uget-uget Perjalanan Hidup dari Nusa Tenggara Timur
Sumber gambar: anekatempatwisata.com
in

Perjalanan Hidup dari Nusa Tenggara Timur

UGETUGET – Perjalanan hidup dari Nusa Tenggara Timur (NTT) ini merupakan pengalaman terdahsyat yang mampu mengubah pandanganku tentang sebuah kehidupan. Ini adalah sebuah fase yang terlalu besar untuk disyukuri dan dimaknai. Hal yang tak akan pernah bisa dilupakan dan akan terus menjadi pijakan utama bagi pikiranku, serta bagi kakiku dalam melangkah.

Pada bulan Juli 2011, tepatnya tanggal 8 Juli 2011, untuk pertama kalinya kakiku dibawa melangkah ke sekolah ini. Aku bersama 22 teman dari Universitas Gadjah Mada (UGM) berjalan lebih dari satu jam. Kami akan tinggal selama lebih kurang dua bulan di Desa Waesano, Sano Nggoang, Manggarai Barat, NTT untuk pengabdian masyarakat.

Sekolah ini berada di sebuah dusun bernama Dasak, dusun yang berjarak satu jam perjalanan kaki (untuk standar orang Jawa) dari Dusun Nunang yang kami tinggali. Sembari menyusuri indahnya danau Sano Nggoang, kaki kami melangkah dan terhenti pada sebuah gubuk di tanah lapang yang tandus.

uget-uget Perjalanan Hidup dari Nusa Tenggara Timur 2
Sekolah Darurat TRK, Dasak, NTT – Foto: Fuji R. Prastowo

Dari kejauhan, rasanya masih tak percaya jika bangunan di tengah lapangan tandus itu adalah sebuah bangunan sekolah. Hati kian berkecamuk ketika masuk ke ruang kelas untuk mengikuti rapat penduduk yang membahas pembangunan sekolah ini di kemudian hari. Sungguh kesan pertama yang sangat kuat untuk awal dalam perjalanan hidup dari Nusa Tenggara Timur yang kualami ini.

Badan dan otakku rasanya terhuyung dan masih tak percaya bahwa setelah puluhan tahun Indonesia merdeka, masih ada sekolah dengan bangunan seperti ini. Mungkin selama ini, liputan mengenai hal seperti ini hanya dapat kulihat di televisi. Aku pun hanya sambil lalu saja mendengar kabar sekolah bobrok dan merasa berita itu mungkin hanya dilebih-lebihkan saja alias lebay.

Tapi siapa sangka, semua hal itu kini ada di hadapanku. Bahkan mungkin lebih parah, karena ini adalah sekolah darurat (bukan resmi). Sekolah darurat ini sengaja dibuat secara swadaya oleh masyarakat Dasak untuk membangun gedung dengan ruang kelas agar anak-anak mereka tak perlu berjalan kaki selama dua jam perjalanan ke SDI Sano Nggoang. Oleh karena itu, namanya Tambahan Ruang Kelas (TRK) Dasak, bukan sekolah.

Rasanya bangsa ini sangat tidak adil. Mau sampai mulut berdarah pun pemerintah di atas sana tidak akan tahu keberadaan sekolah seperti ini di banyak tempat di seluruh pulau Flores. Ini bukan salah pemerintah daerah sepenuhnya. Bupati Manggarai Barat sudah mengonfirmasi bahwa sekolah darurat berupa tambahan ruang kelas (TRK) seperti ini tidak hanya ada satu saja di Dasak, tapi ada banyak di berbagai penjuru wilayah Flores.

Bayangkan saja sekolah di meja seperti itu, yang kadang pun harus berdiri jika dirasa terlalu sesak. Tak ada sepatu untuk mereka melangkah di lantai tanah yang perlu diberi lotion karena pecah-pecah ini.

uget-uget Perjalanan Hidup dari Nusa Tenggara Timur 3
Foto: Fuji R. Prastowo

Setiap kali mengajar adalah waktu yang paling memompa semangat bagi kami berdelapan. Berjalan kaki sejauh satu jam mungkin adalah makanan biasa bagi kaki kami. Mungkin aku sedikit mengeluh lelah ketika melaluinya saat puasa di bulan Ramadhan, Agustus 2011. Tapi, kukuatkan hati untuk terus menjalani perjalanan hidup dari Nusa Tenggara Timur yang menantang sekaligus indah ini.

Kami bukan yang paling buruk untuk urusan jalan kaki. Ada satu tim teman kami yang harus berjalan lebih jauh lagi menuju SDI Sano Nggoang, sangat lebih jauh dari rute perjalanan kami.

Setiap kali pulang mengajar, pasti ada saja cerita yang kami dapat. Di sana, aku berkesempatan mengajar dua kelas dan dua mata pelajaran, yaitu mengajar mata pelajaran IPS untuk siswa kelas 2 SD dan 5 SD.

