Tak Selamanya Kerja Keras Bagai Kuda Itu Baik, Inget Ngopi Kuy..
Sumber gambar: blog.sina.com.cn
in

Tak Selamanya Kerja Keras Bagai Kuda Itu Baik, Inget Ngopi Kuy..

UGET-UGET | Kerja keras memang perlu, jika itu adalah satu-satunya jalan untuk meraih masa depanmu. Namun ternyata, bekerja terlalu keras, hingga bagai kuda, itu nggak baik buat kesehatan maupun karir kamu lho. Khususnya bagi kamu pekerja kantoran, terlalu banyak mengambil lembur, demi bonusan yang terkadang tidak sebanding dengan ongkos kesehatan, itu buruk, lho.

Di Indonesia, rata-rata pekerja bekerja sebanyak delapan jam sehari dalam 5 hari sepekan, total 40 jam sepekan. Bahkan, di daerah tempat saya tinggal, ada toko-toko biasa yang mempekerjakan karyawan hingga 12 jam sehari. Tidak perlu saya jumlah, terlalu mengenaskan tampaknya jika dibandingkan dengan pekerja kantoran.

Jika melihat dari data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik, bulan Februari 2018 lalu, lebih dari 30 juta penduduk Indonesia bekerja antara 35 hingga 44 jam selama sepekan. Sementara itu, 28 juta orang bekerja sebantak 45 hingga 54 jam sepekan.

Lalu perhitungan gaji? Tunjangan kesehatan maupun fasilitas yang menjaga mental pekerja? Ah, tidak perlu disebutkan, ya. Itu hanya ada di perusahaan-perusahaan besar.

Lain wilayah, lain isinya. Lain pula peraturannya. Masalah jam kerja barangkali menjadi persoalan krusial di negara-negara Barat sana. Mengingat, setiap warga negaranya sadar akan kemampuan, cara menghargai diri sendiri, serta mengetahui hak-hak apa saja yang dimiliki oleh seorang pekerja. Sebagai contoh adalah Basecamp, perusahaan aplikasi yang bermarkas di Chicago, Amerika Serikat.

Di hari biasa, para karyawan perusahaan ini bekerja selama lima hari sepekan, seperti pada umumnya perusahaan lain di seluruh dunia. Namun, antara bulan Mei hingga September, 54 karyawan yang bekerja di perusahaan ini diberikan waktu khusus untuk bekerja selama 4 hari dalam sepekan. Totalnya 32 jam

“Waktu yang cukup banyak untuk menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Hal inilah yang kami harap dan inginkan dari karyawan,” ujar salah satu pendiri Basecamp, Jason Fried, dilansir dari CNBC.

Tak Selamanya Kerja Keras Bagai Kuda Itu Baik, Inget Ngopi Kuy..
Sumber gambar: blog.sina.com.cn

Menurutnya, bekerja sebanyak 50, 60 tau 70 jam itu tidak perlu. Malahan, jika sampai ada perusahaan memaksa karyawannya bekerja sebanyak itu, dirinya menganggap ada yang salah dengan manajerial perusahaan.

Jam Kerja dan Karir

Apa yang disampaikan oleh Fried mirip dengan hasil penelitian terbaru dari University of London. Dalam penelitian tersebut, mereka menemukan bahwa bekerja keras secara teratur dapat berakibat serius bagi kesejahteraan. Selain itu, berpengaruh juga pada kinerja profesional.

Penelitian yang dilakukan oleh Argyro Avgoustaki dan Hans Frankfort ini mengamati dua metode kerja yang berbeda, yaitu kerja lembur dan intensitas kerja atau seberapa besar tenaga fisik atau mental yang digunakan saat bekerja.

Dalam penelitian tersebut, kedua peneliti ini menganalisis data dari 50 ribu karyawan yang bekerja di berbagai industri yang ada di 36 negara Eropa, termasuk salah satunya adalah Inggris. Hasilnya, baik lembur maupun intensitas kerja berhubungan dengan stress, kelelahan dan tingkat kepuasan kerja.

Selain itu, kedua metode kerja tersebut juga berkaitan erat dengan tingkat proses karir, keamanan dan pengakuan hasil kerja. Hal ini menunjukan, karyawan yang merasa bekerja terlalu keras dan mendapatkan kerja tambahan, akan merasa kurang diperhatikan oleh perusahaan jika membandingkan diri dengan karyawan lain.

Written by Biru Samudra

Penikmat film, sastra, musik dan penyuka bola musiman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Festival Pesona Pulau Moyo 2018: Menikmati Keindahan Alam Berbalut Seni dan Budaya

Festival Pesona Pulau Moyo 2018: Menikmati Keindahan Alam NTB

5 Lagu Jepang dan Indonesia Ini Musiknya Terdengar Mirip, Apa Saja Ya

5 Lagu Jepang dan Indonesia Ini Musiknya Terdengar Mirip, Apa Saja Ya?