Salahkan Seseorang Mencintai dengan Tulus sedang Tidak Mendapat Balasan yang Sama
Sumber gambar: www.elephantjournal.com
in

Salahkan Seseorang Mencintai dengan Tulus sedang Tidak Mendapat Balasan yang Sama?

UGET UGET Berbicara tentang cinta, apa sebenarnya balasan yang tepat untuk seseorang yang mencintai dengan tulus? Tidak diragukan lagi, tentu inginnya adalah mendapatkan ketulusan yang sama.

Banyak orang yang beruntung bisa mendapatkan apa yang dia inginkan, tapi tidak jarang juga orang yang mencintai dengan tulus hanya dibalas dengan kekosongan. Lebih parah lagi, mungkin ada juga yang justru dibalas dengan kesakitan.

Tapi, apakah seseorang yang mencintai dengan tulus itu layak untuk disebut melakukan kesalahan? Atau lebih kasar lagi, apakah ketulusan yang tidak terbalas itu pantas untuk disebut kebodohan? Tentu saja tidak. Ketulusan terlalu suci untuk disebut seperti itu.

Ketulusan akan tetap agung meskipun ia tidak terbalaskan. Karena sesungguhnya makna tulus itu datangnya dari bersihnya hati. Seseorang berhak memberikan ketulusannya kepada siapa saja, tanpa peduli ketulusan itu akan mendapatkan sambutan, atau hanya diabaikan.

Tidak ada yang salah dari sebuah ketulusan, karena orang yang tulus justru dapat lebih menghargai cinta. Dan itu bukanlah sebuah kebodohan.

Berbicara tentang orang yang menghargai cinta dan kaitannya dengan kebodohan dalam cinta itu sendiri, ada yang menggelitik saat saya menonton film Magic Hour the Series. Dalam cerita itu Rangga dan Mitha selingkuh, padahal keduanya telah memiliki kekasih. Rangga punya Raina, sedangkan Mitha punya Tegar.

Saat Raina dan Tegar tahu Rangga dan Mitha selingkuh, mereka tetap bertahan dan tetap perhatian dengan kekasih mereka. Raina tidak sedikit pun membenci Rangga, begitu pun Tegar kepada Mitha, meskipun keduanya sama-sama terluka.

Tapi Mitha tidak suka dengan sikap Raina yang masih saja percaya dan cinta dengan Rangga, dan Mitha menganggap ketulusan cinta Raina itu sebagai kebodohan. Pertanyaan menggelitik dilemparkan balik oleh Raina kepada Mitha, siapakah sebenarnya yang lebih bodoh, Raina dengan ketulusan cintanya, atau Mitha yang sudah menyianyiakan ketulusan cinta yang diberikan Tegar kepadanya?

Saya tahu contoh ini hanya film semata, tapi dari sini kita bisa tahu jawabannya, bahwa ketulusan sama sekali tidak bisa disamakan dengan kebodohan. Tidak pula layak untuk disebut sebagai cinta buta. Orang yang memiliki ketulusan untuk mencintai adalah mereka yang memiliki kekuatan memberi. Memberikan rasa cintanya kepada orang yang sudah mengambil hatinya. Hargai itu, karena sesungguhnya ketulusan mereka tidak mengambil apapun darimu, tidak pula merugikanmu.

Sumber gambar: www.elephantjournal.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Kangen Water, Sekian Banyak Manfaat untuk Kesehatan Wajah, Rambut, dan Kulitmu

Kangen Water, Sekian Banyak Manfaat untuk Kesehatan Wajah, Rambut, dan Kulitmu

Toilet Netral Gender di Australia, Sebuah Tuntutan Hak Kaum Transgenders

Toilet Netral Gender di Australia, Sebuah Tuntutan Hak Kaum Transgenders