Petani Menyejahterakan, Petani Disejahterakan
Sumber gambar: kabartani.com
in

Petani Menyejahterakan, Petani Disejahterakan

UGET UGET – Saya menyaksikan program MP3EI diterapkan sampai ke desa-desa terpencil. Perkebunan salak dibabat, sawah-sawah dikeringkan, dan alih fungsi tanah menjadi penanda desa saya di Enrekang, Sulawesi Selatan. Enrekang dipersiapkan menjadi lumbung bawang merah.

Modernisasi teknologi produksi program selanjutnya. Pengairan yang masih mengandalkan mata air dan konstruk tanah dari dataran tinggi ke rendah digantikan mesin penyedot air. Lahan yang dekat dengan sungai memanfaatkan air sungai. Yang jauh akan membuat penampungan dari mata air.

Pengairan jenis baru ini menghilangkan kekhawatiran akan musim yang tak menentu, sekaligus percepatan produksi. Jika sebelumnya hanya sekali dua kali produksi tergantung pada musim, sekarang bisa empat kali panen setahun.

Proses produksi dipercepat dengan masuknya pupuk berkualitas dan bibit unggul. Jika pada umumnya tanaman bawang berumur empat bulan, kini dipersingkat menjadi tiga bulan. Masuknya pemodal menjadi penjamin tak perlu takut rugi. Biaya produksi yang meningkat akibat teknologi dan pupuk berkualitas, bisa ditalangi oleh pemodal.

Pemodal yang kebanyakan adalah pedagang bawang, mempermudah transportasi hasil panen. Jika sebelumnya petani menjajakan sendiri hasil panen ke pasar, kini pemodal cum pedagang itu yang langsung membawa truk barang ke kebun-kebun.

Petani cukup bermodalkan tenaga dan lahan. Yang tak memiliki lahan – biasanya perempuan – bisa menjadi “karyawan harian” yang dipekerjakan oleh pemilik lahan untuk mempercepat produksi. Mulai pembajakan, penanaman, pemeliharaan, panen, bahkan mengangkut hasil panen telah ditangani oleh karyawan harian.

Peningkatan modal pertanian akibat perubahan produksi, menjadi sekitar 30 juta rupiah per tiga kuintal bibit bawang, tak lagi dipermasalahkan dengan kehadiran pemodal lokal. Pemilik lahan untung, pemodal lokal yang umumnya dari desa sendiri lebih ketiban untung.

Program pemusatan produksi, yang merupakan salah satu tujuan utama MP3EI, setidaknya telah mempercepat detak pertanian di desa saya. Tua dan muda, perempuan dan laki-laki, semuanya berada di ladang setiap hari. Rumah-rumah sepi.

Secara makro, percepatan produksi mampu mengurangi impor bawang merah. Enrekang sendiri menjadi pemasok terbesar kedua di Indonesia Timur setelah Bima, daerah yang sudah lama menjadi lumbung bawang merah.

Namun perubahan proses produksi juga berimbas pada perubahan konsumsi. Sebelumnya, desa saya menerapkan pertanian tradisional. Produksi untuk menunjang konsumsi. Yang ditanam adalah kebutuhan pribadi. Jika lebih dibagikan kepada tetangga atau dijual.

Petani Menyejahterakan, Petani Disejahterakan
Sumber gambar: kabartani.com

Biasanya, satu lahan yang tidak terlalu besar akan dibagi antara lahan kering dan basah. Lahan kering digarap untuk pertanian holtikultura sekaligus pemeliharaan hewan ternak. Lahan basah dijadikan sawah untuk konsumsi beras, sekaligus peternakan ikan air tawar. Walaupun produksi lamban, tetapi bisa mencukupi konsumsi selama satu tahun.

Beras beserta ayam dan telurnya didatangkan dari Sidrap. Ikan diangkut dari Pinrang. Sayur mayur dijajakan oleh pedagang eceran. Produksi meningkat, daya konsumsi masyarakat pun tak terelakkan.
Ekonomi berbasis tanah digantikan dengan uang. Berbeda dengan pertanian tradisional yang tak pernah gusar selama tanah masih bisa memproduksi, kini masyarakat desa saya lebih takut jika tak memiliki uang di dalam saku.

Modernisasi produksi tidak dibarengi dengan modernisasi cara berpikir. Tak ada kesadaran menabung. Keuntungan dihabiskan untuk kebutuhan sekunder, kendaraan yang tak perlu, baju mahal, telpon genggam terbaru. Masyarakat tak menghitung kemungkinan mengalami kerugian.

Seperti tahun ini. Tiga kali panen dan ketiganya merugi. Masalahnya tetap masalah klasik. Bawang merah dari Bima tahun ini mengalami peningkatan. Dengan jaringan pedagang yang lebih besar dan berakar, bawang merah dari Enrekang kehilangan pasar.

Biasanya petani hanya menerima “uang duka” yang tidak lebih dari satu juta rupiah. Tak berarti apa-apa bagi masyarakat yang hidup dari uang. Untuk menalangi kehidupan sehari-hari, ada yang menggadaikan sertifikat tanah ke bank, ada pula yang lari ke tengkulak.

Dari sudut ini, modernisasi ekonomi tak berimbas apapun pada pola kehidupan petani. Mereka tetap menjadi masyarakat miskin yang bergantung pada pinjaman bank dan tengkulak.

Perlu adanya modernisasi di segala bidang, bukan sekadar percepatan produksi untuk ketahanan pangan di tingkat makro. Mungkin juga berharap pada prinsip trial and error. Bahwa kejadian tahun ini akan menyadarkan petani tentang perlunya menabung di saat untung. Tapi kita akan menunggu dalam waktu yang lama agar kesadaran itu bisa tumbuh sendiri, tanpa campur tangan pemangku kebijakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Merumuskan Ayat Suci yang Ramah Medsos

Merumuskan Ayat Suci yang Ramah Medsos

Pi tentang Pencarian dan Keangkuhan

Pi tentang Pencarian dan Keangkuhan