uget uget - Sangkal Putung Rumah Sakit Tulang Tradisional
Sumber gambar: www.writinganythink.com
in

Sangkal Putung Rumah Sakit Tulang Tradisional

UGETUGET – Pada tahun 2016 yang lalu, saya diberi kesempatan untuk mampir ke sangkal putung rumah sakit tulang tradisional yang berada di Gunungkidul. Bukan sebagai seorang pencari berita, tetapi sebagai seorang pasien.

Kaki saya patah. Tepatnya beberapa sentimeter di bawah sambungan jari manis kaki kanan. Tulang saya patah dan mlengse. Jangan ditanya soal rasa sakitnya. Menapakkan kaki ke tanah saja sakitnya minta ampun, apalagi untuk melangkah. Jujur, saat itu saya lebih memilih untuk sakit hati karena putus cinta daripada kesakitan karena patah tulang.

Tulang saya patah karena tabrakan. Tepatnya saya yang menabrak sebuah motor.

Saat itu sekitar pukul 04.00 WIB di Yogyakarta. Saya sudah bersiap-siap untuk berangkat bekerja. Tempat kerja saya berada di wilayah Maguwoharjo, sedangkan rumah saya berada di wilayah Jogja bagian selatan.

Saya sedikit kencang saat mengendarai motor pada saat itu. Maklum, menjelang subuh, jalanan masih sepi.

Sayangnya, saat melewati jalan di sebelah timur Jogja Expo Center, pasnya di perempatan lampu merah, saya justru menabrak motor vespa yang diam dan sedang menunggu lampu merah. Untung saja pengendaranya tidak apa-apa. Cuma bokong vespa sisi kirinya lepas.

Sebenarnya bukan salah pengendara vespa, ia berhenti karena memang lampu masih merah. Tapi jaket dan helm yang ia kenakan berwarna hitam, sedangkan vespanya berwarna gelap doff.

Tetapi, bukan itu pula penyebab utamanya. Sebab paling kuat adalah jalanan di daerah itu memang gelap gulita. Entah karena apa, lampu penerangan umum di jalanan tersebut mati. Sehingga wajar, pada subuh hari, ada pengendara yang motor dan pakaiannya hitam gelap, tidak kelihatan.

Pada saat itu saya tidak tahu kalau tulang saya patah. Pengendara vespa tersebut sudah menawarkan untuk membawa saya ke rumah sakit. “Ah, cuma kulit sobek dan keluar darah saja. Nggak apa-apa kok, Mas,” ucap saya.

Akhirnya saya tetap berangkat kerja. Sesampainya di tempat kerja, saya baru mengalami rasa sakit yang luar biasa. Kaki saya bengkak.

Saya menunggu sampai jam 08.00 WIB, dan izin untuk pergi ke puskesmas di wilayah itu. Sesampainya di puskesmas, saya taat antre menunggu giliran. Tibalah giliran saya diperiksa.

“Owalah Mas, kena apa iki, Mas? Kok bengkak’e gedhe banget,” tanya petugas puskesmas.

“Tabrakan Bu. Tadi pagi, sekitar subuh hari.”

“Wah, kok nggak langsung diperiksa apa dibawa ke rumah sakit? Tadi pas ambil antrean harusnya bilang kalau habis tabrakan, jadinya diperiksa di ruang gawat darurat.”

Karena puskesmas tersebut tidak memiliki peralatan yang cukup memadai, saya direkomendasikan untuk ke rumah sakit. Tapi mereka sudah yakin jika kaki saya mengalami patah tulang. Saya pun dilarang untuk naik motor sendiri.

Singkat cerita, saya pun akhirnya ke rumah sakit daerah. Di sini saya melakukan foto rontgen. Dan hasilnya memang positif, kaki saya patah.

Saya dan keluarga mendadak bingung. Karena, pihak rumah sakit menyarankan untuk melakukan operasi dan memasang pen. Sedangkan orang tua dan saya sendiri masih belum paham tentang hal itu. Sehingga, saya dan keluarga meminta waktu untuk memikirkannya.

Saat tiba di rumah, informasi bahwa saya kecelakaan segera tersebar. Tetangga mulai berdatangan. Mulai dari teman-teman saya, hingga teman-teman orang tua saya. Sampai akhirnya teman orang tua ada yang mengusulkan untuk membawa ke sangkal putung rumah sakit tulang tradisional di Gunungkidul.

Ia menceritakan bahwa dulu tulang kakinya juga pernah patah. Tapi akhirnya sembuh setelah dibawa ke sangkal putung tersebut.

Kalau saya sendiri, bagaimanapun juga masih ragu. Tetapi orang tua saya justru terbakar semangatnya untuk membawa saya ke sangkal putung rumah sakit tulang itu setelah mendengar kesaksian tadi.

Meskipun saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 21.30 WIB, keluarga saya langsung tancap gas membawa saya ke Gunungkidul.

Hanya bermodalkan nama dukun dan daerahnya, petualangan saya pun dimulai. Oiya, teman ibu saya tadi mengatakan bahwa jika ke sana, lebih baik membawa Rokok Klobot atau sejenisnya, dan satu kardus mie instan bekas.

Ternyata tempatnya jauh sekali. Melewati perbukitan dan hutan yang panjang, gelap, dan sunyi. Saya dan keluarga tiba di tempat tersebut pukul 24.00 WIB lebih.

Untungnya, si dukun sangkal putung tersebut sangat baik hati. Ia mau menerima saya dan keluarga.

Bayangan saya tentang sangkal putung yang mengerikan segera sirna. Karena si dukun tersebut, sebelum memeriksa saya, ia meminta foto rontgen dari rumah sakit terlebih dahulu. Di sini saya melihat bahwa dukun ini tahu porsinya.

Berdasar foto rontgen tersebut, si dukun ini pun memeriksa dan mengobati saya. Ia tidak pernah sekali pun menjelekkan pihak rumah sakit. Bahkan ia menyarankan jika luka basah (kulit sobek) di kaki saya kering, maka segera diperiksakan ke puskesmas atau rumah sakit. Ia mengaku bahwa dirinya tidak tahu perihal luka basah. Ia hanya tahu bagaimana menyambung dan menyembuhkan tulang yang patah atau retak.

Uniknya, setelah diobati, kaki saya dibungkus menggunakan kardus mi instan bekas yang saya bawa tadi. Ikatannya sungguh kencang dan presisi. “Ini untuk menyangga kaki, supaya posisi tulangnya tidak bergeser. Sehingga nanti proses menyambung dan penyembuhan tulangnya lebih cepat,” ucapnya.

Tak lebih dari seminggu, kaki kanan saya sudah bisa menginjak bumi. Meskipun begitu, Bapak dan Ibu kembali membawa saya ke tempat dukun sangkal putung. Mereka butuh diyakinkan bahwa tulang kaki kanan saya sudah tersambung dan sembuh. Padahal, saya sendiri sudah tahu bahwa kaki saya memang sudah sembuh.

Semua berkat sangkal putung rumah sakit tulang di Gunungkidul itu.

Sumber gambar: Writinganythink.com

Written by Punkaz D. Singaraska

Suka dengan teori-teori konspirasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

uget uget - Video Joget Lucu Pengendara Motor

Video Joget Lucu Pengendara Motor

uget uget - Seniman Bikin Lukisan Seni Menggunakan Bibir Bergincu

Lukisan Seni: Seniman Menggunakan Bibir Bergincu