Suara-Suara Kejujuran Silampukau
Sumber gambar: www.lytmedia.com
in

Suara-Suara Kejujuran Silampukau

UGET UGET – Dalam persepsi luas, musik adalah rangkaian bunyi yang terorganisir. Namun bagi Silampukau, musik adalah rangkaian peristiwa kehidupan yang diorganisir ke dalam rangkaian bunyi.

Begitulah kesan pertama ketika saya tak sengaja mendengarkan lagu Silampukau yang diputar di sebuah warung kopi di Jogja. Vokal yang tak mendayu-dayu, lirik yang tak jauh dari keseharian serta terkesan jujur, sejujur nada yang keluar dari alat musik.

“Hari-hari berulang, diriku kian hilang. Himpitan hutang. Tagihan awal bulan… Tujuh tahun berlalu, impianku tersapu di Surabaya: gagal jadi kaya.”

Lirik-lirik ini serasa menghisap kesadaranku, seakan mewakli perjalanan rantau yang juga sudah berlangsung lama. Aku telah merantau, mengejar ijazah, berharap menjadi kaya. Namun semakin hari semakin tak ada perubahan. Hari-hari berhenti di warung kopi, hidup dengan kiriman orang tua dan hutang dari teman.

Aku merasa hening sendiri di warung kopi malam itu. Bahkan setelah lagunya selesai dan digantikan penyanyi lain, musiknya masih terus terngiang di kepala. Lantas kubuka Youtube, memasang earphone, dan menenggelamkan diri bersama Silampukau. Tak peduli obrolan kawan-kawan di sekitar, tak peduli kopi yang semakin dingin.

Rasanya saya tengah mendengarkan sebuah karakter musik yang kini mulai susah ditemukan. Mengangkat tema keseharian yang begitu jujur, tapi tidak digarap sefrontal Iwan Fals, namun juga tidak banyak menggambarkan keindahan khas balada-balada Franky Sahilatua.

Meski mengangkat tema keseharian, tapi terkesan tidak cengeng, apalagi dibuat-buat. Rasanya seperti mendengarkan obrolan seorang kawan di warung kopi. Tentang persoalan-persoalan di sekitar, terutama tentang diri sendiri.

Satu-persatu kuputar lagunya yang ternyata sudah lengkap satu album di Youtube. Semua berjumlah sepuluh lagu yang terkumpul dalam album Dosa, Kota, dan Kenangan. Semakin aku mendengarkan lagunya, semakin keterpukauanku meningkat pada sosok dua lelaki yang belakangan kutahu bernama Kharis Junandharu dan Eki Tresnowening.

Silampukau adalah band indie asal Surabaya. Hanya beranggotakan duo Kharis dan Eki. Keduanya memainkan gitar sambil bergantian bernyanyi. Suaranya begitu khas, tidak dibikin frontal namun tidak mendayu seperti suara-suara artis dadakan dalam ajang pencarian bakat.

Silampukau dimulai ketika Eki (yang berjenggot dan suaranya ngebass) dan Kharis (agak culun khas mahasiswa) bermain bersama di salah satu orkes keroncong. Dari situ mereka memutuskan membentuk Silampukau. Kata Silampukau sendiri adalah nama lain dari burung kepodang, burung kuning keemasan dengan kicau yang merdu.

Sebagai band, Silampukau terhitung tidak terlalu produktif. Pertama kali mengeluarkan album pada 2009, album kedua baru muncul pada 2015, Dosa, Kota, dan Kenangan. Jejak album pertamanya pun sangat susah didapati.

Pada album kedua, mereka lebih banyak berbicara tentang kehidupan kelas menengah ke bawah di Surabaya. Seseorang yang merantau demi penghidupan layak, namun yang ia temui hanyalah kehidupan kota yang suram.

Ada lagu Si Pelanggan yang bercerita tentang Dolly sebagai ikon kehidupan malam, tempat pelepasan hasrat jalang semua pria Surabaya. Meski telah ditutup, Silampukau secara jujur mengatakan bahwa, yakinlah, pelacur dan mucikari ‘kan hidup abadi. Selama ada lelaki, mungkin selama itu pula pelacuran akan berdiri.

Lagu Malam Jatuh di Surabaya adalah salah satu lagu yang sering terngiang-ngiang sendiri dalam pikiranku, ketika matahari mulai surup. Lagu itu merefleksikan sebuah perasaan mendalam seorang perantau di kota. Ada maksud yang samar namun bisa dirasakan oleh siapapun yang pernah merantau. Bagaimana kerinduan, kenangan, masa lalu kampung sendiri yang tak akan pernah ditemui di kota rantau.

Perpindahan hari menjadi malam. Momen yang sebentar ini adalah momen yang begitu lirih dan hening untuk mengingat kembali masa-masa yang penuh kenangan. Namun Silampukau sangat pandai menangkapnya: Maghrib mengambang lirih dan terabaikan, Tuhan kalah di riuh jalan. Orkes jahanam mesin dan umpatan.

Begitulah perasaan perantau menangkap momen surupnya matahari. Namun selalu dihalangi oleh riuh kota yang tak pernah mati. Rasanya tak ada waktu istirahat dan mengenang masa-masa yang indah sebelum akhirnya terjebak di sebuah kota.

Malam itu, ketika pertama kali mendengar Silampukau, serasa mendapatkan seorang kawan yang bernyanyi dan memiliki permasalahan yang sama. Lagu-lagu itu mengalun layaknya bercerita padaku tentang masa-masa hidupku sendiri.

Sumber gambar: www.lytmedia.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Pengiriman Perhiasan Emas Seharusnya Bisa Melalui Kantor Pos Indonesia Lho

Pengiriman Perhiasan Emas Seharusnya Bisa Melalui Kantor Pos Indonesia Lho

Wadjda Dunia di Balik Cadar

Wadjda: Dunia di Balik Cadar