Pemandangan Bukit Bintang Dulu Diabaikan dan Tidak Aman Loh 1
Sumber: Dok. Ugetuget.com
in

Pemandangan Bukit Bintang: Dulu Diabaikan dan Tidak Aman Loh

UGETUGET — Pada suatu sore, dua puluh tahun lalu, sepasang muda-mudi menikmati pemandangan Bukit Bintang. Langit di barat sana tampak seperti kanvas raksasa yang terpulas warna-warna sunset yang lembut.

Mereka duduk sambil berangkulan di atas akar pohon besar di tepi jurang yang curam. Motor mereka diparkir tak jauh dari pohon mushola kecil di sebelah selatan pohon besar itu.

Tak ada tukang parkir atau warung. Tak banyak kendaraan lalu-lalang di Jalan Jogja-Wonosari di belakang mereka. Tak ada anak muda yang ribut jeprat-jepret swafoto.

Hanya ada tanaman semak liar yang tumbuh sampai di dasar dinding mushola. Dinding mushola penuh coretan, kaca-kacanya hilang, dan ruangan di dalam mushola tampak remang.

Bukit Hargo — nama yang dikenal masyarakat sekitar sebelum terkenal sebagai Bukit Bintang — seolah-olah menjadi milik sepasang muda-mudi itu.

Tentu saja tidak benar-benar demikian. Mereka tetap harus waspada: ada anak-anak nakal yang sering mengintip orang pacaran, atau preman setempat yang gemar memalak orang pacaran.

Orang yang melintas dari Jogja ke Wonosari atau sebaliknya lewat jalur itu lebih sering mengabaikan pemandangan Bukit Bintang seperti yang terlihat sekarang.

Biar seribu bintang berkilauan di bawah sana pun orang tak mau berhenti di Bukit Hargo, terutama pada malam hari: kalau lampu merkuri di dekat tikungan mati, ruas jalan itu benar-benar gelap.

Suasana sepi itu sering juga dimanfaatkan para pemuda untuk berkumpul dan minum AO di bawah pohon atau di dekat mushola.

Senja sudah habis. Langit menjadi gelap. Saat itu permulaan musim hujan sehingga mendung tebal mulai berkerumun: bintang-bintang di langit tak kelihatan.

Tapi, bintang-bintang bikinan manusia mulai menyala dan bertebaran di bawah sana. Hampir sama seperti pemandangan Bukit Bintang sekarang, tapi bintangnya lebih sedikit.

Pemandangan Bukit Bintang Dulu Diabaikan dan Tidak Aman Loh 2
Sumber: Dok. Ugetuget.com

Pasangan muda-mudi itu beranjak. Ada cerita di kalangan warga sekitar bahwa pohon besar itu adalah rumah kuntilanak, yang selalu keluar saat malam.

Baru saja mereka akan memutar motor, dua orang pemuda berboncengan motor dengan knalpot blombongan dan tanpa pelat nomor maupun lampu depan menghampiri. Bau naga menguar di udara.

Motor bodong itu berhenti tepat di belakang motor muda-muda itu. Salah seorang turun dan berkata: “Tiket, Mas.”

Malas-malasan si cowok menyerahkan selembar uang seratusan.

“Kurang,” kata yang meminta uang.

Si cowok melotot. Lalu ia menyelipkan tangan ke balik jaket, menyingkapkan sedikit bagian dalam jaketnya, dan, diterangi sinar kuning merkuri, memperlihatkan sebuah gagang pistol.

Kedua pemabuk itu buru-buru meminta maaf, bahkan mengembalikan lembaran uang seratus rupiah itu. Si cowok menolak, lalu mencabut pistol dan menodongkannya berganti-ganti kepada para pemabuk itu.

Peristiwa semacam itu sekarang tidak ada lagi. Pengunjung bisa merasa lebih aman saat menikmati pemandangan Bukit Bintang. Selamat menikmati.

Written by An Ismanto

Sedang berusaha menggeliat lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Comments

comments

uget uget - Bom Nuklir Nasida Ria feat Raisa

Bom Nuklir Nasida Ria feat Raisa: Video Klip Terbaru

ugetuget- Come Back Manis Pelatih Tujuh Puluh Dua Tahun, Opa Heynckes

Come Back Manis Pelatih Tujuh Puluh Dua Tahun, Opa Heynckes