penipuan di instagram

Penipuan di Instagram: Pembelajaran e-Commerce Bagi Indonesia

UGETUGET — Penipuan di Instagram sudah sering terjadi, tapi sampai detik ini pun masih banyak orang yang bertransaksi karena Instagram. Latah orang Indonesia yang menggunakan Instagram sebagai online shop bisa menimbulkan bencana yang cukup serius bagi e-commerce Indonesia. Seperti apa bencana e-commerce itu?

Yang paling berat adalah terkikisnya kepercayaan masyarakat Indonesia untuk membeli barang melalui sarana online. Dengan tidak adanya kepercayaan pelanggan terhadap online shop, maka para pelaku online shop yang ada di Indonesia bisa kocar-kacir. Selama ini, mereka mengandalkan jalur online untuk menopang unit bisnis utamanya.

‘Kan gawat!

Setelah kepercayaan hilang, akibat yang lebih buruk lagi adalah penurunan daya beli melalui online shop, meskipun saat ini transaksi online sedang berada di level tertinggi, bahkan mengalahkan transaksi secara offline.

Ini kabar baik. Tentu saja, jika tidak banyak penipuan di Instagram, maka ekosistem ini akan semakin membuat Indonesia maju. Tapi, seharusnya seperti apa sih online shop sebenarnya? Biar masyarakat tahu seperti apa online shop itu. Apakah hanya mengandalkan media sosial seperti instagram, Facebook, atau Twitter?

Sebelum menjelaskan lebih lanjut, saya ingin bercerita sedikit mengenai latar belakang tulisan ini. Beberapa hari yang lalu, ada salah satu customer saya yang mengeluh bahwa dia baru saja terkena tipu salah satu akun Instagram. Sialnya, dia tidak mau memberitahukan kepada saya nama akun Instagram yang menipunya.

penipuan di instagram

Beli iPhone, dapatnya bata. ‘Kan kampret! Sumber : Komunitas.bukalapak.com

Mungkin saja dia malu karena sudah dikibulin sama orang, dan di sinilah kesempatan saya untuk membuktikan bahwa tidak semua online shop menipu, apalagi yang benar-benar online shop seperti di tempat saya.

Online Shop Sesungguhnya Untuk Mencegah Penipuan

Seperti apa online shop sesungguhnya? Menurut saya, online shop sesungguhnya adalah yang memiliki website. Artinya, semua transaksi dilakukan melalui website tersebut, bukan melalui media sosial. Fungsi media sosial hanya digunakan oleh online shop tersebut untuk bersosial atau bergaul layaknya di dunia nyata. Tapi, untuk bertransaksi, harus melalui website.

Kenapa demikian? Karena memang seperti itulah konsep online shop: bukan dengan media sosial. Seperti yang kita ketahui, untuk membuat akun online shop saat ini begitu mudah dan tentu saja gratis. Orang di mana pun, dengan usia berapa pun, minimal yang sudah bisa pegang ponsel, pasti bisa membuat akun media sosial. Hanya dalam beberapa menit saja, akun media sosial bisa selesai dibuat, dan siap digunakan untuk menipu.

Tetapi bagaimana dengan website? Untuk membuat website, online shop membutuhkan waktu dan biaya. Yang jelas membutuhkan waktu yang cukup banyak, sedangkan biayanya tergantung dari fitur online shop tersebut.

Harga domain website sekitar Rp150.000,- harga hosting sekitar Rp300.000,- per tahun, belum lagi kendala teknis yang hanya bisa diselesaikan oleh programmer. Jika pemilik website bukanlah programmer, maka mau tidak mau harus membayar programmer untuk menyelesaikan online shop-nya.

Ini biaya tidak sedikit. Penipu biasanya tidak memiliki modal yang cukup besar dan rasanya tidak telaten membuat website yang meyakinkan. Kalaupun ada penipu yang membuat website, pasti desainnya abal-abal. Asal dibuat saja, bahkan menggunakan platform blogspot.

Online shop sesungguhnya tidak menggunakan layanan gratisan. Ini untuk membuktikan dia sungguhan dan berniat untuk pengembangan selanjutnya.

Jadi, seharusnya masyarakat harus berpikir tentang hal ini juga agar tidak mudah tertipu. Jadi, lebih baik bertransaksi dengan online shop yang memiliki website daripada akun media sosial saja, meskipun banyak follower.

Dengan begini, penipuan di Instagram bisa diminimaliskan. Minimal, kamu sudah tahu kalau Instagram itu bukan untuk jualan, tapi untuk share foto keren.

2

Yuk, Dapetin Konten Keren di Email

Kita pilihkan konten yang pasti kamu suka. Masukkan emailmu