Pengertian Peradaban Indonesia di Tengah Modernisasi dan Globalisasi
Sumber gambar: hobahoby.blogspot.co.id
in

Pengertian Peradaban Indonesia di Tengah Modernisasi dan Globalisasi

UGET UGET – Pengertian peradaban memang sulit dipahami. Khususnya di Indonesia. Arus globalisasi yang semakin deras, membuat kita mau tidak mau mengadopsi budaya Barat. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi melesat dengan cepat mengalahkan keberadaan teknologi konvensional. Tanpa disadari globalisasi telah menghancurkan batas geografis negara. Siap tidak siap Indonesia akan mengalami penggerusan budaya lokal mengingat kita adalah bagian dari komunitas global.

Globalisasi tidak bisa dihindarkan karena pada dasarnya proses imitasi selalu kita lakukan untuk berkembang. Contohnya sejak kecil kita diajarkan cara makan yang benar dan kita melakukan imitasi atau meniru perilaku tersebut. Kita berperilaku seperti sekarang ini juga merupakan hasil imitasi dari orang lain. Begitu pula dengan budaya Barat yang terus-menerus kita tiru.

Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi memegang peranan penting dalam globalisasi. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi juga akan berjalan lambat jika masyarakat tidak berpikir secara global dan menutup diri terhadap globalisasi. Sekarang ini, globalisasi seakan-akan sudah menjadi konsumsi nyata kita sehari-hari, mulai dari bangun pagi sampai tidur malam.

Pagi-pagi kita bangun, mandi dengan sabun LUX dan menggunakan pasta gigi Pepsodent, yang keduanya merupakan produk dari Multinational Corporation (MNC) yang bernama Unilever. Lalu kita minum kopi Nescafe yang adalah produk dari MNC Nestle. Pergi ke sekolah atau tempat kerja menggunakan sepeda motor yang tidak lain adalah produk MNC dari Jepang. Lalu bekerja dengan memakai komputer Acer yang merupakan hasil produksi dari MNC Taiwan.

Selain itu cobalah sadari pakaian dan sepatu apa yang kita gunakan. Barangkali kita menggunakan pakaian Next atau Gap asal MNC Inggris dan sepatu Nike (MNC Amerika) atau Adidas (MNC Jerman). Mungkin kita juga suka berbelanja ke Carrefour yang merupakan MNC dari Prancis. Belum lagi jika handphone yang kita pakai adalah Nokia dari MNC Finlandia atau BlackBerry dari Kanada. Bahkan tempe dan tahu pun harus diimpor dari Amerika Serikat. Lalu malamnya, para penggila sepak bola menonton Liga Primer yang ditayangkan MNC televisi ESPN dari Amerika dan masih banyak lagi contoh globalisasi yang ada di sekitar kita (Wibowo, 2010: 15-16).

Aktor utama dalam proses globalisasi masa kini adalah negara-negara maju. Mereka berupaya mengekspor nilai-nilai lokal di negaranya untuk disebarkan ke seluruh dunia sebagai nilai-nilai global. Mereka dapat dengan mudah melakukan itu karena mereka menguasai arus teknologi informasi dan komunikasi lintas batas negara-bangsa. Sebaliknya, pada saat yang sama, negara-negara berkembang tak mampu menyebarkan nilai-nilai lokalnya karena daya kompetitifnya yang rendah. Akibatnya, negara-negara berkembang hanya menjadi penonton bagi masuk dan berkembangnya nilai-nilai negara maju yang dianggap nilai-nilai global ke wilayah negaranya (Mubah, 2011: 1).

Sekarang ini globalisasi sudah merasuk ke seluruh aspek kehidupan manusia. Mulai dari politik, pendidikan, sosial dan budaya, pertahanan dan keamanan, dan masih banyak lagi. Globalisasi dapat mengubah gaya hidup seseorang, dari yang dulunya kreatif dan aktif, sekarang menjadi konsumtif dan pasif. Hal ini dapat berdampak pada karakter negara.

Masyarakat Indonesia kini cenderung menelan mentah-mentah apa yang masuk ke negara kita. Banyak di antara kita yang hanya menikmati kemajuan akibat globalisasi tanpa tahu bahwa kita sedang terlena dan terus-menerus dicekoki budaya Barat. Padahal belum tentu nilai-nilai budaya Barat sesuai dengan ideologi kita, yakni pancasila.

Indonesia dikenal karena budayanya yang beragam. Namun, ironisnya budaya lokal di Indonesia mulai luntur. Padahal justru disitulah keunikan Indonesia. Di era kekinian seperti sekarang ini, ujian terbesar yang dihadapi budaya lokal adalah mempertahankan keberadaannya di tengah terpaan globalisasi. Ketahanan budaya lokal sedang diuji. Masalahnya, ketertarikan terhadap budaya asing jauh lebih tinggi daripada budaya lokal. Masyarakat Indonesia menganggap bahwa budaya luar jauh lebih modern.

