Sepakbola dan Kenanganku Pada Sandiwara Radio
Sumber gambar: indobolaforum.com
in

Sepakbola dan Kenanganku Pada Sandiwara Radio

UGET UGET – “Salam dari Australia. PSM selalu di hati. Ewako PSM!”

Begitu pesan yang dikirimkan salah seorang kawan di laman jejaring sosial. Dengan gambar dirinya yang sedang selfie di dalam kamar kos, di belakangnya terbuka laptop yang mengabarkan dia sedang menyaksikan sepakbola secara live streaming. Dia di Australia. Kini tengah menonton pertandingan PSM, sementara aku sambil leyeh-leyeh di dalam kamar memandangi layar televisi, menyaksikan PSM pula.

Aku tak membalas pesannya. Pikiranku malah menerawang jauh, melewati kenangan dari tahun-tahun silam, menuju suatu sore di tahun 2006. Ketika itu aku baru menginjak sekolah menengah atas bersamanya di sebuah pondok pesantren di Sulawesi Selatan. Seperti anak-anak pada umumnya, masa SMA adalah masa mengalami segala hal yang berada di luar batas kewajaran. Apa yang dilarang akan dikerjakan, sementara kewajiban adalah sesuatu yang tak ingin dikerjakan.

Begitulah aku dan dia mulai mencintai sepakbola sebagai sesuatu yang berada di luar kewajaran. Pesantren kami jauh dari Makassar, kandang PSM, jika hendak menyaksikan langsung di stadion. Untuk menonton di saluran televisi kami tak bisa. Meski pun pesantren kami tergolong modern dan menyediakan sarana televisi, namun televisinya tidak boleh dinyalakan kecuali jam makan.

Jadilah kami “menonton”, dan itulah satu-satunya cara, lewat siaran radio RRI Makassar yang setiap minggu menyiarkan langsung pertandingan PSM. Jangan kira kami mendengar siarannya sambil tiduran di atas kasur. Radio pun dilarang. Di pesantrenku, semua barang elektronik dan barang-barang yang menghambat keseharian tidak diperbolehkan. Jika ketahuan, barangnya akan disita dan tak pernah dikembalikan sampai lulus dari pesantren.

Dari mana kami mendengarkannya? Aku dan temanku patungan untuk beli radio National lawas. Aku masih ingat betul, harganya lima puluh ribu rupiah, bonus baterai. Lantas radio itu kami titipkan kepada “pedagang gelap” dari kampung yang setiap hari, mulai jam sepuluh pagi hingga jam empat sore menggelar dagangannya di dalam hutan, di luar pagar kawat pesantren. Perjanjiannya, radio itu harus dia bawa setiap PSM bertanding, sementara di waktu lain boleh dipakai si pedagang, asalkan dia mengganti baterainya jika sudah mati.

Setiap pertandingan PSM disiarkan, kami akan duduk di dalam hutan, bersama pedagang dan pembeli gelap itu. Mereka bertransaksi, kami memfokuskan pendengaran dan perhatian pada suara di dalam radio yang bercampur bunyi serak dan lebih sering membuat laporan pertandingan menjadi tidak jelas. Tak peduli gigitan nyamuk, tak peduli suara apapun kecuali suara yang keluar dari radio.

“Pendengar sekalian, berikut kami siarkan langsung dari Stadion Mattoangin pertandingan PSM Makassar. Selamat menikmati.” Begitu laporan penyiar radio RRI yang datar, tanpa intonasi, dan tak ada beda menyiarkan pertandingan sepakbola atau membaca berita.

Namun suasananya berubah seratus persen ketika diambil alih oleh pembawa acara dari stadion. Sedari awal volume suaranya sudah dikeraskan. Pemain PSM membawa bola, suaranya makin keras dan cara bicaranya semakin cepat. Masih di sepertiga wilayah pertahanan musuh, pembawa acaranya sudah teriak. Pemain PSM menendang bola, meski sangat pelan dan jauh dari gawang lawan, dia akan berteriak sangat kencang.

“Saudara-saudara, Ali Kaddafi meliuk-liuk di tengah, menggiring bola, melewati satu pemain lawan. Dia mengumpan saudara-saudara, siapa yang dituju. Nah, Syamsul Chaeruddin maju ke depan, membantu penyerangan. Berlari kencang dia, membawa bola, mengumpan kepada Ahmad Amiruddin yang dikawal ketat bek lawan. Ahmad Amiruddin, masih Ahmad Amiruddin. Berbalik dia, melihat celah. Ahmad Amiruddin menendang. Menendang…dan ah, sedikit saja menyamping dari gawang lawan. Hampir saja saudara-saudara. Hampir saja mengubah skor.”

“Ah….” Tanpa aba-aba kami berdua sontak mengikuti kata “ah” dari dalam radio. Sambil kutepuk jidatku, dia memukul tanah dengan keras. “Tidak apa-apa Amiruddin. Masih panjang waktu. Sebentar lagi.” Dia yang biasanya lebih aktif berbicara, menimpali radio. “Majuko, majuko.” Aku biasanya hanya menyemangati.

Momen yang paling ditunggu tentu saja ketika PSM memasukkan bola ke dalam gawang lawan. Aku tak habis pikir, bagaimana caranya orang yang sedang duduk jongkok, tanpa meluruskan kaki, serta-merta melompat. “Gooll…!” Lantas kami akan bernyanyi, “Ewako PSM, ewako PSM. La..la..la..la..la…”

Aku tak pernah tahu, mungkin kami lebih bahagia dibanding pemain yang memasukkan bola ke dalam gawang. Sebab, aku tak pernah memasukkan bola, bahkan dalam pertandingan di pesantren. Jangankan itu, menggiring bola pun aku tak pernah bisa. Sama saja dengan dia. Kami tak pernah bisa bermain bola. Namun, suara dari dalam radio, ditambah dengan imajinasi kami yang mungkin melebihi besarnya lapangan bola, membuat sore-sore kami tak akan pernah dilupakan.

Sore yang membuat sore ini, ketika pesannya di jejaring sosial kuterima, lantas kubalas dengan gambar pesantrenku dahulu, tak lupa dengan kata-kata, “Kalau kau pulang lagi ke Sulawesi, belikan ka radio nah.”

Sumber gambar: indobolaforum.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Usia 22 Tahun Menjadi Momen yang Penuh dengan Tantangan

Usia 22 Tahun Menjadi Momen yang Penuh dengan Tantangan

Pantai Parangtritis Malam Hari, Ketika Debur Ombak dan Kegundahan Hati Menyatu

Pantai Parangtritis Malam Hari, Ketika Debur Ombak dan Kegundahan Hati Menyatu