SIPA 2018: Festival Tari di Kota Solo
Sumber gambar: Kultural.id
in

SIPA 2018: Festival Tari di Kota Solo

UGET-UGET | Solo sebagai pewaris Kerajaan Mataram, selain Yogyakarta, memiliki cara tersendiri untuk menjaga dan mengembangkan tradisi. Setiap tahunnya, kota yang masih memiliki Kasunanan Surakarta sebagai salah satu kerajaan di Indonesia yang masih bertahan ini, menyelenggarakan festival tari bertajuk Solo International Performance Arts (SIPA).

Tahun 2018 ini menjadi tahun kesepuluh penyelenggaraan SIPA di Solo. SIPA adalah pagelaran seni pertunjukkan berskala internasional yang digagas oleh Raden Ajeng Irawati Kusumorasri, seorang seniman, koreografer tari dan penari tetap Istana Mangkunegaran, Keraton Surakarta.

Setiap tahunnya, penyelenggaraan SIPA selalu melibatkan penampil dari berbagai latar budaya. Ribuan seniman dari berbagai negara, seperti Malaysia, Singapura, Chilli, Australia, Vietnam, Thailand, pernah berpartisipasi dalam festival ini.

Selain itu, SIPA juga turut melibatkan generasi muda seniman lokal. Hal itu tentunya dilakukan dengan harapan agar mereka bisa menjadi penjaga ketahanan budaya Indonesia. Semangatnya tak sekedar memfungsikan seni pertunjukkan untuk persoalan kesenian, namun juga seni pertunjukkan, baik tradisi maupun kontemporer, yang bisa menjadi sarana memunculkan semangat kebersamaan.

Dalam penyelenggaraannya, SIPA menyiapkan lima ribu tempat duduk untuk penonton yang ingin menyaksikan keindahan karya-karya koreografis yang ditampilkan di atas panggung sepanjang 33,7 meter.

SIPA 2018: Festival Tari di Kota Solo
Sumber gambar: Kultural.id

We Are The World, We Are The Nation

Pada penyelenggaraan tahun ini, SIPA mengambil tema “We Are The World, We Are The Nation”dalam pelaksanaannya. Menurut rencana, acara ini akan digelar pada 6-8 September mendatang di Benteng Vastenburg, Solo.

Direktur SIPA, Irawati Kusumorasri menyampaikan, pemilihan tema tersebut sesuai dengan pesan moral yang akan disuarakan dan digelorakan di panggung tahun ini. Menurutnya, dunia sedang membutuhkan semangat “We Are The World, We Are The Nation”.

“Semua manusia yang ada di bumi merupakan satu bangsa dan satu dunia. Oleh karena itu, dengan perbedaan bahasa, warna kulit, adat dan tradisi serta bangsa itu menjadi satu kekuatan bersama. Kesemua hal tersebut menjadi satu dalam semangat panggung SIPA 2018,” jelasnya seperti dilansir dari InfoNawacita.com.

Digelarnya SIPA di salah satu kawasan peninggalan sejarah, Benteng Vastenburg, diharapkan bisa menjadi salah satu langkah untuk generasi sekarang berusaha lebih dalam menggali sejarah bangsa.

SIPA 2018 ini memilih Melati Suryodarmo, alumnus UNiversitas Padjajaran Bandung jurusan Hubungan Internasional, sebagai mascot pertunjukkan. Karya-karya Melati sendiri banyak mengangkat tema kemanusiaan dan filsafat kebudayaan dalam fenomena sehari-hari di masyarakat.

Selain pertunjukkan seni, seperti biasanya, akan hadir juga sajian lain yang bisa dipastikan dapat menghibur pendatang. Di antara sajian tersebut adalah seni musik dan teater. Selain itu, juga akan disajikan bazaar dari berbagai produk kebudayaan, seperti batik,kerajinan tangan dan tak ketinggalan, produk-produk kuliner khas Solo.

Biru Samudra

Written by Biru Samudra

Penikmat film, sastra, musik dan penyuka bola musiman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Viral Tren Fish in Collarbone Challenge Indikator Perempuan yang Kurus dan Seksi

Viral Tren Fish in Collarbone Challenge: Indikator Perempuan yang Kurus dan Seksi

Fans JKT 48 Nangis Histeris Ketika Melody Mengumumkan Kelulusannya, Tim OVJ Trans 7 Memberikan Kejutan kepada Fans Tersebut

Fans JKT 48 Nangis Histeris Ketika Melody Mengumumkan Kelulusannya, Tim OVJ Trans 7 Memberikan Kejutan kepada Fans Tersebut