Part II Pernikahan Salmafina dan Taqy Malik Bagaimana Imbasnya?
Sumber gambar: jabar.tribunnews.com
in

Part II: Pernikahan Salmafina dan Taqy Malik Bagaimana Imbasnya?

UGET UGET – Melanjutkan tulisan kemarin mengenai kandasnya pernikahan Salmafina dan Taqy Malik. Sebelumnya jika belum membaca bagian pertama, saya sarankan untuk membacanya. Saya ingin berbicara dari sudut keluarga Salmafina, lebih tepatnya ayah Salmafina, pengacara Sunan Kalijaga.

Bagaimanapun juga, beliau adalah seorang ayah yang sangat menyayangi putrinya walaupun saat itu putrinya sudah menjadi tanggung jawab orang lain. Ketika situasi seperti ini, naluri seorang ayah muncul kembali untuk membela anaknya. Itu wajar sekali, apalagi anaknya masih berusia sangat belia. Untuk zaman sekarang ini, lebih baik tidak menikah pada usia yang sangat muda.

Coba bayangkan, kamu memiliki seoarang putri, masih gadis, cantik dan memiliki kedudukan terhormat di masyarakat kemudian putrimu dinikahi seseorang. Dalam waktu yang sebentar putrimu diceraikan. Bagaimana perasaanmu?

Kecewa, marah, sedih, hancur semua perasaan bercampur. Kenapa anak gadis yang dijaga sejak kecil, dibesarkan dengan segala perih dan letih dicampakkan seseorang hanya dalam waktu yang singkat sekali. Imbasnya kepada statusnya di tengah-tengah masyarakat, sekarang dia sudah menjadi janda kembang dan tentu saja tidak perawan lagi. Baru usia 18 tahun kok sudah tidak perawan. Bagaimana dengan masa depannya?

Misalkan ada seorang perjaka, dia pasti lebih memilih seorang gadis yang belum disentuh daripada seorang janda. Percayalah. Seorang janda memiliki posisi tawar yang lebih rendah. Terderngar kejam, tetapi begitulah penilaian yang ada di masyarakat. Pun itu anak seorang pengacara kondang dan kaya.

Saya yakin itulah yang dipikirkan oleh Sunan Kalijaga, tapi tidak diungkapkan di depan publik. Yang diungkapkan adalah bentuk perlawanan untuk memperkarakan kelakuan Taqy Malik dan keluarga yang sekarang juga sudah menyewa pengacara.

Pemilik Akad Adalah Laki-laki

Memang di agama Islam disebutkan bahwa pemilik akad adalah laki-laki, artinya dia yang memiliki keluarga bukan pihak wanita. Ini disebabkan karena seorang wanita sering berubah-ubah dalam pernyataan yang dikeluarkan. Tapi seorang laki-laki juga berkewajiban untuk memelihara pernikahan. Perceraian adalah sesuatu urusan yang dibenci oleh Allah.

Pernikahan itu membawa masalah, pasti. Itu tidak bisa dipungkiri, seberapapun mereka berdua taat pada agama, tetap saja memiliki konflik di dalamnya. Kedua mempelai pasti memiliki kepribadian yang berbeda, perbedaan ini juga akan menyebabkan cara pandang suatu masalah berbeda pula. Ingat, pernikahan itu membawa masalah.

Jadi, orang yang siap untuk menikah harus punya sikap dewasa untuk menyelesaikan masalah. Mau menerima perbedaan dan menyelaraskan perbedaan itu. Bukankah Taqy Malik adalah seorang berilmu agama yang tinggi. Ilmu yang dipelajari harus diaplikasikan untuk menyelesaikan masalah yang sudah diambilnya.

Apa to masalahnya? Asal bukan murtad dari agama ini masih bisa dirundingkan kok.

Pernikahan yang Menakjubkan

Awalnya, pernikahan keduanya disambut baik oleh remaja-remaja di Indonesia. Bahkan cara mereka menjalin hubungan dijadikan kiblat bagi remaja-remaja di Indonesia. Mereka tidak ingin berpacaran karena dosa yang besar. Mereka lebih ingin untuk menikah, tapi terlebih dahulu ta’aruf, persis seperti apa yang ditunjukkan oleh Taqy Malik dan Salmafina.

Tapi dengan pemandangan yang tragis ini, sepertinya abg-abg di indonesia mulai berpikir dua kali. Mereka tidak ingin berakhir sama.

Bagi saya, yang lebih berat adalah apa yang diemban oleh Taqy Malik. Dia ini terkenal karena seorang hafiz Quran. Hapal seisi Al-Quran ketika usia 17 tahun. Sungguh prestasi yang membanggakan. Apalagi kabarnya suara merdunya ketika melantunkan ayat-ayat suci membuat kaum hawa meleleh.

Bagaimanapun juga, dia memiliki beban seorang penghafal Quran yang menceraikan istrinya dalam beberapa bulan saja. Yang dikhawatirkan adalah, bagaimana dengan image seorang ulama, ahli agama, ahli Quran dimasyarakat? Jangan-jangan nanti masyarakat mengecap jelek seseorang yang ilmu agamanya tinggi?

Masyarakat mulai meninggalkan ulama dan ahli agama, dan malah tambah parah. Tapi itu masih mending. Lha bagaimana kalau masyarakat meninggalkan agama ini? Kan gawat juga buat masyarakatnya.

Tapi, bagi saya agama Islam ini tetap agama yang rahmatan lil alamin. Sudah banyak tokoh-tokoh yang menunggangi agama ini untuk kepentingannya sendiri. Sungguh miris.

Wajar jika ada yang berpikir, “Wah.. si Taqy ini menang banyak”. Dia hanya ingin nyicipi saja, setelah itu buang dan tidak ingin mendapatkan masalah-masalah setelah pernikahan.

Kemudian ada yang menanggapi, “Kok kamu bisa mikir Taqy seperti itu, dia itu seorang hafiz Quran, masak berpikir seperti itu?”

Yo ben, bebas to berpendapat.

Sumber gambar: jabar.tribunnews.com

Written by Bimo

Web developer, menggunakan CakePHP sebagai inti pengembangan situs dan wordpress untuk bermain blog. Kadang-kadang menulis, coding. Suka bersepeda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Dipak Das Bisa Menjadi Panutan Berkendara Bebas Pencemaran Udara & Suara

Dipak Das Bisa Menjadi Panutan Berkendara Bebas Pencemaran Udara & Suara

Inilah Rapor Tiga Tahun Kerja Bersama Jokowi JK 2

Inilah Rapor Tiga Tahun Kerja Bersama Jokowi JK