Sekapur Sirih, Ternyata Memiliki Sejarah Yang Panjang
Sumber gambar: www.globalmandiri.sch.id
in

Sekapur Sirih, Ternyata Memiliki Sejarah Yang Panjang

UGET UGET – Saat membaca buku, baik itu buku sastra, sains, sosial, hingga matematika, saya sering menemukan ucapan sekapur sirih. Ketika itu saya belum paham mengapa harus sekapur sirih. Saya hanya berpikir bahwa mungkin saja itu majas atau metafora yang sudah lumrah digunakan. Tapi, ternyata saya keliru besar.

Sekapur sirih merupakan sejenis ramuan (entah sebagai makanan atau suplemen) yang terdiri dari daun sirih, gambir, dan injet (kapur). Beberapa daerah ada yang mengurangi bahan tersebut, dan ada yang menambahnya dengan buah pala, pinang dan kapulaga. Hal itu dilakukan untuk membuat varian rasa.

Ramuan ini, yang disebut sebagai nginang atau sekapur sirih, ternyata sangat berguna untuk kesehatan. Karena, hampir dari seluruh bahan yang disebutkan tadi, semuanya mengandung antibiotik alami.

DI zaman dulu, nginang menjadi sebuah tradisi yang kerap dilakukan oleh masyarakat di seluruh Nuswantara. Bagi masyarakat, nginang bukan hanya untuk kesehatan saja, melainkan menjadi sebuah ritual dan tradisi untuk menyambut tamu. Ritual inilah yang nantinya disebut dengan sekapur sirih.

Sekapur sirih banyak menyimpan kebijaksanaan leluhur. Ritual ini merupakan ekspresi materiil dari kearifan dan kebijaksanaan nenek moyang.

Di era Nuswantara, sekapur sirih atau nginang merupakan suguhan wajib bagi tamu atau pendatang. Ia selalu menjadi sajian pertama, dimana sang tuan rumah meramu dan menyuguhkan kinang kepada tamu, dan mereka mengunyah serta memakannya bersama-sama.

Jangan dikira rasa dari kinang itu enak. Jika dikunyah terus menerus, maka rasa yang muncul adalah pahit dan pedas, bercampur menjadi satu.

Dari proses ini, saya menjadi tahu bahwa sekapur sirih ternyata menjadi simbol dari sebuah perkenalan, pertemanan, dan persahabatan. Ia menyimpan makna bahwa sepahit dan sepedas apapun ucapan yang terlontar dari mulutmu, sebagai tamu aku akan menerima. Begitu juga sebaliknya, sepedas atau sepahit apapun tanggapan yang terlontar dari mulut tamu, maka sang tuan rumah akan menerima.

Lalu, tradisi ini diadopsi dalam dunia perbukuan. Ia selalu menjadi bab atau sub-bab, yang berisi pengantar dan perkenalan.

Sumber gambar: www.globalmandiri.sch.id

Punkaz D. Singaraska

Written by Punkaz D. Singaraska

Suka dengan teori-teori konspirasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Comments

comments

Pentingnya Sikap Kristis dalam Menghadapi Berita Hoax

Pentingnya Sikap Kristis dalam Menghadapi Berita Hoax

Pacar yang Terlalu Bergantung Tak Sehat Bagi Hubungan Kalian

Pacar yang Terlalu Bergantung Tak Sehat Bagi Hubungan Kalian