Sabar dan Masalah Hidup
Sumber gambar: ummi.ac.id
in

Sabar dan Masalah Hidup

UGET UGET – Apa yang menjadi masalah hidup Sabar sudah terlalu klise untuk dibicarakan; setidaknya menurut Sabar sendiri sebelum ia benar-benar menghadapinya. Sebab setiap generasi muda sepertinya akan menghadapi masalah yang sama.

Maka ada dua kemungkinan jika kamu membaca tulisan ini. Pertama, kamu adalah orang yang senasib dengannya, atau kedua, dengan keberkahan Tuhan kamu tidak harus menghadapi masalah ini untuk menapaki jenjang kehidupan berikutnya.

Sabar berasal dari keluarga petani di salah satu desa di Indonesia. Lantas setelah menyelesaikan sekolahnya ia mendapatkan beasiswa kuliah di Jepang jurusan teknik nuklir. Berangkatlah ia, dengan bekal Bahasa Jepang seadanya serta harapan yang tinggi dari orang tua, semoga kelak Sabar tidak lagi bekerja kasar di ladang seperti dirinya.

Sabar yang terkesan lugu dan hobi rangking satu selama sekolah, mungkin saja terbersit pertanyaan dalam hatinya, namun tak pernah ia gubris. Apa salahnya mewarisi pekerjaan sebagai petani. Sampai suatu hari ia bertemu dengan seorang soir taksi bandara yang mengantar kepulangannya bersama ijazah teknik nuklir dari Jepang.

Sopir taksi itu hanya sopir taksi ada umumnya yang tak suka kesunyian dalam mobilnya. Ia lantas membuka pembicaraan, menanyakan tujuan dan asal dari penumpangnya. Sabar yang membawa ijazah dari luar negeri, tentu dengan senang hati meladeni sopir taksi yang tak ia tahu namanya itu. Ia ceritakan bagaimana seorang anak petani bisa kuliah dan hidup serba modern di Jepang. Tak lupa, setiap tempat di Jepang yang ia ceritakan layaknya kisah heroik Andrea Hirata tentang kota-kota di Eropa.

Sayangnya, si sopir taksi bukanlah pembaca buku yang baik. Ia tak mengenal siapa Andrea Hirata, kecuali karena secara tidak sengaja ia pernah menonton Laskar Pelangi di televisi rumahnya. Namun kesan eksotis Eropa tak ia pahami, sebagaimana anak-anak muda yang menggebu-gebu untuk belajar ke Eropa setelah membaca trilogi Andrea Hirata.

Maka percakapan antara sopir taksi dan Sabar tidak berjalan sebagaimana mestinya. Sabar yang berharap mendapatkan pujian, malah diserang dengan pertanyaan yang tak biasa.

“Di Indonesia mau kerja apa, Mas?”

Sabar terdiam tak bisa menjawab pertanyaan basa-basi dari sopir taksi. Sang sopir sebenarnya tak bermaksud apa-apa dengan pertanyaan itu selain agar percakapannya tidak berhenti sampai di tujuan. Namun pertanyaan itu meledak dalam kepala Sabar, lebih besar dari ledakan bom nuklir di Nagasaki dan Hiroshima.

Si sopir taksi sangat realistis. Apa yang bisa dikerjakan sabar di Indonesia dengan ijazah teknik nuklir. Di desanya tak ada perusahaan nuklir, yang ada hanya lahan-lahan pertanian. Tangannya sudah terlalu halus untuk dipaksa menggarap ladang.

Sambil menghela napas, Sabar mencoba tetap berdiri di atas kebanggaannya, lalu menjawab, “Saya akan kembali ke Jepang dan melanjutkan kuliah S2, pulang jadi dosen atau kerja di luar negeri.”

Sayangnya, di desa Sabar, orang-orang berpikir bahwa memiliki ijazah sama halnya dengan memiliki sepetak tanah untuk digarap. Dalam arti, ijazah adalah lambang kemapanan seseorang. Maka, tak perlu menunggu lama, akhirnya Sabar harus menikah dan memiliki anak sebagai syarat utama memasuki dunia yang sesungguhnya.

Tak ada lagi waktu untuk fokus mencari beasiswa. Artinya tak ada lagi jalan untuk mencoba peruntungan menjadi dosen atau kerja di luar negeri. Namun Sabar akan kerja apa. Dia berada di desa. Jika saja di kota, mungkin dia bisa membuka kursus Bahasa Jepang atau menulis novel tentang Jepang. Sayangnya dia berada di desa.

Akhirnya Sabar menjadi pengangguran. Itulah masalah hidupnya yang sangat klise, sebagaimana hampir semua orang yang lulus kuliah. Namun tetap terulang. Seakan-akan tak ada yang sadar, kalau kuliah hanya menjauhkan orang dari warisan orang tuanya sebagai petani serta menambah angka pengangguran.

Begitulah Sabar mulai tersadarkan, sepertinya ada yang salah dari hobinya selama ini untuk selalu rangking. “Atau jangan-jangan bangku pendidikan yang tidak sejalan dengan kebutuhan masyarakatnya,” batin Sabar.

Sabar yang pengangguran masih diselamatkan oleh petak ladang orang tuanya. Tak bisa dipungkiri, apa salahnya jadi petani. Toh orang sepintar apapun tak bisa makan kalau tak ada petani.

Sumber gambar: ummi.ac.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Suaka Perempuan Iran Di The Day I Became a Woman

Suaka Perempuan Iran Di The Day I Became a Woman

tips bersepeda

Tips Bersepeda di Kota dan Pedesaan