Reaksi Berlebihan Orang Tua Pada Kegagalan Anak Bisa Hancurkan Konsep Dirinya
Sumber gambar: wolipop.detik.com
in

Reaksi Berlebihan Orang Tua Pada Kegagalan Anak Bisa Hancurkan Konsep Dirinya

UGETUGET – Kegagalan anak seharusnya dipandang sebagai sebuah tahap pembelajaran agar ke depannya akan jauh lebih baik lagi. Termasuk kegagalan yang terjadi pada anak dalam pelajaran atau kegiatan di sekolahnya.

Mungkin anak mendapatkan nilai buruk, lamban dalam menguasai teori, belum bisa berhitung dan menyelesaikan soal cacah gori seperti kebanyakan teman lainnya, atau anak tidak mampu melakukan olahraga sepele, mendapat posisi tidak penting dalam grup ekstrakurikulernya, dan sebagainya.

Sebagai permata hati, tentu orang tua berharap banyak pada anaknya. Terkadang orang tua tidak sabaran ingin segera melihat kesuksesan dan keberhasilan anak. Sehingga seringkali sulit memberikan toleransi pada kegagalan yang dialami anak selama prosesnya. Bahkan orang tua cenderung memberikan reaksi berlebihan dengan memarahi, memperingati, memasang ekspresi kecewa dan jengkel, hingga menghukumnya.

Orang tua cenderung tak bisa menerima kegagalan anak. Padahal saat-saat seperti ini justru peran orang tualah yang amat dibutuhkan untuk terus mendukung dan menyemangati si anak. Namun orang tua malah menganggap kegagalan anak sebagai akhir dari segalanya; dengan menganggap kegagalan saat ini menjadi pertanda bagi kegagalan-kegagalan berikutnya.

Ada pula orang tua yang malah memarahi anak dengan menyebutnya bodoh, tidak kompeten, tidak pandai, payah, tidak bisa diandalkan, pemalas, pembangkang, dan sebagainya. Orang tua kemudian lepas tangan dan cenderung menyalahkan anak karena terlalu banyak main game, kebanyakan pacaran, atau banyak membuang waktunya bermain-main dengan temannya.

Reaksi Berlebihan Orang Tua Pada Kegagalan Anak Bisa Hancurkan Konsep Dirinya
Sumber gambar: wolipop.detik.com

Tahukah Ayah Bunda, reaksi orang tua terhadap kegagalan anak dapat mempengaruhi pandangan mereka mengenai kecerdasan lho. Menurut Katherine Lee, seorang terapis anak, seperti dikutip dari Liputan6.com, efek jangka panjangnya dapat memengaruhi bagaimana anak memproses dan bereaksi atas kegagalan atau kemunduran itu. Reaksi orang tua bisa membuatnya menjadi lebih tangguh dan percaya diri atau malah sebaliknya.

Karenanya dalam melihat kegagalan anak sebagai hal yang positif ataupun negatif akan memengaruhi persepsi anak akan konsep dirinya. Jika orang tua menganggap kegagalan sebagai sesuatu yang buruk, bisa jadi anak akan benar-benar menganggap bahwa dirinya tak memiliki kemampuan dalam bidang tersebut. Bisa saja anak menghindari pelajaran matematika, misalnya – karena takut akan kegagalan berikutnya.

Atau bisa juga anak akan menganggap bahwa dirinya tak pandai sama sekali dalam bidang akademis. Padahal bertolak belakang dengan itu, baiknya kegagalan dipandang sebagai sebuah pembelajaran. Orang tua sebaiknya mengarahkan bahwa kecerdasan bukanlah hal yang instan. Melainkan perlu kerja keras dan ketekunan dalam belajar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Stop Sebar Foto Video Korban Terorisme

Stop Sebar Foto Video Korban Terorisme

Minuman Es Yang Terkenal Pada Masanya Sebelum Hadirnya Es Kepal Milo

Minuman Es Yang Terkenal Pada Masanya Sebelum Hadirnya Es Kepal Milo