Si Kakak Selalu Ingin Tampil Sebagai Malaikat Penolong Bagi Adiknya
Sumber gambar: www.tranquilomat.com
in

Si Kakak Selalu Ingin Tampil Sebagai Malaikat Penolong Bagi Adiknya

UGET UGET – Seorang yang disebut kakak biasanya memegang banyak tanggung jawab daripada adiknya. Sebagai orang yang lebih tua, seorang kakak diharapkan bisa melindungi, membimbing, dan mengayomi adiknya. Inilah kenapa biasanya kakak selalu lebih bijaksana. Selalu ada saja hal-hal yang bisa membuat adiknya menilai kakaknya sebagai sang malaikat penolong baginya.

Tak melulu hubungan kakak-adik selalu akur. Ada kalanya memang pertengkaran kecil mewarnai perjalanan hidup mereka. Perselisihan dan perbedaan pendapat itu wajar apabila terjadi. Di balik sikap nyebelinnya kakak, atau di balik sifat cengengnya adik, toh mereka berdua tetap saling menyayangi.

Saat emosi mungkin saja saling adu mulut, bahkan ingin sekali rasanya sang kakak atau si adik musnah dari pandangannya. Namun rasa kesal itu tak akan bertahan lama. Biar bagaimanapun, kakakmu adalah sosok yang selama ini selalu melindungimu, terutama dari omelan orang tua.

Seorang adik biasanya masih begitu polos, dan masih belum memahami betul mana yang benar dan salah. Akhirnya, sering kali kelakuan sang adik bikin orang tuamu naik pitam. Jangankan kamu, kelakuan adikmu itu juga bikin kesal mama, misalnya. Tapi sebagai sosok yang sudah berpengalaman bertengkar dengan adikmu, lama kelamaan kamu mulai memakluminya.

Rasanya sebagai kakak yang baik, ingin sekali menjadi sosok pahlawan bagi sang adik. Saat adikmu sedang dimarahi karena perbuatannya yang keliru, rasanya kamu ingin tampil sebagai sosok penengah. Iba juga melihatnya dimarahi seperti itu. Biasanya kakak memang lekat dengan sikapnya yang lebih dewasa dan bijak. Dan itu sudah menjadi semacam tuntutan baginya.

Meski kerap dibuat kesal oleh si adik. Tetap saja sebagai kakak, kamu ingin tampil hebat dan mandiri. Kamu ingin dipercaya sudah bisa menyelesaikan masalah, menjadi pendamai, dan semakin bijak. Misalnya dalam kasus-kasus seperti ini nih.

“Aduhhh adek, kenapa vas Mama kamu pecahin sih? Ini cuma satu-satunya kenang-kenangan dari teman Mama…”
“Adek nggak sengaja, maaf Ma…”
“Kamu tuh makanya kalau lari-larian di halaman saja. Jangan di dalam rumah. Kalau sudah begini gimana… Bukan masalah harganya sih, tapi kenangannya…”
“Udah nggak apa-apa Ma, nanti biar aku yang bantu ganti vasnya. Toh adek juga nggak sengaja dan sudah minta maaf. Besok nurut kata Mama ya, Dik…”

“Dik Desta! Ini kenapa tirainya kamu coret-coret pakai crayon begini? Siapa yang ngajarin kayak gini!? Mama nggak mau tahu pokoknya pulang dari kerja, ini semua sudah harus bersih.”
*Adik menangis tersedu-sedu*
“Ya sudah nanti dibersihkan ya Dik. Nanti kakak bantu deh. Besok-besok jangan diulangi lagi ya. Kalau mau gambar di kertas saja. Kemarin kan Mama sudah belikan buku gambar baru. Oke?
“Oke kak..”
“Ya sudah jangan nangis lagi dong. Malu sudah besar kok masih nangis…”

Sumber gambar: www.tranquilomat.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Hikayat Hang Tuah Masih Berlayar

Hikayat Hang Tuah Masih Berlayar

Humor Sarkasme, Tanggapi Saja dengan Tawa Sumringah

Humor Sarkasme, Tanggapi Saja dengan Tawa Sumringah