Melihat Seni Kaligrafi di Tengah Seni Rupa
Sumber gambar: arab-aa.com
in

Melihat Seni Kaligrafi di Tengah Seni Rupa

UGET UGET – Di Barat, seni kaligrafi termasuk Seni Minor. Dibandingkan dengan seni rupa atau seni musik, peminatnya hanya terbatas di kalangan tertentu. Apresiasi terhadap seni kaligrafi hanya sebatas fungsi saja, itu pun hanya dijadikan penghias buku atau dekorasi. Maka bisa dipahami, perkembangan seni kaligrafi di Barat kurang terekam jika dibandingkan seni lainnya, baik di ranah praktik maupun teoritik.

Seni kaligrafi sebagai salah satu bentuk ekspresi seni tulisan mendapatkan momentumnya seiring perkembangan Islam. Di Arab sebelum kedatangan Islam, masyarakat memiliki tradisi untuk menempelkan puisi-puisi terbaik di dinding Ka’bah. Puisi-puisi tersebut berisi pujian-pujian yang dialamatkan kepada Tuhan. Penilaiannya pun tidak hanya berdasarkan aspek-aspek kebahasaan saja, juga mencakup aspek keindahan tulisan.

Sebagai contoh terlihat dari bagaimana seni kaligrafi bisa memperkuat keindahan dari arsitektur dari bangunan tradisional Islam, seperti; Istana Alhambra di Spanyol, Kubah Batu di Yerusalem atau Taj Mahal di India.

Seniman kaligrafi memiliki peran penting dalam masa-masa awal penulisan Quran di perkamen. Sabda Nabi Muhammad SAW, “Tuhan itu indah dan mencintai keindahan,” diterjemahkan menjadi proses kerja dalam menyusun 6.346 ayat yang terbagi ke dalam 114 ke dalam satu buku yang dihiasi keindahan seni kaligrafi.

Quran yang dituliskan pertama kali ini menyiratkan ketelitian dari para seniman akan estetika; sudut dari setiap akhir dan awal kata yang terpotong rapi, kehati-hatian akan rembesan tinta dan perhatiannya terhadap kertas yang digunakan, penggunaan emas untuk menonjolkan salah satu ayat, keseluruhan digabungkan ke dalam satu proses kerja yang begitu subtil dan terkesan canggih.

Dan kini, Anda tidak perlu memahami bahasa Arab untuk melihat keindahannya, atau untuk melihat kecepatan perkembangan seni kaligrafi yang pada akhirnya berkolaborasi dengan bentuk kesenian lain.

Di museum-museum yang menunjukkan seni Islam, selalu muncul bentuk kata dalam setiap media seni, dari kendi air yang Palestina abad 12 hingga bungkus pena Persia yang dibuat dari gading dan di Muslim Spanyol. Kaligrafi adalah inti dari bentuk kesenian Islam. Namun, yang mencengangkan banyak seniman hingga saat ini adalah mengaplikasikan seni kaligrafi di wilayah arsitektur.

Hal ini bisa dilihat dari 2 juta pengunjung yang senantiasa memadati Istana Alhambra setiap tahunnya. Sebagian besar dari mereka mengaku larut dalam perasaan takjub tatkala memperhatikan detil-detil kaligrafi yang ditorehkan di dinding. Kehalusan guratan dan ketelitian seniman dalam menulis hingga memenuhi penjuru ruangan, termasuk di setiap tiang dan air mancur, seakan membawa mereka menuju keramaaian bahasa yang menyatukan keseluruhan ruang ke dalam satu bagian.

Tentu saja Seni Kaligrafi adalah seni visual. Namun keindahan dan daya magisnya berhasil memberikan nada-nada tak terdengar pada dunia. Guratannya yang mengalir dengan presisi matematis yang sangat tinggi, bisa dilihat sebagai salah satu esensi dari seni Islam.

Sumber gambar: arab-aa.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Replika Surga itu Adalah Segaran

Replika Surga itu Adalah Segaran

The Bride With White Hair

The Bride With White Hair