Pola Asuh Pendidikan Karakter Orang Tua Berpengaruh Terhadap Tumbuh Kembang Anak
Sumber gambar: medan.tribunnews.com
in

Pola Asuh Pendidikan Karakter Orang Tua Berpengaruh Terhadap Tumbuh Kembang Anak

UGET UGET – Pola asuh pendidikan karakter orang tua berpengaruh besar terhadap tumbuh kembang anak. Orang tua yang memiliki kecemasan berlebihan cenderung membuat anak memperoleh pengasuhan yang tidak menyenangkan.

Anak akan tumbuh menjadi pribadi yang penakut dan penuh kecemasan. Lalu bagaimana dengan anak yang ibunya menderita gangguan kecemasan seperti schizophrenia?

Ibu dengan gangguan kecemasan cenderung membatasi segala hal yang dianggap membahayakan anaknya. Ibu akan selalu menggunakan kata-kata berupa pelarangan, seperti awas, waspada, jangan, dan lain sebagainya. Padahal anak juga memiliki hak atas dirinya, melakukan apa yang dia kehendaki. Orang tua hanya perlu mengawalnya agar tetap pada arah yang positif.

Ibu semacam ini dapat tegas dikatakan membunuh karakter anak. Kecemasannya akan terus membuat anak menjadi takut melakukan apapun. Anak pun menjadi tidak bahagia dan tak berkembang sebab selalu merasa terkekang, tak memiliki kebebasan atas dirinya. Sebagai orang tua bijak, baiknya berikan anak kepercayaan untuk melakukan sesuatu.

Menurut Masten (1989), anak dengan ibu yang memiliki schizophrenia tidak memperoleh pengasuhan yang baik dan menyenangkan jika dibandingkan dengan anak yang memiliki orangtua sehat. Namun, di antara anak-anak itu ada yang resilien (adapatif), tumbuh sehat dan memiliki prestasi akademik yang baik.

Ibu dengan kecemasan berlebihan memang bermaksud melindungi anak dengan segenap hatinya. Dia selalu memperingatkan anak dalam melakukan sesuatu hingga batas kewajaran. Ketakutannya bisa menjadi ketakutan si anak apabila terus ditanamkan dalam keseharian anak.

Pernahkah kalian mendengar seorang Ibu selalu berkata, “Jangan lari nanti jatuh,” “Awas jangan mainan air nanti kedinginan,” “Jangan main sama orang yang nggak benar,” dan lain sebagainya. Padahal di samping memperingatkan dan melarang anak, si Ibu bisa menggunakan cara lain yang lebih baik, pun dengan maksud dan tujuan yang sama.

Sebisa mungkin hindari penggunaan kata negatif. Melainkan gantilah dengan, “Kalau jalan pelan-pelan supaya kamu tidak jatuh, kalau jatuh siapa yang merasa sakit?” Begitu pula seorang Ibu dengan kecemasan berlebihan cenderung membuat anak menjadi pribadi yang cengeng dan penakut. Saat orang bertindak jahat pada si anak, dia hanya bisa menangis. Rasa minder membuatnya selalu diposisikan sebagai korban.

Dengan melarang segala sesuatu, anak tidak pernah belajar apa yang harus dilakukan pada saat mengalami kesulitan. Anak terbiasa didikte oleh orang tua. Dia akan kesulitan menghadapi hal-hal sepele, misal saat dia dipukul atau mainannya direbut.

Pola asuh pendidikan karakter yang baik adalah membuat anak tahu apa yang harus dia lakukan. Misal dengan memegang tangannya. Saat mainannya direbut, ya diberikan pengertian untuk mengambil kembali. Anak tidak perlu menangis, pun anak tidak membalasnya dengan emosi negatif.

Proses dinamika anak dengan lingkungan terdekatnya akan berpengaruh pada dirinya di masa depan. Dr. Mega Dhestiana seorang psikiater yang Sabtu (25/11) kemarin menjadi pembicara dalam Seminar “Reborn Reciliency: I am” di Panti Nugroho, bercerita mengenai pasiennya yang takut menggunakan lift. Setelah ditelusuri ternyata pasien pernah dikunci dalam lemari oleh orang tuanya saat kecil. Dia masih mengingat kejadian itu hingga sekarang.

Meskipun tidak semua orang akan memiliki ketakutan atau perilaku menyimpang saat dewasa akibat masa lalunya. Seseorang dengan pola asuh yang buruk, perlu membangun resiliensi dalam dirinya.

Percayalah pada dirimu bahwa apapun yang kamu lakukan itu berarti. Lepaskan semua luka dan dendam di masa lalu. Cobalah untuk berpaling (move on) dari kejadian buruk di masa lalu. Putuskan apa yang sebaiknya kamu lakukan yang sekiranya dapat mengubahmu menjadi lebih baik.

Dr. Mega menyarankan untuk membuat kolom: hari/tanggal, kejadian hari ini, respon, +/-, dan refleksi dirimu atas itu. Ini akan membantu kalian dalam memanajemen perasaan cemas dan khawatirmu.

Setiap orang punya masalah dan kita tidak berhak untuk menghakimi orang lain karena kita pun tak mengetahui apa yang telah terjadi padanya di masa lalu.

Sumber gambar: medan.tribunnews.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Comments

comments

Kaji Kembali Teknik CRISPR-Cas9, Rekayasa Materi Genetik Domba yang Buat Bulunya Berwarna

Kaji Kembali Teknik CRISPR-Cas9, Rekayasa Materi Genetik Domba yang Buat Bulunya Berwarna

Tips dan Trik Mengatur Keuangan Agar Kantong Tidak Jebol

Tips dan Trik Mengatur Keuangan Agar Kantong Tidak Jebol