Sepuluh Tangga yang Harus Didaki untuk Hidup Bahagia
Sumber gambar: www.blogmamen.com
in

Sepuluh Tangga yang Harus Didaki untuk Hidup Bahagia

UGET UGET – Lagi-lagi, hidup bahagia akan menjadi bahasannya. Kita tahu semua orang menginginkan itu. Tapi tidak semua orang bisa merasakannya. Hidup bahagia itu gampang-gampang sudah. Padahal sebenarnya bahagia itu bisa berasal dari diri kita sendiri. Selagi kita bisa benar dalam bersikap dan menata emosi.

Tempo hari, saya membaca sebuah postingan di sebuah fanpage Action for Happiness, di sana tertulis sepuluh langkah untuk hidup bahagia, versi @sylviaduckwort. Kesepuluh langkah itu bagaikan sebuah tangga yang harus kita daki untuk sampai pada kebahagiaan yang sejati.

Tangga pertama atau paling bawah, complain less, appreciate more.

Ditangga yang paling bawah ini, kita harus belajar untuk bisa mengapresiasi sesuatu dan berhenti mencela. Manusia biasanya banyak mengeluh. Ini lah yang salah. Untuk bisa bahagia, kita harus lebih sering mengapresiasi. Dengan begitu, ada rasa cukup puas dalam hati yang pada akhirnya dapat berujung bahagia.

Tangga kedua, watch less, do more.

Selanjutnya, kita harus lebih banyak melakukan sesuatu dari pada hanya menjadi penonton saja. Tidak cukup hanya sekadar menyaksikan, kebahagiaan itu perlu dicapai, dan untuk mencapainya kita harus melakukan sesuatu.

Tangga ketiga, judge less, accept more.

Di tangga ketiga ini, kita dituntut untuk lebih bisa banyak menerima dibanding menghakimi. Sikap kita yang sering menghakimi bisa saja menghadirkan masalah. Untuk itu, kita harus belajar untuk lebih bisa menerima sesuatu. Bersyukur menerima sesuatu itu bagaimanapun keadaannya.

Tangga keempat, fear less, try more.

Ingin hidup bahagia? Jangan mudah takut dan banyaklah mencoba hal-hal baru. Dengan begitu kita akan memperoleh warna baru di hidup kita. Ketakutan hanya akan membatasi diri kita sendiri untuk merasakan bahagia, dan dengan berani mencoba kita akan lebih berpeluang besar merasakan bahagia.

Tangga kelima, talk less, listen more.

Sedikit bicara dan banyaklah mendengarkan, karena dengan begitu kita tidak hanya melulu memperbincangkan sesuatu, tetapi kita juga perlu mendengarkan sesuatu. Bahagia itu bisa kita peroleh dari orang-orang di luar diri kita, untuk itu, penting pula untuk mendengarkan mereka, termasuk juga mendengarkan dunia.

Tangga keenam, frown less, smile more.

Banyak senyum, gaes, daripada cemberut terus. Ini dia salah satu cara untuk bahagia. Senyum. Penting sekali untuk tersenyum. Senyum bukan hanya menghadirkan bahagia untuk diri sendiri, tapi juga orang lain yang melihatnya. Dari pada berkerut dahi dan muram? Bahkan orang lain saja sebal melihatnya.

Tangga ketujuh, consume less, create more.

Kali ini, untuk hidup bahagia, kita ditantang untuk bisa menciptakan sesuatu. Harus lebih banyak menghasilkan daripada mengkonsumsi atau menggunakan. Dengan begitu, kita akan mendapat keuntungan dan membuat kita lebih kreatif, bukan sebaliknya.

Tangga kedelapan, take less, give more.

Memberi adalah salah satu kunci bahagia. Untuk itu, di tangga kedelapan ini kita diminta untuk lebih banyak memberi dari pada menerima. Memberi akan menghadirkan kebahagiaan pula kepada orang lain, dan percaya atau tidak, saat kita mampu memberi sesuatu kepada orang lain, ada kelegaan dan kesenangan tersendiri di dalam hati ini.

Tangga kesembilan, worry less, dance more.

Mari kita menari dan bahagia dari pada sibuk mencemaskan sesuatu. Tidak ada gunanya sebuah kecemasan yang berlebihan. Lebih baik have fun dan menikmati hidup ini. Cemas boleh, tapi jangan banyak-banyak. Ingat, kita harus bahagia.

Tangga puncak atau kesepuluh, hate less, love more.

Ini kunci paling pentingnya. Jangan sampai kita membenci seseorang atau sesuatu secara berlebihan, apalagi sampai dendam, itu hanya akan merusak hati dan menjauhkan kita dari bahagia. Untuk itu, belajarlah lebih banyak mencintai hal-hal di dunia ini. Kita percaya bahwa cinta sejatinya akan menghadirkan kebahagiaan. Bukankah begitu?

Sumber gambar: www.blogmamen.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Sampah Visual (Bukan Visual Arts) Fenomena The Tragedy of Commons

Sampah Visual (Bukan Visual Arts): Fenomena The Tragedy of Commons

Lebih Dari Kereta Cepat, Hyperloop Siap Dibangun di Indonesia

Lebih Dari Kereta Cepat, Hyperloop Siap Dibangun di Indonesia