Strategi yang paling tepat untuk menguatkan daya tahan budaya lokal adalah dengan menyerap sisi-sisi baik dan unggul dari budaya asing untuk dikombinasikan dengan budaya lokal sehingga ada perpaduan yang tetap mencitrakan budaya lokal (Mubah, 2011:4).

Pada dasarnya, sejak dulu kita sudah benar dengan melakukan akulturasi budaya. Contohnya yaitu arsitektur Masjid Menara Kudus yang merupakan perpaduan nuansa Hindu dan Islam. Sekarang pun banyak desainer Indonesia yang memadukan pakaian atau gaun gaya Barat dengan batik Indonesia. Justru inovasi ini malah mendapat perhatian dari banyak kalangan, baik nasional maupun internasional. Seharusnya hal ini juga dapat dilakukan pada aspek lain. Maka dari itu, akulturasi budaya masih sangat mungkin dilakukan.

Kenyataannya, pada abad ke-16 kolonialisme Barat lama-lama mengubah warna budaya menjadi budaya Barat. Tetapi pada saat itu globalisasi tidak menimbulkan konflik yang berarti. Misalnya pada budaya Jawa yang mewariskan strategi budaya ’ngeli tanpa keli’ yang berarti menghanyut tetapi tidak ikut benar-benar hanyut dalam menghadapi gelombang perubahan zaman (Suryanti, 2007: 3-4)

Berbeda dengan kondisi saat ini. Hal ini dikarenakan modus dan skala globalisasi telah berubah. Sekarang, dunia mengalami revolusi 4T (Technology, Telecomunication, Transportation, Tourism) yang memiliki globalizing force dominan sehingga batas antarwilayah semakin kabur dan berujung pada terciptanya global village seperti yang pernah diprediksikan McLuhan (Suryanti, 2008: 4).

Globalisasi telah membuat masyarakat Indonesia berubah. Dilihat dari perubahan gaya pakaian, pola konsumsi, hubungan sosial, nilai dan norma, bahkan sampai bentuk rumah pun berubah.

Dimulai dari gaya berpakaian yang cenderung mengarah ke westernisasi, yaitu lebih menyukai pakaian yang terbuka. Hal ini tidak hanya terjadi pada orang awam saja, melainkan juga para biarawati dan suster. Dulu mereka memakai semacam jilbab dan pakaian atau terusan serba tertutup. Namun, seiring kemajuan zaman, gaya berpakaian mereka pun lebih terbuka karena lebih nyaman dan leluasa saat dipakai.

Dari segi pola konsumsi, masyarakat Indonesia banyak yang lebih menyukai makanan cepat saji atau junk food karena mengejar keefektifan dan keefisienan yang ditawarkan. Padahal makanan tersebut tidak baik bagi kesehatan karena dapat menyebabkan obesitas dan cepat pikun.

Begitu pula dengan hubungan sosial antar individu yang mulai digantikan atau diwakilkan dengan memanfaatkan kecanggihan telekomunikasi. Antar individu atau kelompok tidak harus bertemu langsung dan kerepotan dalam berkomunikasi. Nilai dan norma dalam kebudayaan lokal juga mulai luntur. Hal ini dikarenakan masyarakat menganggap bahwa upacara ritual yang mahal dan repot sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan yang semakin maju. Selai itu, hal tersebut dianggap membatasi kebebasan berekspresi seseorang.

Sama halnya dengan bentuk rumah. Dulu dikenal konsep rumah tropis karena melihat realitas yang ada, yaitu orang tua memunyai banyak anak dan untuk mencerminkan harta kekayaan yang dimiliki. Namun kondisi sekarang telah berbeda. Konsep rumah minimalis menjadi sangat relevan seiring dengan pola pikir manusia yang berubah akibat globalisasi. Selain itu, juga dikarenakan rumah belum tentu menjadi tempat tinggal tetap karena kita bisa saja menginap di hotel dan apartemen atau bahkan sekadar tidur di mobil.

Masyarakat Indonesia harus melestarikan warisan budaya bangsa, tetapi di sisi lain juga harus membangun kebudayaan nasional yang modern. Menyikapi hal ini, menolak globalisasi bukanlah pilihan tepat karena itu berarti menghambat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Maka dari itu, yang dibutuhkan adalah strategi untuk meningkatkan daya tahan budaya lokal dalam menghadapi globalisasi (Mubah, 2011: 5).

Meningkatkan daya tahan budaya lokal dapat dilakukan dengan jalan, antara lain bersikap selektif terhadap budaya Barat; membangun identitas negara yang kuat pada setiap individu; menciptakan pendidik dan seniman budaya yang berkompeten dan benar-benar menjiwai budayanya; mendaftarkan kebudayaan lokal ke UNESCO; dan menginformasikan kekayaan budaya Indonesia di kancah Internasional.

Pertama, perlu dimulai dari diri pribadi dulu untuk bersikap selektif terhadap nilai-nilai budaya Barat. Di sini, kita jangan selalu berkiblat ke Barat, artinya jangan berpikir bahwa apa yang sedang booming di negara-negara Barat harus selalu kita ikuti. Hindari pemikiran bahwa jika kita tidak mengikuti segala sesuatu yang sedang ngetren di negara Barat berarti kita tidak gaul. Budaya Barat belum tentu modern. Terkadang kita terjebak saat membedakan mana yang disebut globalisasi dan modernisasi.

