Taman Sari Yogyakarta- Sejarah yang Disuguhkan Melalui Puing-Puing uget uget

Taman Sari Yogyakarta: Sejarah yang Disuguhkan Melalui Puing-Puing

UGETUGET – Taman Sari Yogyakarta tidak akan kehilangan cerita dan sejarahnya meski kini yang banyak disuguhkan adalah runtuhan puing-puing bangunannya.

Sejarah adalah suatu perjanjian di antara orang yang sudah meninggal, mereka yang masih hidup dan mereka yang belum dilahirkan.” Setidaknya itu yang dikatakan oleh Edmund Burke, seorang politikus sekaligus filsuf dari Inggris.

Dari kata-kata itu, jelas nyata bahwa sudah sepantasnya kita yang masih hidup melestarikan sejarah yang ada. Paling tidak sebagai penghormatan kepada nenek moyang, pun sebagai persembahan untuk generasi yang akan datang.

Berkaca dari apa yang ada saat ini, telah banyak situs sejarah terbengkalai tidak karuan. Layaknya memberi gambaran satu langkah menuju dilupakan. Namun, ada pula situs-situs lain yang masih tetap bertahan. Meski dalam kondisi yang jauh dari kata baik, atau mungkin saja justru memprihatinkan.

Salah satunya adalah Taman Sari Yogyakarta, peninggalan kerajaan Mataram yang masih kerap dikunjungi. Bangunannya klasik, tapi sarat akan nilai-nilai historis di dalamnya.

Menurut catatan sejarah, Taman Sari merupakan sebuah tempat rekreasi dan kolam pemandian atau disebut pula pesanggrahan bagi Sultan Yogyakarta berserta seluruh kerabat istana.

Taman Sari atau yang berarti taman yang indah ini konon mulai dibangun oleh Sultan Hamengku Buwono I atau Pangeran Mangkubumi pada tahun 1757 masehi. Bertepatan dengan berdirinya Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang letaknya juga tidak jauh dari taman ini.

Arsitektur Portugis yang dipadu dengan unsur lokal (Jawa) membuat tempat ini selalu lekat dengan kisah-kisah masa lalu yang terjadi di Nusantara. Catatan sejarah mengenai tempat ini menyebutkan bahwa Taman Sari dahulunya dibangun dengan tujuan untuk dipergunakan sebagai tempat penentraman hati, istirahat, dan berekreasi. Namun, bangunan ini juga dipersiapkan untuk menghadapi situasi bahaya.

Cerminan benteng besar nan tinggi dapat dilihat pada Gerbang Agungs saat memasuki Taman Sari. Benteng itu masih terlihat kuat dan indah. Untuk selebihnya, bangunan Taman Sari justru didominasi oleh runtuhan-runtuhan bangunan.  Meski begitu, bangunan yang sudah tidak utuh lagi tersebut masih tetap kuat mengandung keindahan.

Puing-puing bangunan tersebut seakan bercerita kepada pengunjung tentang nilai-nilai klasik yang masih melekat. Semuanya sarat akan sejarah. Puing-puing itu tetap dibiarkan bercerita, karena jika diperbaiki dengan dibangun ulang atau direnovasi terlalu dalam, justru akan menghilangkan keasliannya.

Ada pula sebuah batu, yang dibiarkan tetap tergeletak di atas tanah tanpa dipindahkan. Batu tersebut berbentuk kepala besar yang patah dari bangunan atas ketika gempa melanda Yogyakarta. Tembok-tembok juga  ada yang dibiarkan tinggal separo saja.

Puing-puing tersebut seakan bercerita bahwa tempat ini, beberapa tahun yang lalu sempat menjadi saksi sejarah. Keklasikannya menunjukkan peradaban yang jauh berbeda dengan apa yang ada saat ini. Di mana kebanyakan orang saat ini ingin hidup modern. Satu hal yang pasti dapat dilihat, Taman Sari Yogyakarta menyimpan cerita, tentang peradaban dan sejarah masa lalunya.

Sumber gambar: tempatwisataindonesia.id

1

Yuk, Dapetin Konten Keren di Email

Kita pilihkan konten yang pasti kamu suka. Masukkan emailmu