengan sahabat laki-lakinya, dan harus memakai cadar setiap keluar rumah.

Episode kedua dimulai dengan gambar yang tampak agak surealistik, namun disertai dengan penjelasan yang pragmatik. Sekelompok wanita berjubah hitam, mati-matian mengayuh sepeda mereka menyusuri bibir pantai. Ahoo (Shabnam Toloui) adalah wanita yang sudah menikah yang mengambil bagian dalam balap sepeda itu. Menjelang garis akhir, Ahoo dikejar oleh suaminya yang berkuda.

Dia membujuk Ahoo untuk berhenti bersepeda dan pulang, kemudian mengancam akan menceraikan bila istrinya tetap melanjutkan balapan konyolnya. Ketika Ahoo menantang untuk terus bersepeda, suaminya membawa seorang “mullah” yang menceraikan mereka.

Hoora (Azizeh Sedighi) adalah seorang janda kaya tua yang memutuskan untuk membeli semua barang yang pernah dia inginkan. Dengan menyewa beberapa orang, Hoora menyuruh mereka untuk membawakan barang-barang barunya ke pantai. Tanpa disadari, dua perempuan telah mengawasi Hoora yang sedang mengapung di atas kapal. Di bibir pantai, Ahoo dengan sepedanya dan Hava yang kini telah mengenakan cadar, seolah melihat Hoora yang terbebas dari kungkungan kewanitaannya.

Adalah adegan wanita terakhir, yaitu janda yang mengapungkan dirinya beserta seluruh barang-barang kesayangan yang baru saja dia beli, menjadi semacam pamungkas narasi tiga episode berbeda di atas.

Sangat dramatis dan penuh artistik. Dari atas rakit bisa kita lihat Hoora dengan kegelisahan dan keunikan sikapnya dalam menunjukan wanita yang pantas mempertahankan dan memperjuangkan segala yang diinginkan. Tanpa diduga, dari tepian pantai, kedua wanita lain memperhatikan dengan seksama dan seolah terkagum.

Debut pertama Marieh Meshkini yang layak disimak dan memang patut jika kemudian film ini menyabet dua nominasi sekaligus di tahun pertama rilisnya.

Sumber gambar: sausanreads.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Lucas Leiva, Nasib Berputar Layaknya Perputaran Bola

Lucas Leiva, Nasib Berputar Layaknya Perputaran Bola

Sabar dan Masalah Hidup

Sabar dan Masalah Hidup