Sampah Visual (Bukan Visual Arts) Fenomena The Tragedy of Commons
Sumber gambar: rynl17.blogspot.co.id
in

Sampah Visual (Bukan Visual Arts): Fenomena The Tragedy of Commons

UGET UGET – Istilah sampah visual (bukan visual arts), dipopulerkan oleh Jean Baudrillard. Ia juga mengistilahkan sampah visual sebagai kitsch. Secara literal, kitschen dalam bahasa Jerman berarti, “memungut sampah dari jalan”. Hal ini senada dengan lanjutan penjelasan Baudrillard, “…budaya modern ditandai dengan ‘pengumpulan‘ tanpa orang tahu fungsinya.” “Pengumpulan” sebagaimana dimaksudkannya di sini adalah, pengumpulan individu akan pengalaman melihat dan mendengar yang sesungguhnya tak dibutuhkannya (Harysakti, 2013, hal. 2).

Seperti yang telah dipaparkan tadi, pengemudi yang berhenti menunggu lampu hijau pada perempatan besar disuguhkan dengan berbagai macam banner, pamflet, spanduk, selebaran di segala sisi yang memungkinkan untuk dibaca oleh pengemudi.

Media iklan di luar ruang (outdoor advertising) adalah bentuk iklan yang paling tertua. Sebagai media alternatif dalam beriklan, media luar ruang memiliki beberapa kualitas khusus yang tidak dimiliki media iklan lain (Supriyanto, 2008, hal. 26). Oleh karena itu, media luar ruang masih sering dipakai karena dianggap memiliki efektivitas yang tinggi. Media ruang menjangkau khalayak luas dan jangka waktu penayangan materi yang cukup sehingga masih diminati para pengiklan hingga saat ini. Segmentasi iklan luar ruang tidak terbagi-bagi pada kalangan tertentu, melainkan bisa dilihat oleh siapapun.

Visual berhubungan erat dengan mata atau penglihatan, menurut Hernowo (2007), visual merupakan tindakan melihat dengan mata, sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa kenyamanan visual adalah kenyamanan penglihatan (visual comfort) (Harysakti, 2013, hal. 1). Iklan-iklan yang terpampang lebih mengedepankan tampilan wajah, tengok saja iklan provider, minuman, bahkan calon legislatif sekalipun. Singkatnya, apa yang tidak nyaman dilihat mata dikatakan sebagai sampah. Sehingga para pengiklan berusaha menampilkan visualisasi sedemikian rupa cantiknya agar orang lupa pada esensi penting tidaknya suatu iklan bagi dirinya.

Menurut Baudrillard, sampah visual merupakan ‘kebiasaan’ para kapitalis yang dengan simultan tanpa jeda menawarkan beragam produknya melalui berbagai spanduk dan banner di pinggiran jalan, juga penayangan iklan-iklan di setiap stasiun televisi, yang menimbulkan ‘kelelahan’ berikut ‘ketertindasan’ psikologis bagi mereka yang melihatnya (Harysakti, 2013, hal. 1). Masyarakat diimingi-imingi oleh berbagai macam produk, segala hal yang menjanjikan bila mencoba produk tertentu, penawaran gaya hidup modern, dan sebagainya. Percaya tidak percaya, suatu iklan pasti memiliki daya tarik tersendiri sehingga khalayaknya akan berusaha ‘mengabulkan’ pesan dari iklan tersebut.

Permasalahan merujuk pada sebuah tragedi ketidaksesuaian antara ruang publik dengan populasi penduduk. Konsep the tragedy of the commons mungkin dapat digunakan untuk membantu menjelaskan ketimpangan antara dua variabel tersebut. The tragedy of the commons adalah sebuah metafora bagi apapun yang diperuntukkan untuk umum, digunakan oleh siapapun secara gratis dan tidak diatur sehingga merupakan barang bebas. Menurut Mankiw (1998: 227) ketika barang (good) tersedia, pembuat kebijakan harus memfokuskan pada bagaimana itu digunakan atau dimanfaatkan. Di sini terdapat tarik menarik kepentingan dalam penggunaan ruang publik dan privat.

Rujukan

Harysakti, A. (2013). Perencanaan pembangunan media ruang luar tanpa sampah visual guna menunjang kesejahteraan warga kota Malang (studi kasus kota Malang) (Thesis, Universitas Brawijaya). Diakses dari www.academia.edu.
Mankiw, N. G. (1998). Principle of microeconomics. Cambridge: Ted Buchholz.
Supriyanto, S. A. (2008). Meraih untung dari spanduk hingga billboard. Yogyakarta: PT Galangpress Media Utama.

Sumber gambar: rynl17.blogspot.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Jangan Sepelekan Si Kecil Ikan Teri Lezat dan Bermanfaat

Jangan Sepelekan Si Kecil Ikan Teri, Lezat dan Bermanfaat

Sepuluh Tangga yang Harus Didaki untuk Hidup Bahagia

Sepuluh Tangga yang Harus Didaki untuk Hidup Bahagia