Modernisasi dalam ilmu sosial merujuk pada sebuah bentuk transformasi dari keadaan yang kurang maju atau kurang berkembang ke arah yang lebih baik dengan harapan akan tercapai kehidupan masyarakat yang lebih maju, berkembang, dan makmur. Modernisasi lebih ke arah mengubah cara berpikir tradisional dan irasional menjadi lebih modern, efisien, praktis, dan rasional.

Sedangkan, globalisasi berhubungan dengan peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antar bangsa dan antar manusia di seluruh dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk interaksi yang lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi semakin sempit (Khoirian, 2011: 2-3). Globalisasi menunjukkan bahwa suatu negara pasti membutuhkan negara lain sehingga tidak mampu hidup sendiri.

Kita tidak akan pernah bisa mengikuti perkembangan teknologi karena teknologi akan terus berkembang dan manusia akan selalu berinovasi. Apa yang dianggap ngetren sekarang mungkin saja dianggap ‘jadul’ untuk beberapa waktu mendatang. Maka dari itu, ada baiknya jika kita tidak terlalu terobsesi apalagi menelan mentah-mentah nilai-nilai budaya Barat.

Kita perlu membangun identitas nasional yang kuat pada setiap individu. Identitas nasional yang kuat akan menimbulkan rasa persatuan dan rasa memiliki satu sama lain yang tinggi, begitu pula terhadap budayanya sehingga setiap orang akan menjaga dan melestarikan kebudayaannya. Usaha yang perlu dilakukan adalah kita harus menanamkan kebudayaan lokal pada anak-anak sejak dini. Dalam hal ini peran pendidik sangat krusial karena bertanggung jawab menanamkan nilai-nilai kearifan lokal.

Seniman budaya dan pendidik yang kompeten dan benar-benar menjiwai budayanya merupakan kunci dari terciptanya anak didik yang mencintai kulturnya. Pemangku budaya tentunya harus mengembangkan kesenian tradisional. Penggalakan pentas-pentas budaya di berbagai wilayah mutlak dilakukan. Penjadwalan rutin kajian budaya dan sarasehan falsafah budaya juga tidak boleh dilupakan (Mubah, 2011: 6). Selain itu kita juga harus memberi ruang bagi para seniman dalam berkarya dan menginspirasi masyarakat untuk mencintai budaya lokal.

Masyarakat Indonesia cenderung malas merawat dan melestarikan sesuatu yang dimilikinya. Dalam hal ini, daya tahan budaya lokal yang rendah mudah digeser dengan masuknya budaya asing. Akibat dari ketidakpedulian itu, lalu banyak negara tetangga yang mengakui budaya kita. Kalau sudah begini, masyarakat Indonesia baru peduli dan berkoar-koar mempertahankan budayanya. Maka dari itu dirasa perlu untuk mendaftarkan budaya kita ke UNESCO untuk menanggulangi sifat ceroboh kita. Pada akhirnya, kita tidak akan bermusuhan dengan negara tetangga dan lebih menjaga kekayaan budaya kita.

Biarpun sekarang Indonesia adalah negara berkembang, tetapi kita juga boleh dan harus memperkenalkan atau menginformasikan kekayaan budaya lokal di kancah Internasional. Hal ini bisa dilakukan dalam berbagai ajang atau pentas bertaraf Internasional, seperti Miss Universe. Tentunya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi bisa dimanfaatkan untuk mempromosikan budaya lokal kita, seperti televisi, radio, dan internet.

Kita harus pintar-pintar dalam menghadapi globalisasi. Jangan sampai kita membiarkan kebudayaan lokal kita hanyut dan mati terseret arus globalisasi. Kobarkan semangat cinta budaya bangsa pada setiap insan. Apa yang sudah kita miliki harus kita pertahankan sampai titik darah penghabisan.

Rujukan

Wibowo, I. (2010). Negara Centeng: Negara dan Saudagar di Era Globalisasi. Yogyakarta: Kanisius
Mubah, S. (2011). Strategi Meningkatkan Daya Tahan Budaya Lokal dalam Menghadapi Arus Globalisasi. Jurnal UNAIR, 24(4). 1-8
Suryanti, E. (2007). Antisipasi Strategis Perang Nilai Budaya Lokal di Area Global. Yogyakarta: Bappeda Provinsi DIY.
Khoirian, W. A. (2011). Eksistensi Pancasila dalam Konteks Modern dan Global Pasca Reformasi. Karya Ilmiah Mahasiswa S1 Sistem Informasi.

Sumber gambar: hobahoby.blogspot.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Comments

comments

Hal-hal yang Enak Dilakukan Saat Hujan

Hal-hal yang Enak Dilakukan Saat Hujan

Bukan Liga Inggris Namanya Kalau Tidak Ada Persaingan Seru dari Tim-tim Peserta

Bukan Liga Inggris Namanya Kalau Tidak Ada Persaingan Seru dari Tim-Tim Peserta