Semua Berubah Saat Negara Api Menyerang
Sumber gambar: vsking123.deviantart.com
in

Semua Berubah Saat Negara Api Menyerang

UGET UGET – “Air, Api, Tanah, dan Udara; dahulu keempat negara hidup dengan damai. Namun semuanya berubah saat negara api menyerang.”

Bagi anak-anak yang tumbuh dari generasi tahun 1990-an sepertiku, kalimat ini adalah pengantar ke sekolah sambil sarapan. Setiap pagi, kata-kata pembuka yang diucapkan Katara dalam serial kartun Avatar: The Last Airbender garapan Nicklodeon ini mengiang-ngiang di dalam kepala.

Di sekolah, saya dan teman-teman penggemar akan menjadi pendongeng yang ulung di antara teman yang lain, meski saya paham mereka menontonnya juga sebelum berangkat ke sekolah. Namun begitulah, di masa kecil dahulu, bukan masalah siapa yang tahu dan siapa yang tidak. Asalkan bisa menjadi cerita yang hangat, semuanya mengamini.

Lantas kami akan memeragakan satu-persatu jurus yang dipelajari Aang. Seperti yang saya katakan, masa kecil bukan masalah benar dan salah. Asalkan menjadi pembicaraan yang hangat, tak apa bila jurus yang kami peragakan tidak sama persis di dalam ceritanya.

Saya tumbuh bersama Aang, Katara dan Sokka. Begitu pula Dragon Ball, Ninja Hatori, dan beberapa serial kartun lainnya. Saya tumbuh ketika serial kartun sebatas serial untuk dinikmati, bukan menjadi komoditas pasar. Meski suka, tak perlu membeli sepotong baju bergambar Avatar atau Son Go ku, atau sepatu, tas dan semacamnya. Cukup diceritakan, diperagakan, lantas menjadi ingatan masing-masing.

Serial kartun yang belum dimasuki komoditas pasar, rasanya menyegarkan imajinasi, menciptakan sekuel-sekual di dalam pikiran tentang kehidupan yang dijalani di dalam layar kaca. Serial kartun itu membuat saya dan teman-teman menghidupkannya dalam imajinasi, diperagakan, dan sesekali mencoba berimprovisasi.

Setiap selesai sekolah saya berangkat ke ladang bersama teman-teman sebaya. Tentu dalam perjalanan itu kami berunding akan bermain apa. Lantas kami akan berpisah ke ladang masing-masing untuk mencari makan hewan ternak, entah sapi atau kambing, yang telah dipasrahkan oleh orang tua kepada kami.

Setelah kewajiban selesai, kami akan bertemu kembali di tempat yang sudah ditentukan. Suatu kali kami berkumpul di sebuah bukit yang tidak terlalu condong. Kali ini kami akan memeragakan salah satu sekuel yang sering dilakukan oleh Aang: meluncur.

Alat yang paling baik dan aman untuk meluncur dari atas bukit adalah pelepah pohon kelapa. Untungnya, dan memang masih banyak, sangat mudah mencari pelepah-pelepah pohon kelapa. Lantas kami akan meluncur, memeragakan kalimat-kalimat Aang, meski dengan bahasa Indonesia yang tak lancar. Kadang-kadang perkataan Aang diterjemahkan ke dalam bahasa daerah seutuhnya.

Kami akan berhenti ketika ada salah satu dari kami yang menangis. Entah karena terjatuh sendiri, ataukah kena usil dari teman yang lain. Namun, menangis bukan alasan kami berhenti, melainkan beralih permainan. Mungkin polosnya, teman yang jatuh lantas berdarah, tidak pernah dipermasalahkan. Paling-paling dia yang dimarahin ibunya, begitu pikirku.

Kalau sudah nangis, bukannya ditolong, malah tambah dirasani. “Ei, danggi rumbui. Kitai maririmi beluakkana. La messunmi to kekuatan super saiya.” Jangan kau sentuh dia. Lihat, rambutnya mulai menguning. Dia akan berubah menjadi super saiya. Layaknya dalam serial Dragon Ball, Son Go Ku atau Vegeta, baru akan mengeluarkan kekuatan super saiya ketika telah tersakiti. Nah, kalau sudah menangis, mungkin kekuatan super saiya akan dikeluarkan.

Tapi tidak. Tak ada kekuatan super saiya, tak ada kekuatan dari elemen air, api, tanah, atau udara, yang membuat kami menjadi manusia super. Sekali lagi, realitas bagi anak kecil tak penting. Yang penting adalah kehangatan menjalani kehidupan sehari-hari yang polos, tak berdosa, dan tentu imajinatif.

Tak perlu menjadi sentimentil karena menangis. Tak perlu merasa yang paling memiliki kekuatan super karena membeli baju, sepatu, atau tas dari sosok pahlawan dalam serial kartun. Yang pasti, tak perlu merasa paling hebat karena menguasai game-nya.

Kami bebas menafsirkan Avatar. Kami bebas merasa memiliki kekuatan super. Tanpa ada gangguan pasar, tanpa ada gangguan teknologi. Yang ada hanyalah bermain dan berimajinasi sebebas-bebasnya, setinggi-tingginya.

Namun semuanya berubah saat negara api menyerang.

Sumber gambar: vsking123.deviantart.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Mitos Tali Pusar di Berbagai Negara

Mitos Tali Pusar di Berbagai Negara

Satu Kata dari Cewek yang Sering Bikin Gelisah Para Cowok Terserah

Satu Kata dari Cewek yang Sering Bikin Gelisah Para Cowok: Terserah