Perjuangan Ayah: Mantra Dan Permata Surga Dari Desa
Sumber gambar: pokok2u.blogspot.com
in

Perjuangan Ayah: Mantra Dan Permata Surga Dari Desa

UGET UGET – Perjuangan ayah berawal dari kisah kecil putra petani desa di Gunungkidul. Tinggal dalam dinding gedeg beratap rapak. Setiap hari makan makanan gaplek bercampur nasi.

Sebut saja Sarijo, anak ketiga dari lima bersaudara. Sebagai anak laki-laki pertama, tanggung jawabanya lebih besar dari pada keempat saudaranya. Namun, tak pernah terlintas dalam benaknya untuk protes akan nasibnya itu.

Makanan sehari-harinya sebenarnya tak hanya gaplek. Itu masih biasa. Ia pernah makan makanan kabluk, sisa gaplek yang dimakan bubuk.

Tidak hanya itu, ia juga makan gogek, tiwul kering yang dikukus lagi. Lauknya pun seadanya. Memetik langsung dari hasil bumi yang tumbuh di ladang samping rumahnya. Sekali lagi, ia tak pernah protes akan hal itu. Ia justru berkata, “Jaman dulu itu makanannya justru nikmat, walaupun cuma gaplek.”

Waktu itu, Sarijo belum merasakan penerangan lampu. Di sana tidak ada aliran listrik. Setiap hari, ia hanya ditemani dengan sentir. Sentir itu dipasang di setiap sudut rumahnya. Bahkan, untuk mandi saja ia menggunakan obor. Tidak ada penerangan pula di sepanjang jalan menuju telaga.

Di telaga biasa ia habiskan untuk mandi. Bersama kawan-kawannya, ia menyusuri jalan sejauh 3 km. Pepohonan yang menjulang tinggi menutupi jalan hutan alias alas dari cahaya bintang. Bahkan tak jarang ketika akan pergi mandi, ia berpapasan dengan harimau. “Asal diam saja dan tidak mengganggu, ya tidak apa-apa, katanya.”

Sarijo pernah mengenyam pendidikan sekolah dasar di SD Baran II. Jarak 2 km untuk sampai ke SD harus ia tempuh setiap hari. Perjalanan itu ia tempuh dengan modal kedua kakinya.

Tamat SD, ia melanjutkan sekolah tingkat pertama di SMP N Semugih. Waktu itu, ia harus menempuh jarak lebih jauh lagi dari 2 km. Tepatnya, berjarak 2,5 km dari gubugnya. Ia tempuh lagi dengan kedua kakinya. Ia bersama teman-temannya memilih berjalan kaki daripada naik angkot. Lagi-lagi keterbatasan biaya jadi penghalang bagi dirinya.

Ia kemudian melanjutkan pendidikan di sekolah tingkat kedua. Namun, pendidikannya pun tidak sampai usai. Setelah satu tahun mengeyam pendidikan di SMA Muhammadiyah Wonosari, ia terpaksa berhenti.

Biaya kos, makan, dan kesehariannya tidak sanggup lagi dipikul kedua orangtuanya. Beban orangtuanya cukup berat. Orangtuanya harus menghidupi kelima anaknya, termasuk Sarijo.

Setelah keputusannya untuk mengakhiri masa sekolah, ia hanya kerja serabutan. Ia pernah jadi kuli bangunan. Selang satu tahun kemudian, ia merantau ke kota. Di sana ia mendapatkan pekerjaan di Koperasi. Ia dipindahkan empat kali dari tempat kerjanya. Awalnya di Wates selama satu tahun, kemudian Kebumen, Karangmojo, dan akhirnya di Minggiran.

Sonosewu adalah saksi cinta ia dan sang istri bertukar pandang. Tahun 1992, ia beranikan diri meminang gadis pujaannya. Paksaan dari keluarganya untuk segera menikah jadi alasan utama menikahinya. Padahal, modal rumah saja tak punya.

Akhirnya, ia dan sang istri hanya tinggal di kontrakan yang berukuran 3 x 6 meter. Satu tahun kemudian, ia dikaruniai seorang putri. Selang tiga tahun, ia kembali lagi dikaruniai seorang putri. Ia berharap kedua putrinya dapat membalikkan roda kehidupannya.

Ya, harapannya tak sia-sia. Perlahan, ia jual motor satu-satunya yang ia punya. Motor keluaran tahun 80, terpaksa ia jual untuk bangun gubug di daerah Banguntapan. Ia mengatakan bahwa hidupnya paling susah setelah ia bangun rumah.

“Tabungan habis, tapi masih harus mencukupi kebutuhan makan dan sekolah anak, kata Sarijo.” Pergi kerja saja ia terpaksa naik sepeda ontel.

Tiba-tiba saja di tahun 2008, ia mendapat panggilan kerja sebagai tukang bersih-bersih di SMA Banguntapan sampai sekarang. Ia pun seketika langsung bersyukur. Berharap kelak nasibnya bisa berubah. Tak sia-sia pula mantra yang selalu dilafalkan di sepertiga malam, menjadi obat mujarab bagi dirinya.

Tahun 2011, anak sulungnya mendapat beasiswa masuk perguruan tinggi negeri. Sontak saja, ia tiada henti-hentinya mengucap syukur di setiap sujudnya.

Perjuangan ayah tak berhenti sampai di situ, mantranya kembali lagi terjawab. Anak keduanya pun mendapat beasiswa masuk di perguruan tinggi. Beban dipundaknya sekarang terasa hilang seketika. Ia tak perlu lagi memikirkan biaya sekolah kedua putrinya. Ia cukup mengeluarkan biaya makan dan keperluan lainnya.

Setelah itu, mulailah ia memperbaiki gubug reyotnya menjadi sebuah istana surga. Perjuangan ayah sungguh tak pernah berhenti.

Baginya, anak adalah permata surga. Suci nan berharga. Kesuksesan anak menjadi tolok ukur sejati kesuksesan dan perjuangan ayah. Tak ada yang menduga, jika mantra, istri, dan putrinya membawa kesejahteraan dalam keluarga. Perannya sebagai seorang ayah, terbayar sudah.

Sumber gambar: pokok2u.blogspot.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Comments

comments

Cerita Misteri Horor Seram dan Serial American Horror Story uget uget

Cerita Misteri Horor Seram dan Serial American Horror Story

uget uget Ngayogjazz Bisa Menjadi Vaksin Demam Musik Jazz dan Tumbuhnya Ruang Publik

Ngayogjazz Bisa Menjadi Vaksin Demam Musik Jazz dan Tumbuhnya Ruang Publik