ugetuget - Seandainya Aku Tahu Kurt Cobain Lebih Dulu
Sumber gambar: commons.wikimedia.org
in

Seandainya Aku Tahu Kurt Cobain Nirvana Lebih Dulu

UGETUGET – Bila dibandingkan dengan teman-teman, bahkan adik angkatan, saya sangat terlambat mengenal Kurt Cobain Nirvana. Para senior saya sering mengatakan: kowe durung lanang nek durung ngerti Kurt Cobain.

Karena hal itu, jadilah saya sebagai mahasiswa cupu sing blas ra gaul di kampus yang terkenal mencetak para pendidik itu. Tidak di kantin atau di warung kopi, hanya band grunge itu saja yang dibahas. Sebagai mahasiswa yang hanya tahu Guns N’ Roses, saya merasa tak berarti.

Meskipun begitu, saya tetap tidak pernah mau mendengarkan lagu-lagu Nirvana, dan tidak pernah ingin tahu tentang Kurt Cobain. Sebetulnya, saya pernah tidak sengaja mendengar lagu Nirvana yang berjudul Smells Like Teen Spirit (saya baru tahu judulnya beberapa bulan kemudian). Saya nggak kuat. Kepala saya pusing kaya Sun Go Kong pas dibacakan mantra sama Tong Sam Cong.

Semakin menjadilah ketidaksukaan saya terhadap band grunge ini. Sebagai orang yang memuja hair metal, saya sudah paripurna.

Hingga tibalah suatu malam, di sebuah warung kopi, saya bertemu dengan seorang teman yang sudah lama tidak bersua. Ia seorang pria paruh baya, bernama Acep. Ternyata, ia adalah seorang penggila Nirvana, dan pemuja Kurt Cobain. “Celaka, bisa terjadi World War III ini,” batin saya. Tetapi semesta berkata lain. Kopi dapat mendinginkan suasana.

Tidak seperti alur sinetron yang mudah ditebak, kami justru saling bertukar cerita. Ada dua hal yang menyatukan kami, kopi dan kenangan tentang wanita yang dicintai. Kalian jangan khawatir, karena saya tidak akan menceritakan kisah roman picisan nan murahan yang saya alami. Bukan karena privasi, tetapi saya nggak kuat ngetik sambil bercucuran air mata.

Setelah ngobrol ngalor, ngidul, ngetan, ngulon tentang kopi dan perempuan, maka topik yang mengerikan itu kembali lagi. Ia mengungkit kisah Kurt Cobain yang menurutnya sangat keren. “Wokay, ane jabanin lu,” batin saya.

ugetuget - Seandainya Aku Tahu Kurt Cobain Lebih Dulu
Sumber gambar: commons.wikimedia.org

Tanpa pemanasan dan tak tanggung-tanggung, Acep langsung bersabda bahwa kisah Kurt Cobain dalam buku Heavier Than Heaven, yang ditulis oleh Charles R. Cross membuatnya takjub dan histeris. Baginya, buku tersebut sangat film.

“Bayangna, buku kuwi edan tenan. Kisah bahagiane Cobain, di-cut njuk didelehne neng bagian mburi. Neng bagian mburi buku kuwi digambarke Cobain lagi dolanan kereta salju karo bapakne. Asu tenan! Mbrebes mili aku.”

Hati saya berdebar. Batin saya bergejolak. Band macam apa yang bisa membuat seseorang macam Acep ini menjadi sentimental. Bayangin aja, rambut cepak, kumis tebal, jaket kulit hitam, sepatu sport warna biru cerah, tapi sentimental. It’s a real thug life bro!

Selepas dari ngopi dan berpisah dengan Acep, saya penasaran dengan Kurt Cobain. Akhirnya saya harus membuang harga diri hair metal. “Maafkan aku, Axl Rose, Slash, dan pemuja hair metal lainnya”.

Langsung saya membuka YouTube dan mencari video Nirvana. Secara sembarang saya memutar video dari band grunge itu. Something in The Way adalah lagu pertama dari Nirvana yang secara serius saya resapi dengan sepenuh hati dan perasaan. “Wuasu, apik tenan!”. Bulu kuduk saya merinding.

Perselingkuhan saya dengan Kurt Cobain semakin menjadi-jadi. Saya kepo bagaimana lagu apik itu diciptakan. Di studio rekaman, saat akan merekam lagu ini, Cobain dan sound engineer tidak menemukan titik temu. Hingga akhirnya saat istirahat, di ruang tunggu, sambil berbaring di sofa, Cobain ngrengeng-ngrengeng melagukan Something in The Way. Seketika produser dan sound engineer langsung membawa keluar seluruh alat produksi, dan meminta Cobain untuk bernyanyi seperti tadi.

Hingga akhirnya saya kebablasan dalam mencari tahu tentang Nirvana dan Kurt Cobain. Mulailah saya bercumbu dengan lagu milik David Bowie yang di-cover Nirvana, The Man Who Sold The World, dan lagu-lagu lainnya.

Saya pantas dianggap sebagai pengkhianat hair metal. Maaf Guns N’ Roses. Bagaimanapun kalian telah mengisi sejarah hidup saya. Untuk Acep, “kowe pancen Lithium!”.

Written by Punkaz D. Singaraska

Suka dengan teori-teori konspirasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

uget uget - Wisata Sungai Maron Traveling ke Surga

Wisata Sungai Maron: Traveling ke Surga

uget uget - Tempat Wisata Yogyakarta- Semua Recommended

Tempat Wisata Yogyakarta: Semua Recommended