Penggunaan Tinta Merah Berikan Tekanan Berlebihan Pada Anak
Sumber gambar: www.wowkeren.com
in

Penggunaan Tinta Merah Berikan Tekanan Berlebihan Pada Anak

UGET UGET – Guru biasanya akan memberikan koreksi pada hasil tugas maupun ujian siswanya berupa coretan dengan tinta merah. Seperti diketahui, tinta merah dipilih untuk membedakan warna antara coretan dari guru dengan tulisan siswa. Entah mengapa ini sudah menjadi hal yang membudaya, namun ternyata, kebiasaan ini mulai dilarang lho, seperti yang terjadi di banyak sekolah di Australia dan Inggris.

Baik itu tugas, kuis, ulangan harian, ujian tengah semester, ujian akhir, bahkan sampai skripsi pun tak lepas dari coretan merah. Coretan berwarna merah biasanya digunakan untuk menandai mana yang salah atau yang perlu diperbaiki lagi. Biasanya ini sekaligus menunjukkan kesalahan kita.

Namun beberapa waktu terakhir, banyak sekolah di Australia dan Inggris melarang penggunaan tinta merah ini. Wah kenapa ya? Katanya sih ini dapat membahayakan psikologis anak guys. Sebab warna merah mendemotivasi juga menimbulkan ketakutan dan tekanan tersendiri bagi anak.

Nah untuk itu, mereka meminta guru untuk menggunakan warna yang lebih santai, seperti hijau, pink, kuning, ungu, atau biru. Selain itu berkembang pula pembedaan hasil belajar yang akrab dengan sebutan rapor merah dan rapor biru. Rapor merah menunjukkan hasil belajar yang buruk, sedangkan rapor biru sebaliknya menunjukkan hasil yang bagus.

Warna merah menggambarkan nilai yang buruk dan jelek. Sehingga ketika menerima hasil belajar merah, anak takut dan tertekan. Seperti diketahui, warna merah memang identik dengan keberanian dan ketegasan. Sehingga menurut saya, di dalamnya juga terselip sebuah relasi kuasa.

Relasi kuasa ini terjadi antara guru dengan murid, antara dosen dengan mahasiswanya. Kesan berani inilah yang sering kali diartikan secara gamblang dengan sifat galak. Padahal hubungan antara pengajar dengan siswa harusnya dibangun dengan lebih bersahabat.

Hubungan yang bersahabat membuat anak semakin bebas untuk mengekspresikan diri. Sehingga anak tidak malu dan takut. Anak mengakui kesalahannya, namun juga berani untuk berbenah diri. Anak juga tidak memandang ujian sebagai sesuatu yang keramat, mengerikan, dan saklek. Dengan begitu, anak juga akan lebih santai dalam menghadapinya.

Menurut saya, tinta merah ini juga seakan memberikan tuntutan pada anak. Sehingga ketika hasilnya tidak memuaskan, anak merasa bersalah, dan takut untuk memberi tahu hasilnya pada orang tua. Bahkan ketika saya mencoba mencari di google, di sana ada sekian banyak kasus anak bunuh diri karena mendapat nilai yang jelek.

Salah satu kasusnya yang terjadi pada bocah berusia 10 tahun bernama Xiao Huan yang ditemukan tewas gantung diri di kamarnya di kawasan Guangzhou Panyu. Masalahnya karena Xiao Huan hanya mendapatkan nilai 39 untuk ujian Bahasa Inggrisnya. Mengetahui itu, neneknya pun memarahinya.

Jelaslah dia mendapat tekanan yang besar. Padahal nilai tidak menentukan kesuksesan mereka kelak. Sehingga dikotomi merah dan biru ini baik untuk dihapuskan. Lagi pula pendidikan adalah proses belajar, bukan menghakimi. Sehingga nilai bukan akhir dari segalanya.

Sumber gambar: www.wowkeren.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Mendapat Banyak Like Di Media Sosial Sama Menyenangkannya Seperti Mendapatkan Hadiah atau Cokelat

Mendapat Banyak Like Di Media Sosial Sama Menyenangkannya Seperti Mendapatkan Hadiah atau Cokelat

Teman Lama Apakah Kalian Masih Merindukannya

Teman Lama: Apakah Kalian Masih Merindukannya?