uget uget - Pertandingan Terakhir Totti: Tangis Tumpah di Roma
Sumber gambar: Bola.net.
in

Pertandingan Terakhir Totti: Tangis Tumpah di Roma

UGETUGET — Pertandingan terakhir Totti sungguh bikin dada sesak. Totti adalah kapten abadi AS Roma. Tapi, lebih dari itu, Totti teladan untuk orang-orang yang tak mau tunduk begitu saja pada usia.

Bagi kebanyakan orang, senja merupakan waktu terbaik untuk mendapat kebahagiaan. Melihat langit yang warna-warni bersama pacar, atau sekadar menunggu azan magrib di bulan puasa.

Tapi, ada senja yang justru membuat banyak orang merasa sedih. Serius! Bahkan banyak yang sampai menangis melihatnya. Sampai-sampai puluhan ribu orang berhenti melakukan “aksi protes” karena ingin menyaksikan senja yang satu ini. Mereka berhenti protes dan lebih memilih untuk menangis.

Sebuah pemandangan yang tidak pernah nampak dalam setahun belakangan hadir kembali di Olimpico. Warna merah dan kuning seperti bunga matahari memenuhi seluruh sisi tribun. Orang-orang berdiri, menunggu kedatangan Pangeran Roma masuk ke tengah lapangan.

Mereka sudah mulai menunggu sejak dua jam sebelumnya, sebelum senja datang, sebelum pertandingan terakhir Totti sang kapten abadi AS Roma. Kalau di Indonesia, mereka sudah menunggu senja sejak pukul empat sore. Padahal langit sedang mendung. Tapi, mereka tetap menunggu waktu-waktu matahari tenggelam itu datang.

Setelah dua jam ditambah tujuh puluh menit, yang ditunggu mulai muncul. Orang-orang berdiri menyambut kedatangan senja yang terakhir. Bunga matahari mekar di seluruh sisi tribun. Dua puluh menit kemudian, hujan turun begitu deras.

Begitulah, mataku yang mulai katarak menyaksikan peristiwa emosional itu. Sebuah peristiwa perpisahan antara Francesco Totti dengan AS Roma sebagai pemain. Pangeran Roma yang mesti berhenti dari medan perang dan tak lagi memikirkan tahta setelah pertandingan terakhir Totti ini.

Dan karena itulah, orang-orang datang ke Stadio Olimpico untuk melihat Pangeran Roma beraksi untuk terakhir kalinya dalam pertandingan terakhir Totti itu. Setelah itu, mereka menangis bersama, mengenang semua yang sudah terjadi. Seperti orang-orang yang meratapi nasib Italia di masa akhir suatu perang.

Barangkali, seperti itulah gambaran rakyat Roma pada masa lalu saat mengalami satu kehilangan besar dalam hidup. Kehilangan orang yang lama dicintai dan sulit dilupakan. Kehilangan semua kenangan indah yang pernah dibuat. Dan yang hilang itu bernama Francesco Totti.

Laki-laki yang dua dekade silam datang ke akademi dengan baju kebesaran (kebesaran dalam arti yang sebenarnya), sampai akhirnya membuat baju yang dikenakannya itu benar-benar besar — besar yang kali ini memiliki banyak arti, dan sebuah arti yang memiliki prestise.

Totti adalah pemain terakhir yang pernah mengangkat trofi untuk Roma saat ini. Dan sekarang pemain itu sudah berhenti menendang bola. Itu artinya, dari seluruh skuad Roma saat ini, belum ada yang mempersembahkan gelar juara untuk Roma.

Barangkali, itulah yang sebenarnya ditangisi oleh orang yang datang ke Olimpico. Mereka menangisi kenyataan bahwa Roma sudah lama puasa gelar. Bahkan skuad yang dimiliki sekarang hampir tidak ada yang pernah merasakan gelar juara (kecuali De Rossi bersama Italia, dan Edin Dzeko bersama Manchester City).

Dan hujan yang turun dalam pertandingan terakhir Totti bukanlah suatu kesedihan dari peristiwa kehilangan. Itu hanya alibi. Sebenarnya, mereka menangis karena takut di-bully suporter tim lain.

Permadi Suntama

Written by Permadi Suntama

Pengamat sepakbola Jepang. Sering nonton bola lewat live score.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Comments

comments

uget uget - Penggemar AS Roma dan Cinta Pertama

Penggemar AS Roma dan Cinta Pertama

uget uget - mat solar bajaj bajuri

Bajaj Bajuri Tanpa Emak: Terasa Sepi