uget uget - Puisi Cinta- Telepuitik Biosonik Adiluhung
Sumber gambar: mtakerubun.blogspot.co.id
in

Puisi Cinta: Telepuitik Biosonik Adiluhung

UGETUGET – Nuswantara, atau lebih dikenal dengan Nusantara dalam berbagai puisi cinta, merupakan nama yang disandang oleh leluhur bangsa dan negara Indonesia. Sebuah tempat yang menurut Ruddy Agusyanto, dalam bukunya yang berjudul “Budaya Sontoloyo”, sebagai awal mula peradaban.

Sebagai sebuah tempat di mana peradaban bermula, tentu saja penduduk negeri ini sudah mengenal asal usul dan jati dirinya. Sangkan paraning dumadi adalah filsafat yang dipegang teguh oleh bangsa ini.

Dengan filsafat yang luhur itu, bangsa Nuswantara menjadi pelopor peradaban dunia dan mampu hidup berdampingan dengan alam beserta makhluk-makhluk di dalamnya.

Pada masa kerajaan Dahana Pura, Sang Mapanji Sri Aji Jayabaya telah berhasil membangun lagi peradaban Nuswantara usai dihantam perang saudara antara Kurawa dan Pandawa, yang lebih dikenal dengan Baratayuda atau Mahabarata. Dampak perang tersebut masih terasa hingga beberapa generasi di bawahnya.

Tak ingin seperti pendahulunya, Maha Raja Nuswantara ini menitipkan pesan kepada anak cucu dan semesta melalui syair. Syair itu bernama tembang. Pesan dalam tembang tersebut berisi tentang periodesasi zaman beserta pergolakannya.

Mengikuti derap waktu, kerajaan Dahana Pura pun menjelma menjadi kerajaan Mataram.

Lahirnya Para Pujangga

Pada masa kerajaan Wilwatikta atau Majapahit, semesta dan Nuswantara sedang memasuki zaman Kalabendu atau zaman hukuman. Melihat Imperium Nuswantara yang maha agung runtuh begitu saja tanpa perlawanan membuat luka yang mendalam bagi bangsa ini.

Mataram mencoba membangkitkan rekaman kenangan kejayaan masa lalu itu, meskipun peralihan kekuasaan dari Demak hingga Mataram ditempuh dengan luka dan kepedihan.

Melihat kondisi yang menyedihkan tersebut, seorang pujangga yang bernama R. Ng. Ranggawarsita menyatukan rekaman masa lalu yang berserakan, serta memberikan peringatan dan arahan kepada anak cucu serta semesta.

uget uget - Puisi Cinta- Telepuitik Biosonik Adiluhung
Sumber gambar: mtakerubun.blogspot.co.id

Pujangga yang memiliki nama kecil Bagus Burhan ini merasakan bahwa Nuswantara yang luhur sedang porak poranda. Manusia memutuskan hubungan dengan alam. Hal ini bukanlah sekadar pengasingan manusia dari alam, melainkan pengasingan manusia dari dirinya sendiri.

Ranggawarsita hadir sebagai penghubung antara manusia dan alam, sekaligus menjadi jembatan bagi generasi lampau dan generasi mendatang. Ia dan syairnya merupakan manifestasi kerinduan bentuk kehidupan yang bersahaja antara manusia bersama alam semesta.

Peradaban yang artifisial nan plastis, yang meniadakan alam, telah membentuk ilusi optik artistik yang mewujudkan suatu dunia keterasingan yang tidak alamiah. Hingga dalam proporsi yang paling mengerikan adalah divisi antara puisi dan bunyi.

Menyatunya Puisi Dan Bunyi

Yogyakarta hadir bukan sebagai kota kebudayaan klasik, melainkan hadir dalam bingkai sebuah megapolitan yang sangat futuristik. Semangatnya untuk memayu hayuning bawana, yaitu memperindah semesta yang sudah indah, serta memangkunya, telah membuka keran-keran kebudayaan semakin besar dan banyak.

Kota ini, melalui para seniman, budayawan, dan sastrawannya, mencoba mengembalikan mental dan fisik, ruh dan jiwa, serta puisi dan bunyi menjadi satu kesatuan yang utuh. Pertama kali, di Cemara Tujuh atau Gedung Pusat UGM, yang lebih dikenal dengan nama Balairung, pementasan “Musik Puisi” ditampilkan.

Nevi Budianto, bersama dengan pemusik kampung Dipowinatan, yang akhirnya melebur menjadi Teater Dinasti, bekerjasama dengan Emha Ainun Nadjib dalam membuat sebuah aransemen pementasan “Musik Puisi”.

Dalam percobaan ini, dihasilkan tiga wujud musik puisi, yaitu musik sebagai pengiring, kemudian musik dan puisi ditampilkan secara bergantian, dan yang terakhir adalah musik dan puisi sama-sama berperan dan menonjol, seperti sebuah tembang.

Peradaban Nuswantara yang mengabdikan dirinya menjadi pemangku semesta telah mengenal dengan baik apa itu suara, musik, lagu, frekuensi, dan nada. Hingga ke wilayah mikrotonal dan atonal. Pengetahuan terhadap bunyi tadi didapatkan dari alam, dan diterapkan ke alat musik gamelan, tangga nada pelog dan slendro, dan tembang.

Bahkan, tembang kini digunakan sebagai alat untuk berbicara dengan tumbuhan dan hewan. Sehingga pertumbuhan tumbuhan dan hewan tersebut menjadi lebih baik. Teknologi ini dikenal dengan nama biosonik.

Written by Punkaz D. Singaraska

Suka dengan teori-teori konspirasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

uget uget - Kenapa Indonesia Tidak Bisa Hebat Saat di Kuala Lumpur Malaysia?

Kenapa Indonesia Tidak Bisa Hebat Saat di Kuala Lumpur Malaysia?

ugetuget - Iklan Kondom Ini Begitu Cerdas Menyisipkan Nuansa Seksi Tapi Tidak Vulgar

Iklan Kondom Ini Begitu Cerdas Menyisipkan Nuansa Seksi Tapi Tidak Vulgar