Peneliti Australia Tangkap dan Bantu Proses Pembuahan Sperma dan Sel Telur Terumbu Karang di Great Barrier Reef
Sumber gambar: breitbart.com
in

Peneliti Australia Tangkap dan Bantu Proses Pembuahan Sperma dan Sel Telur Terumbu Karang di Great Barrier Reef

UGET UGET – Terumbu karang yang rusak menjadi masalah urgen bagi ekosistem yang bernaung di bawahnya. Terumbu karang penting sebagai habitat bagi hewan dan tumbuhan laut, juga mikroorganisme laut lainnya. Namun apa jadinya jika terumbu karang rusak? Apa yang bisa dilakukan?

Kita perlu mengingat koral sebagai sesuatu yang hidup. Seperti yang tertulis dalam wikipedia, terumbu karang adalah sekumpulan hewan karang yang bersimbiosis dengan sejenis tumbuhan alga yang disebut zooxanthellae (alga bersel). Mengingatnya sebagai makhluk hidup yang memiliki simbiosis mutualisme dengan entitas yang hidup di laut lainnya, maka koral perlu dilindungi.

Apa jadinya jika koral rusak? Kita bisa melihat kasus rusaknya terumbu karang berkaca pada sebuah ekosistem koral terbesar di dunia. Ya, Great Barrier Reef yang berada di Australia. Terumbu karang di sana terus-terusan terancam rusak karena perubahan cuaca dan polusi.

Ini tentu menjadi keprihatinan Badan Taman Nasional Laut Australia. Berbagai upaya dilakukan, salah satunya dengan mengizinkan peneliti untuk melenceng dari proses natural kemunculan terumbu karang untuk pertama kalinya. Ya, para peneliti inisiatif menumbuhkan kembali koral yang rusak.

Para peneliti terjun ke laut langsung untuk menangkap sperma dan telur karang yang mengapung. Terumbu karang yang melepaskan sperma dan telur ini merupakan tipe spawning spesies, di mana pembuahan terjadi di luar polip. Nah, nantinya hasil pembuahan berkembang hingga terbentuk planula. Namun sayangnya, pembuahan di luar polip ini sangat rentan polutan dan dimangsa hewan lain.

Untuk itu, para peneliti mengambilnya dan mengembangkan larvanya dalam tank. Tank itu berisi air bersih yang tentunya bebas polutan. Setelah terjadi pembuahan, peneliti akan mengembalikannya ke laut dekat karang yang rusak. Sejauh ini cara ini berhasil.

Karang bisa berkembang besar hanya dalam waktu 3 tahun saja. Seperti diketahui dalam satu tahun, karang hanya bisa tumbuh setinggi satu centimeter saja. Bayangkan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menumbuhkannya. Nah, cara ini dirasa dapat menyelamatkan sekaligus mempercepat pertumbuhan terumbu karang.

Ya meskipun proyek ini belum mampu memulihkan ekosistem sebesar Great Barier Reef. Setidaknya cara ini berpotensi menghasilkan koral kecil yang akan menstimulasi produksi larva ke area-area di sekitarnya.

Sebuah pelajaran berharga untuk menjaga kekayaan laut Indonesia. Sebisa mungkin janganlah membuang sampah sembarangan di laut. Terutama laut sering dijadikan sebagai jalur distribusi minyak. Tumpahan minyak yang tercecer di laut juga bisa mengotori dan merusak ekosistem laut. Karenanya Pemerintah harus bersikap tegas atasi permasalahan di laut kita.

Menurut saya, Indonesia juga kekurangan peneliti. Budaya meneliti masih sedikit di negeri ini. Padahal riset khususnya untuk laut penting dalam rangka menjaga keselamatan dan keberlanjutan lingkungan.

Indonesia pun dikenal sebagai negara maritim, dengan wilayah lautnya yang lebih luas daripada daratan. Untuk itu, perlu kepedulian untuk melihat dan mengontrol kondisi terumbu karang di perairan Indonesia. Apakah alam kita sudah sejahtera?

Sumber gambar: breitbart.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Comments

comments

Sakit Hati Luka Tak Berdarah yang Susah Sembuh

Sakit Hati: Luka Tak Berdarah yang Susah Sembuh

Jendela Transfer Pemain Segera Dibuka Pilih yang Muda atau Berpengalaman

Jendela Transfer Pemain Segera Dibuka: Pilih yang Muda atau Berpengalaman?