uget uget - Ritual Agung Sedekah Bumi Sentra Konveksi Wonopringgo

Ritual Agung Sedekah Bumi Sentra Konveksi Wonopringgo

UGETUGET – Wonopringgo, salah satu kawasan sentra konveksi terkemuka di Pekalongan, baru saja menghelat jamuan besar, yaitu Ritual Agung Sedekah Bumi (Jumat 13/10/2017).

Bukan buat para tamu dari luar daerah, atau bahkan tamu agung luar negeri, perhelatan tersebut tak lain dilaksanakan sebagai bentuk kesadaran sekaligus solidaritas para pengusaha batik dan konveksi dalam memaknai tahun besar Hijriah.

Tak tanggung-tanggung dan tak seperti umumnya, maskot gunungan dalam perhelatan besar disusun  dari 2000 lebih kain konveksi atau pun batik. Setara dengan kurs rupiah 200.000.000 lebih, dibagikan cuma-cuma pada warga Kecamatan Wonopringgo dalam helatan akbar Wonopringgo Culture & Fashion Festival atau Ritual AGung Sedekah Bumi ini.

Semangat juang dari acara tersebut tak lain merupakan wujud rasa syukur sekaligus perlambang “larungan” oleh para pengusaha konveksi dan warga Kecamatan Wonopringgo pada umumnya. Tujuh gunungan dimaknai sebagai ‘pituduh’ (petunjuk) demi memperoleh ‘pitulungan’ (pertolongan) dari Sang Maha Kuasa.

Seperti pada umumnya di daerah-daerah lain, khususnya di Jawa, larungan atau sedekah bumi semacam ini pada bulan ‘syuro’ memang biasa dan sudah menjadi tradisi yang mengakar. Namun, di Wonopringgo, meski dengan semangat dan landasan yang sama (tradisi), gunungan atau maskot sengaja terbuat dari hasil ‘konveksi’.

Singkatnya, memang hal tersebut dirasa cukup membumi terutama di Wonopringgo dan Pekalongan pada umumnya.

Dalam catatan sejarahnya, Wonopringgo (hutan bambu) kini telah berubah menjadi sentra penghasil konveksi yang cukup diperhitungkan dalam detak nadi pasar fashion Indonesia. Selain itu, Wonopringgo kini tengah menjadi tumpuan hidup banyak kalangan.

Baik dari para pengrajin, pengusaha kain, pengusaha pewarnaan pakaian, atau cakupan luasnya, telah cukup lama mewarnai pasar fashion di berbagai kota besar di Indonesia. Seperti Jakarta, Cirebon, Solo, Jogjakarta, Surabaya, bahkan tersohor hingga kota besar di Pulau Bali, Kalimantan, Sulawesi dan Kepulauan Nusa Tenggara.

Tentu perjalanan kebersejarahan Wonopringgo hingga menggapai torehan dan berhasil bertahan tersebut tidaklah singkat.

Kemandirian ekonomi masyarakat ini tak luput dari nilai religius yang terus tetap dipertahankan masyarakatnya sebagai cermin hubungan dengan Tuhannya. Terbukti, nama Wonopringgo tetap terngiang di telinga masyarakat Pekalongan sebagai daerah santri melalui pengajian rutin yang digelar setiap minggunya.

Konsepsi harmonis antara ekonomi dan sosial yang kuat kemudian terejawantah dalam setiap ritus spiritual yang membentuk pandangan ideal warga Kecamatan Wonopringgo. Tak terkecuali pula dalam perhelatan akbar kali ini.

Ke depannya, melalui Wonopringgo Culture & Fashion Festival, citra masyarakat sehat, kuat, dan religius inilah yang kemudian menginspirasi sekumpulan pengrajin konveksi lain untuk menjunjung tinggi keharmonisan sesama  (hablu minannas) dan pula jalinan antarindividu dengan penciptanya (hablu minallah).

Sehingga, Wonopringgo sebagai sentra pengrajin konveksi penghasil pakaian tidak hanya tercitrakan sebagai hasil kerajinan atau nilai ekonominya saja, namun pula ‘fashion’ baik dalam makna lifestyle (gaya hidup) yang sesungguhnya. Kemudian mampu menjadi karakter kuat dan patut diperhitungkan dalam usahanya membangun perekonomian bangsa.

Sumber gambar: Armedius.deviantart.com

Yuk, Dapetin Konten Keren di Email

Kita pilihkan konten yang pasti kamu suka. Masukkan emailmu