Perempuan Dalam Produk Audiovisual
Sumber gambar: rfo-ona.livejournal.com
in

Perempuan Dalam Produk Audiovisual

UGET UGET – Televisi (TV) sebagai media audiovisual erat kaitannya dengan aktivitas menyaksikan dan mendengarkan oleh audiens. Televisi begitu mahir memengaruhi perilaku, sikap, pandangan, bahkan persepsi pemirsanya. Televisi memang bukan manusia, tetapi ia mampu menciptakan dan memainkan kebudayaan secara halus.

Budaya ini divisualkan sehingga terlihat lebih hidup. Kondisi semacam ini menimbulkan kerancuan karena kita seringkali menganggap representasi media adalah sama dengan realitas konkret. Ironisnya, kita seakan-akan kehilangan kemampuan untuk membedakan realitas asli dan realitas buatan karena visualisasi yang begitu identik. Ini memunculkan anggapan lumrah.

Lambat laun apa yang kita saksikan dan persepsikan secara langsung maupun tidak akan membentuk cara pandang kita dan cara merepresentasi pemahaman konsep-konsep atas realitas sehari-hari (Susanto, 2008, hal. 133). Visualisasi yang disosialisasikan ini bisa jadi merupakan realitas buatan yang berbeda sama sekali dengan realitas fisik dalam kehidupan senyatanya atau bahkan merupakan campur tangan media dalam melanggengkan konstruk budaya tertentu. Cuplikan realitas asli dalam media merupakan hasil garapan manusia yang memungkinkan adanya keterlibatan pandangan subyektif.

Menurut Sachari (2007, hal. 1), budaya visual adalah tautan antara wujud kebudayaan konsep (nilai) dengan kebudayaan materi (benda) yang dapat segera ditangkap oleh indera visual (mata), dan dapat dipahami sebagai model pikiran manusia untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Visualisasi suatu benda dibangun melalui konsep-konsep yang menyertainya. Sesuatu dapat dikatakan sebagai budaya visual bila mencakup segala sesuatu yang dapat dipersepsi secara visual, diindera dengan mata, dengan kata lain nampak atau dapat dilihat. Isu-isu kontemporer yang mengiringi budaya visual pun beragam bentuknya, seperti gaya hidup, gender, media massa, konsumerisme, ekologi, dan masih banyak lagi.

Budaya visual (visual culture) sendiri dapat digolongkan menjadi, visual pleasure, visual world, visual literacy, visual representation, dan visual language (Widiatmoko, 2012, 12 Juni). Kesenangan visual menjadikan kesenangan sebagai sarana untuk mempersuasi kita agar mau melihat suatu tontonan. Kesenangan visual ini banyak ditemui pada program acara televisi bertajuk hiburan malam yang mengambil angle di tempat-tempat seperti klub malam, bar, cafe, hingga karaoke, dan tempat hiburan malam lainnya. Media dalam hal ini membantu proyeksi kehidupan malam yang ada pada realitas konkret dalam program-program acara tengah malam. Dalam program acara tengah malam tersebut, penonton laki-laki seolah-olah mendapatkan kepuasan dan karenanya dapat berfantasi atas tampilan seksi, aksi erotis, dan adegan lain yang dipertontonkan perempuan.

Muley (dalam Nadhifah, 2011, hal. 18) menyebutkan scopophilia, yaitu kenikmatan yang diperoleh subjek saat menjadikan orang lain sebagai objek pandangan. Penonton mengidentifikasikan kamera sebagai dirinya sehingga ia memiliki kendali atas tubuh perempuan dalam tayangan program televisi. Daya tarik visual memang lebih tinggi dan karenanya seringkali menyebabkan ketidaksadaran tatapan. Bahayanya, perempuan terus menerus terbelenggu menjadi obyek visual yang dijual dalam produk-produk hiburan malam.

Rujukan

Nadhifah, N. L. (2011). Representasi perempuan (Thesis, FIB UI). Diakses dari lib.ui.ac.id.
Sachari, A. (2007). Budaya visual Indonesia: membaca makna perkembangan gaya visual karya desain di Indonesia abad ke-20. Jakarta: Erlangga.
Susanto, B. (2008). Membaca postkolonialitas (di) Indonesia. Yogyakarta: Kanisius.
Widiatmoko, D. (2012, 12 Juni). Budaya visual [dokumen PPT]. Diakses dari diditwidiatmoko.staff.telkomuniversity.ac.id.

Sumber gambar: rfo-ona.livejournal.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Comments

comments

Jangan Sampai Keliru Menggenggam Sebuah Harapan

Jangan Sampai Keliru Menggenggam Sebuah Harapan

Alasan Mengapa Teman Baru Itu Menarik

Alasan Mengapa Teman Baru Itu Menarik