Sindrom Putri Tidur Raisa Echa Bagai Kisah Di Negeri Dongeng uget uget

Sindrom Putri Tidur Raisa Echa Bagai Kisah Di Negeri Dongeng

UGETUGET – Kisah Putri Tidur (Sleeping Beauty) yang difilmkan Disney nyata ada di Indonesia. Kemunculan berita Siti Raisa Miranda, gadis kelahiran Banjarmasin, Kalimantan Selatan yang tertidur selama 13 hari ini mampu menggemparkan jagat maya. Berdasarkan keterangan dokter, dia didiagnosis mengidap sindrom putri tidur.

Gadis yang kerap disapa dengan panggilan Echa ini telah kali ketiga mengalami tidur panjangnya. Terakhir, Echa tertidur sejak 10 Oktober hingga terbangun pada 21 Oktober hanya untuk buang air kecil dan mandi, kemudian melanjutkan tidur kembali hingga 23 Oktober.

Gadis 13 tahun yang kini duduk di bangku SMPN 15 Banjarmasin ini sudah sebulan tidak bersekolah. Saat Echa terbangun pada 23 Oktober, teman-temannya datang menjenguk. Mereka terlihat membisiki dan memegang tangan Echa. Sayangnya, pandangan mata Echa masih kosong dan tampak duduk mematung.

Echa juga sempat diperiksakan ke Rumah Sakit untuk dilakukan CT scan dan MRI, namun ternyata tdak ditemukan adanya kerusakan syaraf apapun. Kasus ini memang tergolong langka. Bahkan beberapa sumber mengatakan, ini menjadi kasus pertama di Indonesia.

Kasus putri tidur tidak hanya dialami Echa, sebelumnya sudah ada kasus-kasus sindrom putri tidur di belahan dunia lain. Terangkum dalam video di bawah, ada 5 putri tidur di dunia nyata. Pertama adalah Kaitlyn Terrana yang bisa tidur selama 20 jam setiap harinya. Kedua, ada wanita asal Inggris, Lousisa Ball yang bisa tidur 13 hari berturut-turut.

Bahkan kasus yang dialami Echa masuk dalam urutan ke-3. Kemudian ada Imaarl Duprey asal London yang mampu mencetak rekor tidur terlamanya selama 59 hari. Sedangkan, Nicole Delien dari Pennsylvania yang bisa tidur selama 18-19 jam setiap harinya, bahkan sempat mencetak rekor tidur hingga 64 hari.

Tidur selama berhari-hari mungkin menjadi hal yang tidak bisa diterima awam ya. Akan banyak waktu yang terlewat bersama teman-teman dan keluarga. Bahkan dalam kasus Echa, dia harus mengesampingkan pendidikan dan hobinya dalam bernyanyi.

Padahal, manusia bisa menghabiskan waktu tidurnya dengan akumulasi 17 tahun dari rata-rata 50 tahun usia hidupnya. Tidak dapat dibayangkan berapa lama akumulasi waktu yang dihabiskan bagi para penderita sindrom putri tidur ini untuk tidur dalam hidupnya.

Biasanya penderita setelah bangun akan mengalami kondisi linglung, seperti yang dialami Echa. Meskipun akhirnya dia bisa tersadar sepenuhnya, namun Echa tetap mengalami perubahan emosi. Bila ini terjadi pada anak seusianya, perlu adanya penanganan khusus – tidak hanya sekadar diberi obat untuk menstimulus rasa bahagia. Biar bagaimana pun, mereka adalah generasi penerus bangsa yang sepatutnya hidup dalam dunia nyata serta mampu berkontribusi bagi bangsa dan negara.

Sumber gambar: www.flickr.com

Yuk, Dapetin Konten Keren di Email

Kita pilihkan konten yang pasti kamu suka. Masukkan emailmu