Pola Sinetron Indonesia Dipandang Dari Segi Karya Sastra
Sumber gambar: www.serumpi.com
in

Pola Sinetron Indonesia Dipandang Dari Segi Karya Sastra

UGET UGET – Menelisik tentang masa SMA dulu, mungkin kita pernah belajar tentang unsur intrinsik di dalam karya sastra, entah itu berupa cerpen, naskah drama, atau novel. Di dalam unsur intrinsik kita diajarkan bahwa karya sastra pasti memiliki tema, alur, plot, tokoh, dan setting.

Memang sebuah sastra tanpa konflik ibarat sayur tanpa garam. Walaupun memang terkadang pada saat SMA kita menyepelekan pembelajaran tersebut, tapi di dalam unsur intrinsik terdapat yang namanya tokoh protagonis dan antagonis. Dalam pembelajaran unsur intrinsik yang dapat kita petik dalam kehidupan nyata ialah tokoh protagonis dan antagonis memang benar adanya. Dengan berbagai macam konflik yang menurut kita sepele tetapi beberapa orang menggangapnya sangat serius.

Di dalam unsur tokoh juga terdapat tokoh pembantu. Tokoh pembantu ini bersifat netral dan kebanyakan tidak masuk ke dalam kategori protagonis atau antagonis.

Menelisik kondisi sinetron Indonesia sekarang ini, tokoh pembantu hanya bersifat nggenepi (membuat pas). Kita lihat lagi beberapa sinetron melegenda seperti Mak Lampir. Selalu memiliki tokoh pembantu, yang berfungsi untuk gojegan (menghibur) setelah terjadi konflik atau setelah terjadi obrolan serius. Kenapa ada tokoh-tokoh seperti di atas? Mereka berperan sebagai penyeimbang dialog atau dalam konflik. Sampai sekarangpun pola seperti itu masih diterapkan di sinetron terbaru.

Membandingkan sinetron di luar negara kita seperti di Korea Selatan, tokoh pembantu jarang ada. Terus bagaimana gojegan, apakah tetap ada? Biasanya sinetron Korea Selatan menggunakan karakter tokoh dan dibenturkan dengan keadaan yang menimbulkan nuansa lucu. Sehingga si penonton yang sangat tentang karakter tokoh menjadi tertawa.

Dua perbedaan ini mungkin tidak akan kelihatan ketika kalian sekarang menonton sinetron Indonesia dengan sinetron Korea selatan.

Jangan bertanya penulis kenapa menggunakan kata sinetron bukan drama saja? Karena penulis ingin membiasakan perbendaharaan kata yang sama untuk negara lain. Sehingga tidak terjadi hierarki karya. Pertanyaannya adalah: apakah pola tersebut muncul dalam kehidupan sehari-hari?

Pola-pola ini memang terjadi dalam kehidupan sehari-hari karena manusia diciptakan oleh Tuhan dengan karakter berbeda-beda. Sehingga memang karya sinetron yang kita tonton selama ini ialah cermin dari personifikasi dalam masyarakat kita.

Sumber gambar: www.serumpi.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Festival Melupakan Mantan 2018 Urip Sing Sangsaya Ngrasuk Budi

Festival Melupakan Mantan 2018: Urip Sing Sangsaya Ngrasuk Budi

Menikah Bukan Hanya Perkara Dua Hati

Menikah Bukan Hanya Perkara Dua Hati