Saat mengajar kelas 2 SD bersama Retsky, aku sempat mengalami kesulitan yang cukup besar. Banyak anak yang masih kurang fasih menggunakan bahasa Indonesia. Kebanyakan dari mereka masih menggunakan bahasa Manggarai dan itu membuat aku tidak mengerti.

Pernah terjadi, satu kelas kabur karena aku salah menangkap maksud dari para siswa. Aku mengira mereka ingin ke toliet secara bersama-sama. Untung Pak Maksi datang membantu kami, walaupun ia harus mengacungkan lidi terlebih dahulu. Memang aneh-aneh saja detail-detail dalam cerita perjalanan hidup dari Nusa Tenggara Timur ini.

Di suatu waktu, guru TRK datang membantu kami untuk menerjemahkan kosakata yang anak-anak kelas 2 SD tidak mengerti. Uniknya, ada seorang anak yang untuk membuang ingus pun masih harus diteriaki oleh guru TRK, lalu anak tersebut keluar kelas dan membuang ingusnya di luar kelas. Kalau tidak diteriaki, siswa tersebut akan membiarkannya menetes hingga ke meja. Dan itu hal yang biasa kami temui.

Bagaimanapun, aku sangat mencintai anak-anak kelas dua SD ini. Mereka sangatlah polos dan lucu. Bahkan, sepulang kami mengajar, ada beberapa anak yang sengaja datang ke rumah orang tua angkatku di Nunang untuk berkata, “Selamat hari Minggu, Kakak Fuji.”

“Pak guru, Pak guru ini apa? Itu apa?” tanya para siswa. Sungguh hal itu merupakan kebahagiaan yang sesungguhnya dan tidak bisa dibeli oleh apa pun di dunia ini. Tak satu pun.

uget-uget Perjalanan Hidup dari Nusa Tenggara Timur 4
Foto: Fuji R. Prastowo

Berikutnya aku mengajar kelas 5 SD. Aku masih mengajar bersama Retsky untuk pelajaran IPS. Kesulitan bertambah ketika materi sejarah kerajaan yang begitu kompleks harus kami ajarkan pada anak-anak. Bayangkan saja, mereka sama sekali tidak punya buku modul pelajaran. Sekolah ini hanya memiliki satu buku untuk guru, dan anak-anak mendengarkan saja, atau mencatatnya seperti dongeng. Betapa sulitnya mereka bisa mencerna materi pelajaran yang kian hari kian sulit.

“Sungguh, itulah kenapa, pendidikan di Nusantara ini mustahil untuk disamaratakan standarnya. Jika Jawa menuntut Flores harus sama, maka itu kejahatan atas nama pendidikan.”

Selain itu, hal-hal yang sangat berkesan bagi kami adalah ketika waktu siang tiba. Anak-anak berebut mencarikan kelapa muda untuk kami minum. Mereka saling berebut cium tangan ketika kami akan pulang. Semuanya begitu membekas di hati.

***

Empat tahun kemudian kulanjutkan cerita ini ketika sedang menempuh pendidikan master Anthropology and Development Studies di Radboud University, Belanda. Saat membuka album-album lama, aku teringat kembali kenangan empat tahun yang lalu ini. Bagaimana kabar adik-adikku sekarang di foto ini? Bagaimana mereka menjalani kehidupan baru di sekolah barunya?

Sebagai informasi, tak lama setelah kami pulang dari KKN di tahun 2011, pemerintah Kabupaten Manggarai Barat menjadikan TRK Dasak sebagai sekolah mandiri bernama SDN Dasak.

Rasa haru menyeruak di antara kami kakak-kakak guru. Adik-adik kami di tanah Wae Sano tak perlu berjalan jauh lagi untuk melanjutkan studinya. Jika status bangunan di mana kami mengajar ini tetap hanya TRK, maka anak-anak yang sekarang ada di foto ini, yang mungkin sudah kelas 6 SD, harus menjalani kelasnya di SDN Sano Nggoang.

Kini mereka tak perlu lagi berjalan kaki sejauh itu. Aku bangga, Tuhan. Terima kasih telah mengabulkan doa kami. Semoga amal kami tetap abadi di tanah yang akan kurindukan dalam sepanjang hayat hidupku. Demikianlah cerita perjalanan hidup dari Nusa Tenggara Timur yang mengesankan ini.

Sumber gambar: Anekatempatwisata.com
Sumber tulisan: Fujiriang.wordpress.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

uget uget - Penyanyi Lagu Barat Fire House Ini Suaranya Cetar

Penyanyi Lagu Barat Fire House Ini Suaranya Cetar

uget uget Cara PDKT Lewat Chat, Sudah Teruji Dengan Hasil Jitu

Cara PDKT Lewat Chat, Sudah Teruji Dengan Hasil Jitu