Revolusi Milan yang Seperti Mie Instan
in

Revolusi Milan yang Seperti Mie Instan

UGETUGET — Revolusi Milan yang gagal.

Keputusan manajemen Milan untuk belanja besar-besaran di bursa transfer musim panas lalu mulai menunjukan hasil yang sebenarnya. Dan hasil yang sebenarnya itu, membuktikan bahwa Milan bukan tim yang besar dengan cara instan.

Kebesaran dan kehebatan Milan di masa lalu tidak dibangun dengan uang. Barangkali, manajemen Milan saat ini mesti belajar lagi untuk memahami sejarah klubnya. Sebab dalam sejarah Milan, kebesaran yang mereka buat di masa lalu tidak dibangun dengan uang.

Tapi manajemen Milan musim ini seolah mengabaikan itu, dan mencoba untuk membuat revolusi Milan. Hasilnya, setelah sempat tampil menjanjikan di awal musim, Milan mulai hilang kekuatan untuk menaklukan lawan.

Menjadi salah satu klub paling sibuk di bursa transfer dalam urusan mendatangkan pemain, Milan berambisi untuk melakukan revolusi secepatnya. Keberhasilan tim lain yang mampu membangun kejayaan dengan uang, membuat Milan ingin meniru tim-tim macam Manchester City dan PSG yang berhasil meraih kejayaan dengan uang.

Dana besar dikeluarkan untuk membuat revolusi Milan dengan cepat. Uang yang kemudian membuat dua belas pemain baru datang ke San Siro.

Tapi, dengan jumlah pemain baru sebanyak itu sudah memperjelas bahwa Milan bukan tipe klub yang dapat membangun kejayaan dengan uang. Mereka tidak bisa meniru City atau PSG. Sebab, dengan membeli pemain sebanyak itu, berarti Milan sudah memproyeksikan pemain barunya untuk duduk di bangku cadangan. Bahkan, bisa saja semua pemain barunya dicadangkan.

Demikianlah, Milan memulai revolusi sepak bolanya. Mereka hanya melihat City yang kini jadi tim besar. Tapi tidak mengetahui bagaimana proses City untuk sampai pada fase sekarang ini. Milan hanya tahu bahwa City sangat jor-joran dalam membeli pemain.

Milan hanya membeli pemain mahal. Berbeda dengan City yang membeli pemain mahal yang dibutuhkan. Kadang, City mau membeli pemain dengan harga di atas pasaran. Tapi itu dilakukan karena mereka benar-benar butuh pemain tersebut.

Lantas, bagaimana dengan Milan? Mereka hanya membeli pemain bagus, tapi pemain tersebut tidak dibutuhkan dalam tim. Akibatnya, walau memiliki banyak pemain bagus, Milan tetap gagal menjaga keseimbangan tim.

Di awal musim kompetisi, Milan memang terlihat bagus dan sepertinya akan bersaing di papan atas liga Serie A. Tapi kenyataannya, itu hanya berlaku di pertandingan pembuka saja. Mereka malah kalah dari Lazio, tim yang tidak banyak membeli pemain. Juga AS Roma yang banyak kehilangan pemain bintangnya.

Revolusi Milan memang belum sepenuhnya gagal. Akan tetapi melihat kenyataan di lapangan, revolusi yang mereka buat sepertinya tidak akan akan mendapat hasil lebih baik dari yang terlihat sekarang ini.

Ibarat orang lapar yang ingin makan, AC Milan telah memilih untuk makan mie instan. Padahal orang ini tidak terbiasa makan mie instan. Lapar itu memang dapat hilang dalam sekejap, tetapi sekejap kemudian lapar itu datang lagi.

https://www.youtube.com/watch?v=oqshpPvz9iE

Sumber gambar: The Sun

Written by Permadi Suntama

Pengamat sepakbola Jepang. Sering nonton bola lewat live score.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

aplikasi bbm

Aplikasi BBM Sekarang Hanya Kenangan Saja: Buang Jauh-Jauh

uget uget - Penyanyi Lagu Barat Fire House Ini Suaranya Cetar

Penyanyi Lagu Barat Fire House Ini Suaranya Cetar